Pengikut

Tampilkan postingan dengan label AISEI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AISEI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 April 2022

MENULIS NOVEL YANG EFEKTIF DAN INSPIRATIF



Ini adalah Bapak Ahmad Fuadi, seorang penulis tempo, novel dll. ada

pun novel-novel karya beliau adalah :



Menulis Novel itu memiliki suatu rahasia tersendiri. Seperti halnya memasak, ada rahasianya. Memasak memerlukan rasa, data dan logika, begitu pula halnya dengan menulis. Jika menulis novel  tanpa rasa maka akan menjadi tulisan ilmiah, makanya menulis novel itu rasa kita harus digunakan, logika kita digunakan dan data juga harus sesuai, agar para pembaca menjadi merasakan apa yang penulis tuliskan.





Menulis itu seperti kita menaiki karpet terbang aladin, gratis, dan melambung tinggi melebihi daya nalar yang sebenarnya. Menulis itu kegiatan yang mudah, karena semuanya bisa dimulai dari apapun yang ada di sekitar kita.

Adakah cara efektif dalam menulis? bagaimana :

  1. Why? luruskan niat : suntikkan stamina yang tidak putus. Alasan dasarnya apa? pondasinya harus kuat dan jelas yaitu niatnya. Karena jika niat kita jelas maka keinginan kita juga kuat. Seperti hadist nabi  yaitu sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat buat orang lain. Dan salah satu cara kita agar bisa bermanfaat oranglain yaitu dengan cara menulis. agar kita bisa berbagi-bagi cerita, berbagi-bagi ilmu
  2. What? mencari tema bahasan yang akan kita tulis, caranya kita masuk ke dalam diri kita lagi, apa yang membuat kita suka, peduli, atau benci terhadap sesuatu yang pernah hati kita rasakan. makanya harus kita kenali, peduli, familiar dan tahu adalah obat kuat menulis. Kenali apa yang ada di dalam hati, 
  3. How? Referensi : buku lain, foto, diari dan lain-lain. Teknik menulis itu banyak sekali caranya salah satunya kelas menulis, buku-buku tentang menulis dan diantara semua cara/referensi menulis adalah riset berupa filling, data. Jadi jika kita sedang menulis tentang pesantren , maka yang harus kita cari adalah buku-buku yang di pesantren. Memang sebagian penulis ada yang berpendapat jika dengan membaca buku orang lain, bisa kita terpengaruh oleh isi buku mereka. Padahal maksud kita hanya untuk referensi saja. Jadi belajar dan berlatih harus yang utama

  4. When? Kapan menulisnya? Cicil setiap hari, sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Man Jadda Wa Jadda


Proses Pasca Menulis

  1. Promosi penulis
  2. interaksi. Harus ada interaksi dengan pembaca
  3. kritik. Harus siap membuka pintu untuk mendapatkan komentar. Karena kritik bisa membuat tulisan lebih baik.
  4. promosi penerbit
Menulislah dengan hati, maka akan sampai ke hati. Man Jadda Wa Jadda



Jumat, 25 Maret 2022

4. Kasih Sayang Anak Terhadap Binatang

 


 KASIH SAYANG ANAK TERHADAP BINATANG

Oleh Lilis Ernawati, M.Pd

 

“Huuuh, lelah sekali, “kataku sambil duduk di lantai dan meluruskan kakiku.

Perjalanan yang sangat melelahkan. Kemarin kami berangkat dari Garut sekitar pukul 16.00 wib dan sampai ke Jakarta pukul 23.00 wib. Karena besok pagi suami harus mengejar apel  pagi pukul 06.00 wib di jalan Merdeka Barat. Selesai suamiku upacara, kemudian menjemput aku dan anak-anak ke Mess Kemhan dan kami berangkat ke Rumpin, kantor suamiku berada.

Ini  adalah kali pertama aku ke Rumpin Bogor, ternyata lumayan jauh. Aku kadang bayangkan, suamiku yang setiap Jumat harus pulang dan Minggu malam berangkat lagi, begitu terus dia jalani. Tak pernah lelah bahkan bosan. Luar biasa. Semoga sehat selalu suamiku sayang.

Sesampai di sana, kami di sambut oleh seekor kucing, dia langsung menatap aku dan anak-anakku bergantian, seakan sedang memperkenalkan diri. Kemudian kucing itu menggosok-gosokkan kepalanya ke kakiku dan anak-anakku.

"Meong, meong, "katanya.

Aku tak mengerti apa yang kucing itu katakan. Tapi aku merasa kucing itu seperti mengucapkan selamat datang.

Anakku langsung menggendongnya, ternyata kucingnya jinak banget. Kucing itu terlihat senang sekali. Kami biarkan dia di ruang tamu, duduk sambil menikmati ademnya AC yang sangat menyejukkan. 

Suamiku menurunkan barang-barang, dan aku langsung menyiapkan makan. Sementara anak-anakku berleha-leha tiduran di lantai melepas lelah.

Kebetulan aku membawa ayam goreng, dan tinggal menghangatkan saja, terus menanak nasi, nyambel. Menu sederhana dan cepat. Selesai kami makan, tulang-tulang ayam dan kaki ayamnya aku kumpukan dan aku suruh De Khansa berikan ke kucing itu dengan  dicampur sedikit nasi. Ternyata, dia lapar banget. Tapi kami heran, kenapa tidak dia habiskan. apa tidak suka?

"Mah, masih ada sisa makanannya, "Kata De Khansa.

"Harusnya jangan banyak-banyak ngasih nasinya, kan sayang kebuang, "kata De Khansa lagi. 

"Mungkin dia sudah kenyang De, nanti juga balik lagi, "ucapku menghibur.

Karena kelelahan kami tidak peduli lagi, yang penting sudah kami siapkan makan. Namun alangkah terkejutnya kami, tak lama setelah itu, dia datang bersama ketiga anaknya dan menyuruh anaknya makan.

Aku terharu banget. Dalam hati, mungkin emak kucing itu sebenarnya belum kenyang,  tapi karena dia sayang anak, makanya dia makan alakadarnya saja, dan sisanya untuk ketiga anaknya. Betapa mulianya hati emak kucing ini. 

Aku langsung membuka lemari, kuambil kepala dan leher ayam, kupotong-potong dan dicampur nasi lagi. Kemudian aku suruh De Khansa memberikannya lagi pada kucing itu.

"De, ini tambahin lagi, kasihan anak-anaknya., "kataku sambil menyerahkan sepiring nasi yang sudah diaduk-aduh dengan tulang leher dan kepala  ayam.

"Sini Mah, "Kata De Khansa semangat. Dia paling senang jika disuruh mengurus dan ngasih makan kucing. Sedangkan kakak-kakaknya maunya mainin dan godain kucing aja.

Kucing itu langsung menggosok-gosokkan kepalanya ke kakiku, dia seperti mengucapkan terima kasih. Kami semua tertawa melihat tingkah kucing itu. Tiba-tiba De Khansa berkata, "kangen sama Si Belang yang di rumah, lagi apa yah dia, "katanya.

Belang adalah kucing liar yang setia pada kami. Cerita awal kami mengenal belang sangat mengenaskan. Kami menemukannya dalam keadaan luka di bagian perutnya. Dia seperti disiram air panas entah air aki mobil. Bagian kulit perutnya melepuh hingga bulu-bulunyapun takada.

Saat itu aku ambil, aku mandikan dan aku obatin setiap hari pagi, siang, sore. Kami beri makan dan tempat tinggal di kardus, yang kami simpan di garasi. Sebenarnya, kami juga dulu sempat kesel sama Si Belang, gara-gara pas abis melahirkan, dia ngotot ingin anaknya disimpen di lemari baju. Aku mengusirnya dan menyimpannya di rumah kosong.

Namun saat aku menemukannya terluka, anak-anaknya tidak ada. Sepertinya dia ngotot ingin masuk ke rumah orang lain dan menyimpan anaknya di sana. Gara-gara keras kepala itu akhirnya dia diguyur pakai air panas oleh orang tersebut kayaknyasih,  dan anaknya dibuang. Kasihan sekali dia, kucing yang ingin mempertahankan hidup anaknya agar terhindar dari dinginnya malam dan binatang buas, harus mengorbankan dirinya disakiti orang dan dipisahkan dari anak-anaknya.

Singkat cerita setelah tiga bulan, lukanya mulai sembuh, bulu-bulunya sudah mulai tumbuh lagi. Kucing ini jadi dekat sekali dengan anak-anak. 

Si Belang, kucing yang gak pernah rewel, dia mau makan apa saja yang kami makan, tahu, tempe, bakwan, apa saja dia mau.

Istimewanya Si Belang itu dia kayak yang mengerti jika kami sedang mengobrol, dia akan memperhatikan wajah kami dan menatapnya. Dan jika De Khansa pergi main dengan teman-temannya, dia akan membuntutinya terus seperti pengawal saja.

Belang kucing pinter, bisa diajak bermain bola, main tali bahkan main petak umpet. saking dekatnya dengan keluargaku, dia tidak pernah malu untuk membuka pintu jika pintu ditutup. Dan dia akan menggedor-gedor pintu kalau dikunci. Awalnya kami takut saat malam-malam ada yang memukul-mukul pintu. ternyata Si Belang, yang memukul-mukul pintu, rupanya dia kedinginan di luar. Walaupun ada kardus tempat dia tidur. Dia ingin tidur di dalam rumah saja. Kalau tidak dibukakan pintunya, dia akan terus memukul-mukul pintu sambil berteriak. Lama-lama dongkol juga dan berisik, jadi terpaksa kami bukakan. Biasanya dia langsung ambil posisi tidur di kesed atau di karpet.

Banyak kisah yang telah belang berikan kepada kami. Suatu hari, saat aku dan anakku terbangun di waktu subuh, kami mendengar Belang seperti sedang berantem, tapi sendiri. Kami pikir Belang sedang latihan berantem, karena dia suka begitu. Tapi apa yang terjadi, saat kami melihatnya keluar, kami melihat Belang sedang berantem dengan seekor ular kecil. Dan alhamdulillah Belang menang. Dan ular itu jadi santapan pagi Si Belang.

Belang benar-benar menjaga rumah kami, coba kalau ular kecil tadi menyusup ke rumah kami dan mengigit kami, apa tidak membahayakan?

Setiap hari Belang selalu nongkrong di depan pintu, jadi jika ada kucing lain yang ingin minta makan, dia suka ngajak berantem dulu.. Dia tidak mau majikannya direbut. Belang mempunyai rasa cemburu yang tinggi, saat De Khansa mengelus kepala kucing lain, dia pasti akan segera menyerang kucing itu dan menyuruhnya pergi. Dia tidak mau kasih sayang kami terbagi kepada kucing lain.

Selain kucing, ada burung Merpati yang betah di rumah kami, padahal rumah majikannya dekat. Ada pula ayam yang senang di rumah kami.

 Lucunya lagi, kalau pagi, siang dan sore hari, binatang-binatang itu berisik minta makan. Mereka seperti tahu jika makan yang sehat adalah 3x sehari. Dan yang membuat aku heran, merngapa mereka seakan tahu jam waktu makan?

Namun kucingpun ada kelemahannya, antara lain. dia tidak mengerti bacaan spanduk di rumahku, padahal yang tertulis adalah Resto tahu Gejrot Ceu Lilis. Tapi yang kucing-kucing tahu rupanya adalah Rumah Makan Kucing sehingga saat mereka lapar, mereka datang ke rumahku. ha...ha...ha...

Aku tak pernah melarang anak-anakku menyukai binatang, kubiarkan mereka berinteraksi dengan binatang, karena menurut mereka binatang adalah teman di saat mereka sendiri. Tapi karena kondisi ekonomi kami yang pas-pasan, kami tidak bisa memberikan makanan lebih selain makanan yang kami makan. Dan alhamdulillahnya setiap binatang liar yang mampir ke rumah kami tidak pernah rewel kami beri makan apa saja.

Saat anak-anakku berteriak, "meng, ... meng, ..., meng,... meng,... meng." Pasti kucing di komplekku yang mendengar suara anak-anakkuku hapal jika De Khansa, Kakak atau Abang akan memberi makan. Biasanya aku suka menyuruh anak-anakku mencampur tulang  ikan dan ayam dengan nasi, sehingga mereka kenyang semua.

Sedangkan jika anak-anakku berteriak, "kur,... kur,...kur,...kur." Maka yang datang itu pasti ayam-ayam dan merpati. Itu biasanya jika ada sisa nasi di rumah. Daripada dibuang ke tempat sampah, yah lebih baik diberikan pada yang lebih membutuhkan.

Malam telah tiba, kulihat kucing-kucing itu tidur di kursi yang ada di pelataran rumah dinas kami. 

"Pah, emang biasanya kucing-kucing itu tidur di sini, "Tanyaku.

"Gakpernah, biasanya cuma lewat doang, "Jawab suamiku.

"Tapi kenapa saat kita datang, dia jadi betah di sini yah, "Tanyaku lagi.

"Enggak tahu juga, mungkin instingnya tahu, jika kita suka ngasih makan kucing, "Kata De Khansa menimpali dari belakang.

Kami biarkan kucing-kucing itu setiap malam tidur di kursi dan kami beri mereka makan alakadarnya juga, sesuai yang aku masak. Alhamdulillah kucingnya tidak rewel.

Setelah dua minggu kami di Bogor, kamipun harus kembali lagi pulang ke Garut. Anak-anak mengelus kepala kucing itu sebagai tanda perpisahan. Dan ternyata,  kini saat kami tidak ada di rumah itu, kucing-kucing itupun tidak tinggal di rumah lagi. Mungkin dia tahu jika tak ada yang akan memberinya makan, karena suamiku lebih sering makan di luar dibandingkan di rumah.

Perjalanan kami pulang ke Garut, alhamdulillah lancar. Sesampainya di rumah yang anakku cari bukan makanan, melainkan Si Belang. Tumben dia tidak ada. Biasanya dia langsung menyambut kami. 

"Meng,... meng,...meng,..., "teriak anak-anakku. Tapi tak datang juga.

Si Belang tidak ada,  sepertinya  saat kami pergi ke Bogor, ada yang mengambil atau membuangnya. Karena aku melihat jumlah kucing di sekitar rumahku tinggal sedikit. Biasanya satpam suka membuang kucing-kucing yang berkeliaran di komplek karena banyak yang merasa risih dan suka bau kotoran kucing.

Si Belang benar-benar tidak ada, anakku yang bontot, De Khansa,  sampai menangisinya sesenggukan. Karena merasa kehilangan. Dia cari-cari hingga keluar kompleks perumahan, ke pasar dan sepanjang jalan raya dekat rumah. namun semuanya nihil.

Padahal dulu, saat kami sekeluarga di rawat di Rumah Sakit Guntur gara-gara terpapar Covid-19, Belang ditinggal hingga dua minggu, tapi dia tetap tidur di dus yang ada di luar dan bermain-main di rumah. 

Kini, semua tinggal kenangan. Hanya photo-photo kenangan Belang saja yang masih banyak tersimpan di album photo  gawai anakku. Semoga Belang ditempat baru tidak kelaparan dan mendapat majikan yang lebih baik.


Rabu, 23 Maret 2022

3. KASIH SAYANG ANAK TERHADAP SESAMA

 


KASIH SAYANG ANAK TERHADAP SESAMA

Oleh Lilis Ernawati

 

Siang ini panas sekali. Seperti biasa sepulang dari  kerjaanku,  aku langsung menjemput anakku yang sekolah di SDIT Persis Tarogong 2. Sambil menunggu anakku keluar kelas, kubuka gawaiku dan kubuka beberapa grup yang sudah numpuk chatannya.

Tiba-tiba suara kecil memanggilku, “Mamah, Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuhu, “jawabku sambil memberikan tanganku untuk dicium sama anakku.

Khansa anakku langsung naik motor di belakang. Kemudian  aku langsung menyalakan motornya. Keluar dari sekolah.  Situasi agak sedikit macet kalau bubaran sekolah atau pas masuk sekolah. Karena sekolah anakku termasuk sekolah favorit di kotaku sehingga banyak sekali muridnya.

Saat mendekati lampu merah, kami terpaksa ikut antrian kendaraan yang lainnya. Aku fokus ke depan. Ternyata anakku sedang memperhatikan dua peminta-minta yang ada di sebelah motorku. Peminta-minta itu adalah seorang wanita muda sekitar 30 tahunan yang sehat dan tidak cacat dengan seorang lelaki berusia 45 tahunan yang terlihat agak rabun.  Kudengar percakapan mereka sekilas.

“Dapat uang berapa Neng, “Tanya lelaki itu.

“Baru 169 Pak, “jawab perempuan mudanya.

Ini hari jumat, sehingga pukul 9.30 wib anakku sudah pulang.  Dalam hatiku berkata,  “Ehm, pantas saja  banyak orang yang mengemis, rupanya penghasilan mereka luar biasa. Dengan waktu 2 jam saja sudah mendapatkan uang segitu, bagaimana jika sampai sore dan tiap hari, penghasilan kamipun kalah oleh mereka.”

Sedang asyik-asyiknya aku melamun, tiba-tiba peminta-minta itu mengulurkan tangannya padaku.

“Maaf dulu bu, “ kataku sambil tersenyum.

Tiba-tiba Khansa bertanya, “Kenapa Mamah gak ngasih?”

Aku tersenyum sambil menjalankan motorku. Setelah agak jauh dari peminta-minta itu akupun menjawab, “Masih banyak yang lebih membutuhkan.”

“Oh, “jawab anakku pendek.

Sesampainya di rumah, aku langsung memasukkan motorku dan tiba-tiba seorang nenek yang sudah renta membawa dagangannya menawarkanku baso dan siomay. Tapi aku masih kenyang. Kusuruh Khansa memberikan uang pada nenek itu.

“Mamah mau beli, “Tanya anakku.

“Tidak Nak, kasihin aja sama nenek itu, bilang buat jajan gitu, “jawabku.

“Mamah kok aneh, yang minta-minta gak dikasih, giliran nenek itu gak minta-minta malah dikasih, “jawab anakku heran.

“Neng  ini mau baso atau siomay, “kata nenek itu.

“Enggak usah nek, uangnya buat nenek aja beli makanan, “jawabku.

“Makasih banyak yah neng, emaktuh bawa barang punya orang. Emak jualin agar bisa makan, “cerita nenek tersebut.

“Memangnya anak-anak nenek kemana, “tanyaku lagi.

“Mereka merantau mencari buat makan, mungkin belum punya uang untuk ngasih emak, “jawab nenek itu dengan sedihnya.

“Nenek udah makan belum, saya ada masak kangkung sama ikan dan tahu tempe, “tanyaku.

“Udah neng, “jawab emak perlahan. Aku tahu Nenek itu menyembunyikan rasa malunya untuk meminta.

“Sebentar Nek, saya bungkusin yah. Tapi dimakan yah. Ini gak pedas kok, “ujarku lagi.

Aku masuk ke dalam rumahku. Kubungkuskan makanan buat nenek penjual baso dan kusertakan juga beberapa bungkus susu dan kopi lalu kumasukkan kedalam kresek hitam.

“Nek, dimakan yah, jangan dibuang, saya cuma punya ini, “kataku.

“Makasih banyak Neng, “jawab nenek itu lagi.

“Semoga amal ibadah Neng diterima di sisi Allah dan diberikan ganjaran yang luar biasa, Amin yra, “kata nenek lagi.

“Amin, makasih doanya Nek, Nenek juga yang sehat, hati-hati di jalannya, “kataku.

“Emak permisi dulu yah Neng, “pamitnya padaku.

“Iya mak, hati-hati yah, “Kataku penuh dengan kekhawatiran. Nenek tua itu berjalan dengan badan yang setengah bungkuk dan tergopoh-gopoh. Badannya yang renta masih harus membawa beban keranjang jualannya yang masih tersisa setengahnya. Dalam hatiku bersyukur, aku masih diberikan kelebihan oleh Allah dan semoga diakhir hayatku tidak sengsara seperti nenek tadi.

Khansa sedari tadi memperhatikan yang aku lakukan. Dia kemudian bertanya, “Kenapa mamah malah lebih memilih nenek itu untuk diberi dibandingkan dengan peminta-minta dijalanan tadi?, “tanyanya.

“De, saat kita ingin memberi seseorang kita harus melihat juga, apakah orang itu pantas kita beri atau tidak, tadi Dede perhatikan  tidak orang yang  di lampu merah,  Bagaimana menurut Dede?, “tanyaku .

“Yang laki-laki sudah tua dan agak rabun sedangkan yang perempuan masih sehat dan kuat, “jawab anakku datar.

“Menurut Dede, siapa yang lebih pantas diberi?. “tanyaku.

“Nenek tadi, “jawab De Khansa lagi

“Kenapa?, “tanyaku lagi.

“Karena nenek tadi sudah lebih tua, tidak ada yang menemani  terus tidak mau meminta-minta, walau sudah tua dia masih mau bekerja mencari nafkah walaupun mungkin untungnya cuma sedikit, “jawab De khansa dengan serius.

“Nah itu maksud Mamah, saat kita memberi membuat orang malas, akan membuat mereka semakin tidak mau berusaha, mereka akan lebih senang meminta dibandingkan bekerja keras mencari nafkah. Tadi Dede dengar kan percakapan pengemis di lampu mereh?, “tanyaku.

“Iya Mah, hebatnya, mereka cuma dua jam sudah mendapatkan uang sampai 169 ribu, kalau gaji Mamah sama pengemis besar siapa?, “Tanya anakku sambil tertawa.

“Penghasilan Mamah sama pengemis yang besar pengemis, tapi  kan Mamah tidak menjual muka Mamah dengan meminta-minta, itukan memalukan dan menurut hadistnya juga tangan di atas lebih baik di banding tangan di bawah, “jawabku panjang lebar.

“Coba nenek tadi, kalau ingin mendapatkan uang sampai seratus ribu saja, misalnya,  dia untung dua ribu dari setiap bungkus basonya, berarti dia harus menjual baso sampai 50 bungkus. Menjual 50 bungkus itu bisa jadi dari pagi hingga sore atau mungkin baru dua hari bisa menjualnya, itupun harus keliling-keliling berjalan kaki, “ujarku menjelaskan.

“Iya yah Mah, berarti kita saat memberi harus melihat-lihat, apakah orang yang diberi pantas untuk kita bagi atau tidak, agar mereka tidak terbiasa mengemis, “kata Khansa yang mulai mengerti maksud kata-kataku.

Aku tersenyum sambil menganggukkan kepalaku.

Sejak saat itu anakku kadang tanpa disuruh lagi sering memberi orang-orang yang dia anggap memang lebih membutuhkan dibandingkan orang yang masih muda, sehat dan kuat. Terutama nenek itu yang hampir setiap hari melewati rumah kami. Setiap beliau lewat, aku tak pernah repot-repot lagi membungkus nasi buat nenek baso. Anakku biasanya sudah sigap memasukkan makanannya, sementara aku lebih senang ngobrol nemani nenek itu ngopi dan istirahat di pelataran rumahku.

Inilah hidup, tak selamanya memberi itu akan bermanfaat buat orang lain. Karena mungkin saja dengan memberi, membuat orang yang sebenarnya masih sanggup bekerja menjadi malas dan tidak mau berusaha. Karena Allah swt mengajarkan kepada kita untuk berusaha dalam mempertahankan hidup, bukan hanya meminta saja.

Seperti inilah aku dalam mengajari anak-anakku, bukan hanya teori saja, akan tetapi dengan praktik dan alasan yang kuat agar mereka tahu siapa dan bagaimana cara kita membantu dan menyayangi serta peduli pada sesama.

 


Sabtu, 12 Maret 2022

2. Kasih Sayang Guru Terhadap Anak Didiknya


Pagi ini langit begitu cerah, Seperti biasa, setelah menyiapkan keperluan anak bungsuku, Khansa, aku langsung menyiapkan perlengkapanku. Aktivitas pagi yang selalu aku lakukan secara terus menerus, dan kadang-kadang membuatku jemu, jika rasa lelah menyergapku.

Aku di rumah bersama Khansa  karena suamiku bekerja di luar kota dan kedua anakku kuliah di luar kota juga, sehingga segala sesuatunya dikerjakan sendiri. melelahkan memang, tapi mau bagaimana lagi, semua memiliki tugas masing-masing.

Kuantar Khansa ke sekolahnya, lalu langsung berangkat ke sekolahku yang jaraknya kurang lebih 30 Km. Sepanjang jalan yang kulalui, kiri kanannya terdapat hamparan sawah yang hijau ... indah sekali. Inilah kampungku dengan panorama yang menyejukkan hati dan membuat betah siapa saja yang mendiaminya. Pemandangan seperti ini merupakan obat lelahku dalam menikmati alur kehidupan takdirku.

Sesampai di sekolah, aku langsung setor muka ke kantor ruang guru dan lanjut masuk ke kelas. Hari ini adalah jadwal kelas dua belas. Ada materi yang ingin aku sampaikan, agar aku bisa tahu kondisi murid-muridku terutama kelas 12 jurusan IPS B yang kebetulan aku sebagai wali kelasnya. 

Kelas 12 B adalah kelas yang luar biasa solid. Dengan KM  yang kadang-kadang agak nyeleneh dan luar biasa. Tapi kekompakan mereka membuat aku  terkagum-kagum, apalagi jika kegiatannya makan-makan. Waah ... luar biasa. Mereka gakakan menolaknya. ha...ha....

"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuhu, "sapaku saat membuka pintu

"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuhu, selamat pagi bu, "jawab anak-anak di kelas.

"Pagi, Baik sebelum pembelajaran dimulai, silakan KM pimpin doa dulu, agar kegiatan ini berjalan dengan lancar dan mendapat keridhoan Illahi robby, "ucapku.

"Siap Bu, mari teman-teman kita mulai berdoa, "kata KM

Setelah selesai berdoa, seperti biasa, aku mengabsen mereka satu persatu. Setelah itu  mengingatkan mereka materi sebelumnya. Dan untuk pertemuan kali ini materinya tentang teks autobiografi.

Setiap anak diminta menuliskan autobiografi dibukunya masing-masing, hal-hal yang paling mengesankan dalam hidupnya, prestasinya dan keluarganya. Setelah selesai, kemudian dipanggil satu demi satu ke depan untuk membacakannya.

Macam-macam kisah mereka, ada yang menyebalkan, ada yang menyedihkan, ada yang memprihatinkan dan ada pula yang lucu. luar biasa. Kami semua kadang tertawa, kadang sedih, kadang kesal, semua rasa berkecamuk sesuai dengan cerita yang mereka kisahkan.

Hingga akhirnya giliran Husna yang bercerita. Dia menceritakan bagaimana bahagia hidupnya, karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya. Diapun berterimakasih pada  Allah, keluarganya, teman-temannya dan kepada aku yang selalu pulang bersamanya. Karena aku melewati jalur rumahnya, kadang aku suka mengajaknya sekalian naik motor.

Diakhir ceritanya dia meminta maaf jika selama ini banyak kesalahan dan kekhilafan. Dan kamipun menyambutnya dengan bahagia. 

Seperti biasa saat pulang sekolah aku ajak Husna naik motorku.

"Husna, ayo ikut Ibu, "ajakku.

"Iya bu, maaf yah bu merepotkan terus, "katanya. Sepanjang jalan kami ngerumpi banyak hal. Hingga tak terasa, sudah sampai di depan gang menuju rumahnya.

Sebelum turun dia berkata, "Ibu nanti hari sabtu kita botram yah di rumah Husna, "ajaknya.

"Inshaallah, semoga tidak ada halangan, "jawabku sambil tersenyum.

"Hati-hati ibu di jalannya, "kata Husna.

"Makasih sayang, kamu juga jaga diri baik-baik yah,  "ucapku.

Sabtupun tiba, hari ini aku ke sekolah membawa Khansa karena kalau sabtu dia libur sekolah. Aku ada jadwal di kelas 10.   Setelah pembelajaran selesai, aku mengajak beberapa guru serta  teman-teman sekelas Husna. Kami naik motor ke rumah Husna. Sesampai di sana ternyata sudah disiapkan segala sesuatunya sama Ibunya.

Kemudian kami berpencar,  ada yang memancing dan  ada pula yang mengambil lalab di kebun orangtua Husna. Pokoknya hari ini benar-benar menjajah kolam dan kebun orangtua Husna. Akupun ikut menangkap ikan. asyik sekali. Tak sengaja aku melihat buah nangka matang. Aku teriak, "Husna, ... Husna, ... ada nangka mateng, ibu mau dong, "pintaku sambil tertawa.

"Iya bu, tenang. Nanti suruh Solihin naik pohonnya bu, "jawab Husna.

"Solihin ambil nangka, " teriak Husna pada Solihin, teman sekelasnya.

Setelah semua siap dan ikanpun sudah digoreng, kamipun makan bersama. Enak sekali, aku sampai nambah ha...ha ... ha ...

Saat hendak pulang aku minta bibit buah naga, dan Husna memotongkannya 3 ruas. Saat mau pulang, pohon itu hampir ketinggalan, akan tetapi Husna menyusul aku yang sudah mau naik motor.

"Ibu, Ibu,... ini pohon naganya ketinggalan, "teriak Husna sambil berlari mengejarku dan menyerahkan pohon naga serta ikan dan nangka yang telah disiapkan orangtuanya.

Hari ini kenyang sekali, banyak cerita dan tawa yang kami lepaskan saat di sawah tadi. Luar biasa, baik sekali orangtua Husna menerimaku dan guru-guru lainnya serta teman-teman Husna.

Tak pernah kusangka, jika itu adalah kenangan terakhir melihat Husna berlari, tertawa dan bercanda, sebelum Hari Rabu minggu selanjutnya tiba. 

Saat itu aku sedang berada di sekolah satunya lagi. Kebetulan hari itu aku mengenakan pakaian olahraga lengkap, karena hari ini jadwal guru-guru senam. Setelah senam, kulihat gawaiku, ada panggilan hingga 10x panggilan dari kepala sekolahku. Ada apa gerangan, sampai-sampai kepala sekolahku memanggil 10x. Kutelepon ulang. Dan apa yang kudengar, membuat badanku, lemas sekali.

Husna kecelakaan, ada mobil yang mengangkut kayu dan kayunya jatuh menimpa pelipisnya. Saat itu Husna dan pamannya naik motor di belakang mobil kayu itu. Saat kayu mulai jatuh, pamannya sempat menangkisnya dangan tangan kanannya, hingga pamannya mengalami cedera patah tulang kanan. Namun sayang, kayu itu terus melesat dan menimpa pelipis Husna, hingga Husna terjengkang dan kepalanya terbentur aspal. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Tak terasa air mataku menetes. Kusegera menjemput anakku kesekolahnya, dan mohon ijin, lalu ke RSUD Garut untuk melihat kondisi Husna. 

Sesampai di sana, ada bapak Husna, kepala sekolah, beberapa guru dan teman Husna. 

 "Apakah Husna muntah,  "tanyaku kepada yang ada di ruangan.

"Iya, cukup banyak, "kata kepala sekolah. 

Badanku lemas, berarti dia geger otak. Itulah yang aku tahu dan aku baca, jika seseorang terbentur kepalanya sampai muntah, berarti berbahaya dan geger otak. 

"Lalu bagaimana kata dokter, "tanyaku lagi.

"RSUD Garut tidak sanggup menanganinya, karena kurangnya peralatan di sini "jawab Bapak Husna.

"Yaudah, ayo Pak, kita tak usah buang-buang waktu, langsung ke Bandung, "kataku.

Kutitip anakku pada salah satu muridku di situ. Dan aku langsung menuju ruangan dokter mohon penjelasan petunjuk dan bantuan agar disegerakan. 

"Ijin dok, mohon informasinya, sebenarnya kondisi anak saya bagaimana, "tanyaku.

"Maaf bu, karena peralatan di RSUD tidak memungkinkan sebaiknya dibawa ke Bandung, akan tetapi terus terang saja, jika kondisi pasien sangat kritis dan butuh penanganan cepat, jikalau sampai terjadi sesuatu dijalan, yah kami juga mohon maaf, sekarang kita berdoa saja, semoga masih ada harapan, "kata dokter.

"Baik dok, mohon bantuan secepatnya untuk surat-surat dan ambulannya, "ucapku.sambil berpamitan.

Dan alhamdulillah, ambulanpun telah siap. Pasien dimasukkan ke ambulan ditemani satu suster dan bapaknya Husna. Aku dan anakku masuk mobil Avanza bersama guru-guru lain yang ikut serta sebanyak 7 orang.

Sepanjang jalan, Husna menggunakan alat bantu kehidung mulut dan kateter. Tadi dokter sempat bilang, ini hanya untuk menghilangkan rasa penasaran, karena beliau tahu, jika kecil kemungkinan bisa selamat.

Sampailah kami ke Bandung. Aku titipkan anakku di guru lain, karena aku yang membawa Husna ke ruang IGD. Orangtuanya tak kuat melihat anaknya seperti itu. Terpaksa aku yang menungguinya di dalam ruangan dan mengurus surat-surat lainnya. Aku tak pernah berpikir dia adalah anak orang lain, dan aku hanya sebagai wali kelasnya saja. Yang aku pikir hanya kasih sayangku pada murid-muridku sudah seperti ke anakku sendiri.

Saat magrib tiba, dokter memanggilku dan menceritakan jalan terbaiknya. Aku tidak bisa menyetujuinya begitu saja, karena ada keluarganya yang lebih berhak. Setelah perbincangan itu, akupun keluar IGD dan melaksanakan sholat maghrib sekaligus isya, karena lokasi mesjid yang cukup jauh. Setelah sholat aku kembali lagi ke depan ruang IGD, di sana keluarga Husna sudah berkumpul bersama guru-guru sambil mengobrol. Kemudian aku   ceritakan hal terbaik yang bisa diambil demi kebaikan husna.

Orangtua Husna hanya diam saja. Banyak luka yang beliau pendam. Namun tak terungkapkan. Ternyata Husna geger otak, ada pendarahan diotaknya dan harus dibuka tengkorak kepalanya.

Orangtua Husna akhirnya bicara setelah menelepon semua saudara-saudaranya, jika Husna takakan dibuka tengkorak kepalanya. Mereka pasrah. Jika memang Husna takbisa ditolong, mungkin itu yang terbaik.

Aku kembali menuju ruang IGD dan menghadap dokter, kemudia aku ceritakan keputusan keluarganya Husna. Dokterpun pasrah. Aku takbisa berkata apa-apa selain berdoa dan terus berusaha untuk memberi semangat mereke agar bisa tabah. Namun walaupun demikian, dokter meminta agar Husna dirawat dulu dan dilihat perkembangannya dalam beberapa hari ke depan.

Setelah keputusan itu, kami para guru pulang, sedangkan orangtua Husna kami tinggal bersama beberapa sanak saudaranya yang telah datang dan menemaninya.

Perjalanan kami pulang, penuh dengan kesedihan. Karena kami tahu jika Husna memiliki kesempatan tipis untuk bertahan. Alhamdulillah kamipun bisa sampai rumah dengan selamat pukul 02.00 WIB dinihari.

Beberapa hari kemudian, kami mendengar kabar, jika Husna dibawa pulang karena orangtua Husna merasa tidak ada perubahan saat Husna dirawat di RS Bandung. Aku sangat menyesal sebenarnya. Namun akupun takbisa berbuat apa-apa karena memang operasi itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan resiko keberhasilannyapun fifty fifty. Kalaupun berhasil, maka Husna bisa normal kembali dan kalaupun tidak, maka nyawa taruhannya.

Benar saja apa yang dokter katakan. 3 hari setelah Husna dibawa pulang, Husna menghembuskan nafas terakhirnya. Untungnya aku sempat menengoknya, saat Husna di rumah. 

Itulah kenangan terakhirku bersama, anak didikku Husna. tak kusangka, ajakannya makan-makan bersama di rumahnya adalah pertemuan terakhir kali, dan permohonan maafnya dipembelajaranku itu adalah permohonan terakhirnya sebelum meninggalkan kami.  Selamat jalan Husna, semoga kamu tenang di surganya, Amin yra. Dan pohon buah naga, hingga kini tumbuh subur dan berbuah lebat di depan rumahku, dan sudah kusebar kesemua teman yang berkunjung ke rumahku.

Jumat, 11 Maret 2022

AISEI SHARING SESSION KNOW MORE ABOUT EDUCATION SYSTEM IN INDIA

 


Pertemuan kali ini dibuka oleh Ibu Dita yang menjelaskan tentang AISEI. Untuk selanjutnya Ibu Kapri mempersilakan Pak Rafi yang akan membahas tentang India.



Ini adalah sekilas tentang  profil Mr Ravi yang akan memperkenalkan India kepada kita.  Jadi Pak Ravi akan memperkenalkan Perkembangan pendidikan India pada saat ini.


Inilah profil pendidikan India saat ini.



Orang Indonesia, sebagian besar mengenal India karena menyukai film-filmnya dan artis-artisnya. Namun jarang diantara mereka yang mengenal India dari pendidikannya. padahal India dan Indonesia telah bekerjasama dengan Indonesia sejak dahulu kala. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya dosen Indonesia yang dulu menuntut ilmu di India dan akhirnya mendirikan Universitas Sriwijaya di Palembang.

Selanjutnya dimanakah India itu berada? India sebenarnya luas sekali. Namun karena berada di Asia sehingga terlihat biasa saja



Bagaimana kondisi negara India?



India memiliki negara luas seperti Indonesia, dengan menggunakan Bahasa sehari-hari Bahasa Inggris, walaupun setiap daerah memiliki bahasa daerah masing-masing. 
Indiapun memiliki daerah seperti Bali yaitu namanya Banglor dan Indiapun memiliki kota Farmasi terlengkap yaitu di Cene. Di India juga ada daerah bersalju .
Jarak dari Sabang ke India hanya 150km. Jumlah penduduk India 5x lebih banyak dibandingkan dengan Indonesia.

Berikut ini adalah sistem pendidikan di India yaitu berikut ini:


  1. Ancient India : sistem pendidikan India di awal
  • Gurukul system yaitu sistem pembelajaran dimana peserta didik datang ke rumah gurunya, kemudian dididik semua ilmu hingga pintar. Peserta didik sebelumnya diseleksi, sesuai keputusan gurunya diterima atau tidaknya. Semua peserta didik menurut apapun yang diperintahkan gurunya. mereka belajar di alam terbuka, di bawah pohon dan belajar tentang semua hal yang berkaitan dengan alam dan keilmuan. Semua peserta didik tinggal bersama guru, dan mereka membantu semua pekerjaan gurunya. Setelah dirasa mapan, mereka baru dianggap lulus. Ini adalah sistem pendidikan India jaman dulu. Para pelajar itu akan membayar sekali selama pendidikan sebagai ucapan terimakasih kepada guru, yang disebut Guru Daksina.

Dan berikut adalah universitas pertama di  dunia berada di India


Dan inilah para lulusan Universitas Taksila yang merupakan para ahli dan penemu


2. Medieval Period (British Colonization)


Saat India menjadi jajahan Inggris, maka semua orangnya harus belajar bahasa Inggris. Dan yang mereka ajarkan adalah Saint, Matematika dan agama yang sebelumnya tidak ada. 

Dan Inilah sistem pendidikan di India, sama seperti di Indonesia yang dimulai dari kelas bawah/dasar yaitu Paud/TK dilanjut SD, SMP dan SMA.


India terdiri dari berbagai bahasa daerah yang berbeda-beda, akan tetapi mereka tetap menggunakan Bahasa nasionalnya Bahasa Inddris. Namun kemampuan berbahasa antara India dan Indonesia sangat jauh berbeda. Karena India lebih mengutamakan kemampuan berbahasanya, sedangkan Indonesia lebih diutamakan grammernya.


Dan berikut adalah sekolah perguruan tinggi di India.


3. Post Independence



India merdeka tahun 1947 sedangkan Indonesia merdeka tahun 1945. India memiliki budaya yang hampir sama dengan Indonesia. Mulai dari budaya, tempat wisata, makanan dan keseniannya.  
India memiliki 40rb universitas, sedangkan Indonesia memiliki 4rb universitas.
Di India semua warganya bisa mengambi, S1, S2 dan S3 sekaligus dalam jangka waktu  lima tahun, Biaya kuliah di India itu paling mahal sekitar 12 hingga 25jt/tahun. 

Di India biaya hidup mahasiswa perbulan cukup dengan Rp 500rb/1jt/bulan termasuk tempat tinggal dan makan. Selain itu harga buku di India sangat murah di bandingkan di Indonesia. 
Selanjutnya, para mahasiswa saat menempuh pendidikan di India, mereka sudah dijamin bisa magang dan bekerja di perusahaan-perusahaan sehingga tingkat pengangguran di sana rendah. Dan tingkat pendidikan mereka tinggi. 
Sistem pembelajaran di India sama seperti di Indonesia, pembelajaran bulan Juni/Juli dan diakhiri bulan maret/april.


Di India sudah banyak penerima nobel, sedangkan di Indonesia belum ada yang menerima nobel. Hal ini karena kemajuan pendidikan India lebih cepat di bandingkan Indonesia.


Kesenian dan kebudayaan di India juga hampir sama. Banyak ragam disetiap daerahnya. Di India penduduk beragama Islam adalah kedua terbesar dibandingkan agama lain.

India sebagian besar vegetarian  dan harga makanannya lebih murah dibandingkan di Indonesia. Begitupun halnya dengan sayuran. Harga sayuran di sana sangat murah sekali dibandingkan di Indonesia karena banyak pertanian dan pemakainya sehingga harganya murah.

Selanjutnya ada pemaparan Pak Edwin dari Epson yang akan memperkenalkan  proyektor terbaru dengan fasilitas yang luar biasa membantu kegiatan pembelajaran.











Proses kerjanya dari lampu cahaya proyektor yang akan mengatur cahaya merah, hijau dan biru. sifat kerjanya pengiris warna. Proyektor ini tidak berisik oleh kipas dan sebenarnya, proses pengiriman warnanya berurutan.



Pastikan bahwa menggunakan 3lcd karena banyak manfaatnya banyak, pencerahan carhayanya sangat jelas dan terang, hemat energi,  dan tidak ada efek pelangi.


Proyektor ini memiliki garansi selama tiga tahun dan service centernya tersebar di seluruh Indonesia.





Minggu, 06 Maret 2022

1. Kasih Sayang Orangtua Terhadap Anak

                                                Takkan Kubiarkan Kau Terluka

Takkan Kubiarkan Kau Terluka

 

Hari ini cuaca panas sekali. Sampai-sampai jemuran di depan rumah Ibu Anipun  kering semua. Padahal belum lama Ibu Ani menjemurnya. Ibu Ani angkatin pakaian satu demi satu, kemudian dibawanya ke kamar anaknya, Aisyah. Karena di kamar Aisyah biasanya Ibu Ani menyetrika. Kamar Aisyah memiliki pentilasi yang besar, sehingga saat Ibu Ani menyetrika, bisa dibuka jendela lebar-lebar agar angin bisa masuk dan udara tidak terlalu panas.

 

Tak sengaja Ibu Ani melirik meja belajar anaknya. Tak biasanya buku diary Aisyah tak dibereskan, selama ini kan dia  simpan ditempat tersembunyi. Ibu Ani penasaran. Karena selama ini tak pernah dia tahu keluh kesah anaknya. Aisyah adalah  gadis periang. Tak pernah sekalipun dia ceritakan kesulitannya. Aisyah memang pintar di sekolah dan pandai bergaul pula. Namun aku tahu di lubuk hatinya ada luka yang begitu dalam. Sejak bapaknya meninggalkan keluarga ini, dia tak pernah bercerita tentang kesulitannya. Uang jajan sekolahpun tak pernah dia minta, sedikasihnya saja olehnya.

 

Ibu Ani membuka buku itu, dan membaca satu demi satu curahan hati anaknya, Aisyah. Tak terasa air mata Ibu Ani meleleh membasahi pipi. Ibu Ani sudah menyangka tentang hal ini. Namun, selagi Aisyah takmau bercerita,Ibu Ani tak mau menanyakannya. Takut menambah luka hati anaknya. Di halaman terakhir tertanggal 30 November 2021, ada keinginan Aisyah untuk ikut kursus komputer mengisi liburan semesterannya. Namun dia tak berani mengatakan pada ibunya. Mungkin karena biayanya cukup besar.

 

Ibu Ani metutup buku itu, dan merapikan kembali seperti semula, agar Aisyah tak curiga. Lalu menyetrika pakaian kering itu dengan segera, agar bisa keluar dari kamar Aisyah sebelum anaknya pulang sekolah. Ibu Ani menengok jam di dinding, menunjukkan pukul 13.00 WIB. Sebentar lagi Aisyah pulang. Biasanya dia sampai rumah pukul 14.00 WIB jika tidak ada kegiatan ekschool di sekolahnya atau di Kabupaten.

 

Waktu sudah pukul 15.00 WIB Aisyah belum pulang juga. Ibu Ani mulai khawatir. HPnyapun tak aktif. "Kemana kamu Aisyah? kok gak ngabarin Ibu Nak?,  "gumam Ibu Ani dalam hati. Adik Aisyah, Maulana sudah terbangun dari tidurnya. Dia sudah terjadwal untuk tidur siang, dan nanti ba'da ashar dia akan berangkat mengaji hingga magrib.

 

Ibu Ani siapkan makan untuk Maulana. Namun sebelumnya, maulana disuruh mandi dulu agar segar saat belajar ngaji di madrasahnya. Ibu Ani mengecek perlengkapan ngaji di tas ngaji Maulana, mulai alat tulis, buku dan Al-Qur'an. Setelah semuanya lengkap, Ibu Ani mengambilkan baju koko di lemari dan menyiapkan  makan sore untuk anaknya. Maulana  lahap sekali makannya. Ibu Anipun bahagia melihatnya karena anak-anak takada yang rewel dan manja.

"Maulana berangkat dulu bu, Assalamualaikum, "ucapnya sambil mencium tangan Ibu Ani

"Waalaikumsalam warohmatullahiwabarokatuhu, hati-hati di jalannya, belajar yang benar, "  jawab Ibu Ani.

 

Ibu Ani  langsung ke dapur dan menyiapkan adonan es lilin serta comro untuk besok pagi dijual. Inilah pekerjaan Ibu Ani kini,  setelah ditinggalkan suaminya yang pergi dengan wanita pilihannya. Dia tidak mau menceraikan Ibu Ani, akan tetapi tidak juga menafkahi hidupnya. Status Ibu Ani digantung, karena janda bukan bersuamipun tidak. "Terserahlah, biar dia yang mempertanggungjawabkannya di hadapan Illahi Robby, "gumam ibu Ani dalam hati.

 

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB, kulihat dari kejauhan anakku berjalan dengan senyum tetap mengembang sambil menyapa orang di sepanjang jalan yang dilewatinya. Begitulah dia, sehingga banyak orang yang menyayanginya.

 

"Assalamualaikum, Ibu,  "ucap Aisyah dengan nyaring.

"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuhu, kenceng-kenceng amat ngucap salamnya, emangnya ibu udah tuli apa?, "Tanya Ibu sambil bercanda.

Aisyah mencium tangan Ibu, sambil tertawa.

"Bukan begitu Ibu, Aisyah lagi seneng banget. Maaf yah tadi gak ngabarin. Baterai HP nya low bath, terus Aish harus rapat di Kwarcab. Aisyah nanti malam berangkat ke Bandung bersama Sukimto, karena harus menghadiri kegiatan Musda Jabar yang akan dilaksanakan selama 10 hari."

 

Ibu Ani bingung sendiri ,  sambil  langsung diam, dia  berpikir, mau berapa dia  memberinya bekal nanti. Karena  di saku cuma ada uang Rp 20.000,-, cukup untuk apa? sementara Aisyah  di sana 10 hari.

 

"Ibu gakusah pusing-pusing, tenang aja. Semua biaya ditanggung dari sana. Dan ini, Aish ada uang Rp 500.000,- untuk uang jajan di kasih sama Pak Bupati Kuningan, "kata Aisyah yang tahu jika ibunya sedih  karena pasti tidak punya uang untuk bekalnya.

 

"Alhamdulillah, iya Aish, ibu bingung gakpunya uang untuk kamu jajan di sana, "kata Ibu.

"Ibu, Aish ambil Rp 100.000,- aja. sisanya simpanin yah. Aish ingin kursus komputer,  "kata Aish lagi.

"Nanti kalau kamu kurang bekal gimana, kan 10 hari Ish?, "tanya ibu.

"Bu, di sana itu makanan melimpah, walaupun kegiatan pramuka menunya mewah, ada snack, minuman dan lain-lain. Jadi untuk  apa Aish bawa uang banyak-banyak, "kata Aish lagi.

"Aish minta buat ongkos aja, takut kurang, "ucapnya menambahkan.

 

Ibu Ani bersyukur memiliki anak yang luar biasa.” Seandainya Aisyah  rapat di Bandung, berarti uang jajan harian Aish bisa aku tabung. Aku harus usahakan bisa memenuhi kebutuhan Aish kursus komputer, "gumam Ibu Ani dalam hati.

 

"Aish makan dulu, "perintah Ibu

"udah kenyang bu, kan tadi makan segala dikasih dari sana, "jawab Aish sambil membereskan pakaiannya ke koper serta perlengkapan lainnya. Dia sudah terbiasa kegiatan seperti ini sehingga Ibu Ani tak perlu membantunya menyiapkan keperluannya lagi. 

"Kamu berangkat pukul berapa sama sukimto,"Tanya Ibu. Sukimto adalah temannya di pramuka, walaupun beda sekolah akan tetapi persahabatan mereka sudah terjalin sejak SMP.

 

Malampun tiba, sukimto datang ke rumah menjemput Aish menggunakan mobil travel yang sudah dipesankan oleh pihak kabupaten. Mereka tinggal berangkat saja, sehingga Ibu Ani tidak merasa khawatir.

 

Selama Aish pergi, Ibu  terus bersemangat membuat es lilin yang laku banget karena hari sangat panas.  Ibu membuat berbagai rasa, mulai kacang hijau, nangka, susu, manga, coklat  dan stroberi. Takada rasa lelah di hatinya. Alhamdulillah selama  10 hari Ibu Ani bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 2 jtan. Lumayanlah bisa untuk bayaran  jika Aish kursus komputer. 

 

Hari ulang tahunku  tak pernah kuingat. Terlalu banyak problematika kehidupan yang aku alami, sehingga aku lupa kapan tanggal bahagia dan kapan tanggal menyedihkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Aku masih terjaga karena Aish sudah bilang jika dia akan pulang hari ini. Kusiapkan makan malam alakadarnya saja, walau hanya tempe oreg basah yang menggunakan kecap dan kerupuk, Aisyah pasti tetap tersenyum.

 

Tak lama setelah itu, ada mobil berhenti di depan rumahku. Yah, … Aisyah telah sampai rumah. Aku Bahagia sekali.

 

"Assalamualaikum Bu, "ucap Aish.

"Waalaikumsalam warohmatullohi wabarokatuhu, "jawabku.

"Ibu belum tidur? kok masih membungkusin es sih bu, bukannya istirahat, nanti Ibu sakit lagi, "ucap Aish sedikit mengomel.

“Tenang saja, Cuma gitu-gitu doing kok, “jawab Ibu

“Barakallah Fii Umrik yah Ibu, sehat selalu, bahagia selalu dan tetap menjadi Ibu yang baik untuk aku dan maulana, “kata Aisyah

 

“Aisyah tak tahu, jika kesibukanku inilah yang membuatku melupakan semua kesedihanku dan luka hatiku yang telah dikhianati oleh bapaknya. Seandainya tidak banyak yang aku kerjakan, mungkin aku akan kepikiran terus dan sakit, gumam Ibu.

 

"Bu, ini ada uang Rp 600.000,-, yang Rp 100,000,- uang bekal kemarin dan yang Rp 500.000,- uang pemberian dari provinsi, tuh kan Aish juga bilang apa, pasti uangnya utuh. Karena makanan di sana itu berlimpah bu. Kecuali kalau kita mau beli-beli asesoris, nah baru butuh uang, "kata Aish lagi.

 

"Iya ..., iya ..., rejeki anak soleh. Uangnya mau buat apa?, "tanya Ibu pura-pura tak tahu.

"Aish ingin kursus komputer bu, boleh yah?, "tanyanya.

"Boleh, tapi kegiatanmu bagaimana?, "tanya Ibu

"Aish akan mengatur waktu sebaik mungkin. Tapi Aish pasti pulang sore, gakpapa yah bu gakbisa membantu pekerjaan Ibu?,"tanya Aish.

"Gakpapa, kamu bawa bekal untuk makan siang biar gak kelaparan nantinya, "kata Ibu.

"Ok bu,  Aish mau bersih-bersih dulu bu, terus sholat, baru tidur, Ibu istirahat udah malam, "kata Aish.

"Sebentar, Ibu masukin es dulu ke frezer, "jawabku sambil memasuk-masukkan es ke frezer untuk dijual besok pagi.

 

Pagipun tiba, Aish dan Maulana bangun pagi-pagi sekali. Maulana langsung ke kakaknya merengek.

"Kakak bawa oleh-oleh apa, "tanya Maulana polos.

"Ada, banyak, "kata Aish.

Aish mengeluarkan plastik hitam, ada susu, permen dan kue-kue.

"Kamu beli Ish, "Tanya Ibu

"Tidak Bu, setiap pagi, siang dan sore selalu ada susu atau teh kotak, nah Aish ambil susu, sehari dapat 3, jadi ada 30 susu. Lalu ada permen juga, tapi sama Aish gak dimakan, Aish kumpulin, ada snack kering juga, Aish kumpulin, jadinya kan ada oleh-oleh buat adik kakak tersayang, "kata Aish sambil memeluk adiknya yang kegirangan karena mendapat oleh-oleh yang banyak.

 

"Ibu ke kamar yah?, “ucap Ibu sambil pamitan dan pergi tidur, karena kepalanya berat sekali. Pagi harinya saat mereka sedang sarapan pagi,  tiba-tiba Ibu mengeluarkan dompetnya. Dan segepok uang diserahkan kepada Aisyah.

 

“Nak, ini ada sedikit uang buat kamu membeli laptop agar kamu bisa belajar komputernya tidak tanggung-tanggung, "kata Ibu sambil terbatuk-batuk. Selama ini ibu sering tidur malam karena permintaan es lilin dan comro sangat banyak, sehingga dia kurang tidur. 

 

Baginya kebahagiaan anaknya lebih utama dari kesehatannya. Dia tak mau anaknya merasakan kepedihan yang dia rasakan. Dia ingin anaknya bisa hidup lebih baik lagi, tidak sepertinya yang hanya bisa membuat makanan alakadarnya saja. Bagi Ibu rasa lelah yang dia rasakan, takada artinya dibandingkan rasa sakit hati atas pengkhianatan yang suaminya lakukan. Biarlah cerita luka ini hanya menjadi onggokan sampah di hatinya. Dia ingin anak-anaknya sekolah tinggi dan bahagia.

 

Aisyah senang sekali, karena hari ini sudah bisa membayar uang kursus computer dan membeli laptop yang baru. Begitupun Ibu, walaupun harus lelah membanting tulang. Namun saat melihat anaknya bahagia, diapun bahagia.


fiorentia viviane lesmana