Pengikut
Senin, 25 April 2022
TANTANGAN MENULIS BULAN MEI
Minggu, 24 April 2022
MENULIS NOVEL YANG EFEKTIF DAN INSPIRATIF
Ini adalah Bapak Ahmad Fuadi, seorang penulis tempo, novel dll. ada
pun novel-novel karya beliau adalah :
Menulis Novel itu memiliki suatu rahasia tersendiri. Seperti halnya memasak, ada rahasianya. Memasak memerlukan rasa, data dan logika, begitu pula halnya dengan menulis. Jika menulis novel tanpa rasa maka akan menjadi tulisan ilmiah, makanya menulis novel itu rasa kita harus digunakan, logika kita digunakan dan data juga harus sesuai, agar para pembaca menjadi merasakan apa yang penulis tuliskan.
Menulis itu seperti kita menaiki karpet terbang aladin, gratis, dan melambung tinggi melebihi daya nalar yang sebenarnya. Menulis itu kegiatan yang mudah, karena semuanya bisa dimulai dari apapun yang ada di sekitar kita.
Adakah cara efektif dalam menulis? bagaimana :
- Why? luruskan niat : suntikkan stamina yang tidak putus. Alasan dasarnya apa? pondasinya harus kuat dan jelas yaitu niatnya. Karena jika niat kita jelas maka keinginan kita juga kuat. Seperti hadist nabi yaitu sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bermanfaat buat orang lain. Dan salah satu cara kita agar bisa bermanfaat oranglain yaitu dengan cara menulis. agar kita bisa berbagi-bagi cerita, berbagi-bagi ilmu
- What? mencari tema bahasan yang akan kita tulis, caranya kita masuk ke dalam diri kita lagi, apa yang membuat kita suka, peduli, atau benci terhadap sesuatu yang pernah hati kita rasakan. makanya harus kita kenali, peduli, familiar dan tahu adalah obat kuat menulis. Kenali apa yang ada di dalam hati,
- How? Referensi : buku lain, foto, diari dan lain-lain. Teknik menulis itu banyak sekali caranya salah satunya kelas menulis, buku-buku tentang menulis dan diantara semua cara/referensi menulis adalah riset berupa filling, data. Jadi jika kita sedang menulis tentang pesantren , maka yang harus kita cari adalah buku-buku yang di pesantren. Memang sebagian penulis ada yang berpendapat jika dengan membaca buku orang lain, bisa kita terpengaruh oleh isi buku mereka. Padahal maksud kita hanya untuk referensi saja. Jadi belajar dan berlatih harus yang utama
- When? Kapan menulisnya? Cicil setiap hari, sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Man Jadda Wa Jadda
Proses Pasca Menulis
- Promosi penulis
- interaksi. Harus ada interaksi dengan pembaca
- kritik. Harus siap membuka pintu untuk mendapatkan komentar. Karena kritik bisa membuat tulisan lebih baik.
- promosi penerbit
Jumat, 25 Maret 2022
4. Kasih Sayang Anak Terhadap Binatang
KASIH SAYANG ANAK TERHADAP BINATANG
Oleh Lilis Ernawati, M.Pd
“Huuuh, lelah sekali,
“kataku sambil duduk di lantai dan meluruskan kakiku.
Perjalanan yang sangat
melelahkan. Kemarin kami berangkat dari Garut sekitar pukul 16.00 wib dan
sampai ke Jakarta pukul 23.00 wib. Karena besok pagi suami harus mengejar
apel pagi pukul 06.00 wib di jalan Merdeka Barat. Selesai
suamiku upacara, kemudian menjemput aku dan anak-anak ke Mess Kemhan dan kami
berangkat ke Rumpin, kantor suamiku berada.
Ini adalah kali pertama
aku ke Rumpin Bogor, ternyata lumayan jauh. Aku kadang bayangkan, suamiku yang
setiap Jumat harus pulang dan Minggu malam berangkat lagi, begitu terus dia
jalani. Tak pernah lelah bahkan bosan. Luar biasa. Semoga sehat selalu suamiku
sayang.
Sesampai di sana, kami
di sambut oleh seekor kucing, dia langsung menatap aku dan anak-anakku
bergantian, seakan sedang memperkenalkan diri. Kemudian kucing itu
menggosok-gosokkan kepalanya ke kakiku dan anak-anakku.
"Meong, meong,
"katanya.
Aku tak mengerti apa yang kucing
itu katakan. Tapi aku merasa kucing itu seperti mengucapkan selamat
datang.
Anakku langsung
menggendongnya, ternyata kucingnya jinak banget. Kucing itu terlihat senang
sekali. Kami biarkan dia di ruang tamu, duduk sambil menikmati ademnya AC yang
sangat menyejukkan.
Suamiku menurunkan
barang-barang, dan aku langsung menyiapkan makan. Sementara anak-anakku
berleha-leha tiduran di lantai melepas lelah.
Kebetulan aku membawa
ayam goreng, dan tinggal menghangatkan saja, terus menanak nasi, nyambel. Menu
sederhana dan cepat. Selesai kami makan, tulang-tulang ayam dan kaki ayamnya
aku kumpukan dan aku suruh De Khansa berikan ke kucing
itu dengan dicampur sedikit nasi. Ternyata, dia lapar banget.
Tapi kami heran, kenapa tidak dia habiskan. apa tidak suka?
"Mah, masih ada
sisa makanannya, "Kata De Khansa.
"Harusnya jangan
banyak-banyak ngasih nasinya, kan sayang kebuang, "kata De Khansa
lagi.
"Mungkin dia sudah
kenyang De, nanti juga balik lagi, "ucapku menghibur.
Karena kelelahan kami
tidak peduli lagi, yang penting sudah kami siapkan makan. Namun alangkah
terkejutnya kami, tak lama setelah itu, dia datang bersama ketiga anaknya dan
menyuruh anaknya makan.
Aku terharu banget.
Dalam hati, mungkin emak kucing itu sebenarnya belum kenyang, tapi karena
dia sayang anak, makanya dia makan alakadarnya saja, dan sisanya untuk ketiga
anaknya. Betapa mulianya hati emak kucing ini.
Aku langsung membuka
lemari, kuambil kepala dan leher ayam, kupotong-potong dan dicampur nasi lagi.
Kemudian aku suruh De Khansa memberikannya lagi pada kucing itu.
"De, ini tambahin
lagi, kasihan anak-anaknya., "kataku sambil menyerahkan sepiring nasi yang
sudah diaduk-aduh dengan tulang leher dan kepala ayam.
"Sini Mah,
"Kata De Khansa semangat. Dia paling senang jika disuruh mengurus dan
ngasih makan kucing. Sedangkan kakak-kakaknya maunya mainin dan godain kucing
aja.
Kucing itu langsung
menggosok-gosokkan kepalanya ke kakiku, dia seperti mengucapkan terima
kasih. Kami semua tertawa melihat tingkah kucing itu. Tiba-tiba De Khansa
berkata, "kangen sama Si Belang yang di rumah, lagi apa yah dia,
"katanya.
Belang adalah kucing
liar yang setia pada kami. Cerita awal kami mengenal belang sangat mengenaskan.
Kami menemukannya dalam keadaan luka di bagian perutnya. Dia seperti disiram
air panas entah air aki mobil. Bagian kulit perutnya melepuh hingga
bulu-bulunyapun takada.
Saat itu aku ambil, aku
mandikan dan aku obatin setiap hari pagi, siang, sore. Kami beri makan dan
tempat tinggal di kardus, yang kami simpan di garasi. Sebenarnya, kami juga
dulu sempat kesel sama Si Belang, gara-gara pas abis melahirkan, dia ngotot
ingin anaknya disimpen di lemari baju. Aku mengusirnya dan menyimpannya di
rumah kosong.
Namun saat aku
menemukannya terluka, anak-anaknya tidak ada. Sepertinya dia ngotot ingin masuk
ke rumah orang lain dan menyimpan anaknya di sana. Gara-gara keras kepala itu
akhirnya dia diguyur pakai air panas oleh orang tersebut
kayaknyasih, dan anaknya dibuang. Kasihan sekali dia, kucing yang
ingin mempertahankan hidup anaknya agar terhindar dari dinginnya malam dan
binatang buas, harus mengorbankan dirinya disakiti orang dan dipisahkan dari
anak-anaknya.
Singkat cerita setelah
tiga bulan, lukanya mulai sembuh, bulu-bulunya sudah mulai tumbuh lagi. Kucing
ini jadi dekat sekali dengan anak-anak.
Si Belang, kucing yang
gak pernah rewel, dia mau makan apa saja yang kami makan, tahu, tempe, bakwan,
apa saja dia mau.
Istimewanya Si Belang
itu dia kayak yang mengerti jika kami sedang mengobrol, dia akan memperhatikan
wajah kami dan menatapnya. Dan jika De Khansa pergi main dengan teman-temannya,
dia akan membuntutinya terus seperti pengawal saja.
Belang kucing pinter,
bisa diajak bermain bola, main tali bahkan main petak umpet. saking dekatnya
dengan keluargaku, dia tidak pernah malu untuk membuka pintu jika pintu
ditutup. Dan dia akan menggedor-gedor pintu kalau dikunci. Awalnya kami takut
saat malam-malam ada yang memukul-mukul pintu. ternyata Si Belang,
yang memukul-mukul pintu, rupanya dia kedinginan di luar. Walaupun ada
kardus tempat dia tidur. Dia ingin tidur di dalam rumah saja. Kalau tidak
dibukakan pintunya, dia akan terus memukul-mukul pintu sambil berteriak.
Lama-lama dongkol juga dan berisik, jadi terpaksa kami bukakan. Biasanya dia
langsung ambil posisi tidur di kesed atau di karpet.
Banyak kisah yang telah
belang berikan kepada kami. Suatu hari, saat aku dan anakku terbangun di waktu
subuh, kami mendengar Belang seperti sedang berantem, tapi sendiri. Kami pikir
Belang sedang latihan berantem, karena dia suka begitu. Tapi apa yang terjadi,
saat kami melihatnya keluar, kami melihat Belang sedang berantem dengan seekor
ular kecil. Dan alhamdulillah Belang menang. Dan ular itu jadi santapan pagi Si
Belang.
Belang benar-benar
menjaga rumah kami, coba kalau ular kecil tadi menyusup ke rumah kami dan
mengigit kami, apa tidak membahayakan?
Setiap hari Belang
selalu nongkrong di depan pintu, jadi jika ada kucing lain yang ingin minta
makan, dia suka ngajak berantem dulu.. Dia tidak mau majikannya direbut. Belang
mempunyai rasa cemburu yang tinggi, saat De Khansa mengelus kepala kucing lain,
dia pasti akan segera menyerang kucing itu dan menyuruhnya pergi. Dia tidak mau
kasih sayang kami terbagi kepada kucing lain.
Selain kucing, ada
burung Merpati yang betah di rumah kami, padahal rumah majikannya dekat. Ada
pula ayam yang senang di rumah kami.
Lucunya lagi,
kalau pagi, siang dan sore hari, binatang-binatang itu berisik minta
makan. Mereka seperti tahu jika makan yang sehat adalah 3x sehari. Dan yang membuat
aku heran, merngapa mereka seakan tahu jam waktu makan?
Namun kucingpun ada
kelemahannya, antara lain. dia tidak mengerti bacaan spanduk di rumahku,
padahal yang tertulis adalah Resto tahu Gejrot Ceu Lilis. Tapi
yang kucing-kucing tahu rupanya adalah Rumah Makan Kucing sehingga
saat mereka lapar, mereka datang ke rumahku. ha...ha...ha...
Aku tak pernah melarang
anak-anakku menyukai binatang, kubiarkan mereka berinteraksi dengan binatang,
karena menurut mereka binatang adalah teman di saat mereka sendiri. Tapi karena
kondisi ekonomi kami yang pas-pasan, kami tidak bisa memberikan makanan lebih
selain makanan yang kami makan. Dan alhamdulillahnya setiap binatang liar yang
mampir ke rumah kami tidak pernah rewel kami beri makan apa saja.
Saat anak-anakku berteriak,
"meng, ... meng, ..., meng,... meng,... meng." Pasti kucing di
komplekku yang mendengar suara anak-anakkuku hapal jika De Khansa, Kakak
atau Abang akan memberi makan. Biasanya aku suka menyuruh anak-anakku
mencampur tulang ikan dan ayam dengan nasi, sehingga mereka kenyang
semua.
Sedangkan
jika anak-anakku berteriak, "kur,... kur,...kur,...kur."
Maka yang datang itu pasti ayam-ayam dan merpati. Itu biasanya jika ada sisa
nasi di rumah. Daripada dibuang ke tempat sampah, yah lebih baik diberikan pada
yang lebih membutuhkan.
Malam telah tiba,
kulihat kucing-kucing itu tidur di kursi yang ada di pelataran rumah dinas
kami.
"Pah, emang
biasanya kucing-kucing itu tidur di sini, "Tanyaku.
"Gakpernah,
biasanya cuma lewat doang, "Jawab suamiku.
"Tapi kenapa saat
kita datang, dia jadi betah di sini yah, "Tanyaku lagi.
"Enggak tahu juga,
mungkin instingnya tahu, jika kita suka ngasih makan kucing, "Kata De
Khansa menimpali dari belakang.
Kami biarkan
kucing-kucing itu setiap malam tidur di kursi dan kami beri mereka makan
alakadarnya juga, sesuai yang aku masak. Alhamdulillah kucingnya tidak rewel.
Setelah dua minggu kami
di Bogor, kamipun harus kembali lagi pulang ke Garut. Anak-anak mengelus kepala
kucing itu sebagai tanda perpisahan. Dan ternyata, kini saat kami tidak
ada di rumah itu, kucing-kucing itupun tidak tinggal di rumah lagi. Mungkin dia
tahu jika tak ada yang akan memberinya makan, karena suamiku lebih sering makan
di luar dibandingkan di rumah.
Perjalanan kami pulang
ke Garut, alhamdulillah lancar. Sesampainya di rumah yang anakku cari bukan
makanan, melainkan Si Belang. Tumben dia tidak ada. Biasanya dia langsung
menyambut kami.
"Meng,...
meng,...meng,..., "teriak anak-anakku. Tapi tak datang juga.
Si Belang tidak
ada, sepertinya saat kami pergi ke Bogor, ada yang mengambil atau
membuangnya. Karena aku melihat jumlah kucing di sekitar rumahku tinggal
sedikit. Biasanya satpam suka membuang kucing-kucing yang berkeliaran di
komplek karena banyak yang merasa risih dan suka bau kotoran kucing.
Si Belang benar-benar
tidak ada, anakku yang bontot, De Khansa, sampai menangisinya
sesenggukan. Karena merasa kehilangan. Dia cari-cari hingga keluar kompleks
perumahan, ke pasar dan sepanjang jalan raya dekat rumah. namun semuanya nihil.
Padahal dulu, saat kami
sekeluarga di rawat di Rumah Sakit Guntur gara-gara terpapar Covid-19, Belang
ditinggal hingga dua minggu, tapi dia tetap tidur di dus yang ada di luar dan
bermain-main di rumah.
Kini, semua tinggal
kenangan. Hanya photo-photo kenangan Belang saja yang masih banyak tersimpan di
album photo gawai anakku. Semoga Belang ditempat baru tidak kelaparan dan
mendapat majikan yang lebih baik.
Rabu, 23 Maret 2022
3. KASIH SAYANG ANAK TERHADAP SESAMA
KASIH SAYANG ANAK TERHADAP
SESAMA
Oleh Lilis Ernawati
Siang ini panas
sekali. Seperti biasa sepulang dari
kerjaanku, aku langsung menjemput
anakku yang sekolah di SDIT Persis Tarogong 2. Sambil menunggu anakku keluar
kelas, kubuka gawaiku dan kubuka beberapa grup yang sudah numpuk chatannya.
Tiba-tiba suara
kecil memanggilku, “Mamah, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam
warohmatullahi wabarokatuhu, “jawabku sambil memberikan tanganku untuk dicium
sama anakku.
Khansa anakku
langsung naik motor di belakang. Kemudian
aku langsung menyalakan motornya. Keluar dari sekolah. Situasi agak sedikit macet kalau bubaran
sekolah atau pas masuk sekolah. Karena sekolah anakku termasuk sekolah favorit
di kotaku sehingga banyak sekali muridnya.
Saat mendekati
lampu merah, kami terpaksa ikut antrian kendaraan yang lainnya. Aku fokus ke
depan. Ternyata anakku sedang memperhatikan dua peminta-minta yang ada di
sebelah motorku. Peminta-minta itu adalah seorang wanita muda sekitar 30
tahunan yang sehat dan tidak cacat dengan seorang lelaki berusia 45 tahunan
yang terlihat agak rabun. Kudengar
percakapan mereka sekilas.
“Dapat uang
berapa Neng, “Tanya lelaki itu.
“Baru 169 Pak,
“jawab perempuan mudanya.
Ini hari jumat,
sehingga pukul 9.30 wib anakku sudah pulang.
Dalam hatiku berkata, “Ehm,
pantas saja banyak orang yang mengemis,
rupanya penghasilan mereka luar biasa. Dengan waktu 2 jam saja sudah
mendapatkan uang segitu, bagaimana jika sampai sore dan tiap hari, penghasilan
kamipun kalah oleh mereka.”
Sedang
asyik-asyiknya aku melamun, tiba-tiba peminta-minta itu mengulurkan tangannya
padaku.
“Maaf dulu bu, “
kataku sambil tersenyum.
Tiba-tiba Khansa
bertanya, “Kenapa Mamah gak ngasih?”
Aku tersenyum
sambil menjalankan motorku. Setelah agak jauh dari peminta-minta itu akupun
menjawab, “Masih banyak yang lebih membutuhkan.”
“Oh, “jawab
anakku pendek.
Sesampainya di
rumah, aku langsung memasukkan motorku dan tiba-tiba seorang nenek yang sudah
renta membawa dagangannya menawarkanku baso dan siomay. Tapi aku masih kenyang.
Kusuruh Khansa memberikan uang pada nenek itu.
“Mamah mau beli,
“Tanya anakku.
“Tidak Nak,
kasihin aja sama nenek itu, bilang buat jajan gitu, “jawabku.
“Mamah kok aneh,
yang minta-minta gak dikasih, giliran nenek itu gak minta-minta malah dikasih,
“jawab anakku heran.
“Neng ini mau baso atau siomay, “kata nenek itu.
“Enggak usah
nek, uangnya buat nenek aja beli makanan, “jawabku.
“Makasih banyak
yah neng, emaktuh bawa barang punya orang. Emak jualin agar bisa makan, “cerita
nenek tersebut.
“Memangnya
anak-anak nenek kemana, “tanyaku lagi.
“Mereka merantau
mencari buat makan, mungkin belum punya uang untuk ngasih emak, “jawab nenek
itu dengan sedihnya.
“Nenek udah
makan belum, saya ada masak kangkung sama ikan dan tahu tempe, “tanyaku.
“Udah neng,
“jawab emak perlahan. Aku tahu Nenek itu menyembunyikan rasa malunya untuk
meminta.
“Sebentar Nek,
saya bungkusin yah. Tapi dimakan yah. Ini gak pedas kok, “ujarku lagi.
Aku masuk ke
dalam rumahku. Kubungkuskan makanan buat nenek penjual baso dan kusertakan juga
beberapa bungkus susu dan kopi lalu kumasukkan kedalam kresek hitam.
“Nek, dimakan
yah, jangan dibuang, saya cuma punya ini, “kataku.
“Makasih banyak
Neng, “jawab nenek itu lagi.
“Semoga amal
ibadah Neng diterima di sisi Allah dan diberikan ganjaran yang luar biasa, Amin
yra, “kata nenek lagi.
“Amin, makasih
doanya Nek, Nenek juga yang sehat, hati-hati di jalannya, “kataku.
“Emak permisi
dulu yah Neng, “pamitnya padaku.
“Iya mak,
hati-hati yah, “Kataku penuh dengan kekhawatiran. Nenek tua itu berjalan dengan
badan yang setengah bungkuk dan tergopoh-gopoh. Badannya yang renta masih harus
membawa beban keranjang jualannya yang masih tersisa setengahnya. Dalam hatiku
bersyukur, aku masih diberikan kelebihan oleh Allah dan semoga diakhir hayatku
tidak sengsara seperti nenek tadi.
Khansa sedari
tadi memperhatikan yang aku lakukan. Dia kemudian bertanya, “Kenapa mamah malah
lebih memilih nenek itu untuk diberi dibandingkan dengan peminta-minta
dijalanan tadi?, “tanyanya.
“De, saat kita
ingin memberi seseorang kita harus melihat juga, apakah orang itu pantas kita
beri atau tidak, tadi Dede perhatikan
tidak orang yang di lampu
merah, Bagaimana menurut Dede?, “tanyaku
.
“Yang laki-laki
sudah tua dan agak rabun sedangkan yang perempuan masih sehat dan kuat, “jawab
anakku datar.
“Menurut Dede,
siapa yang lebih pantas diberi?. “tanyaku.
“Nenek tadi,
“jawab De Khansa lagi
“Kenapa?,
“tanyaku lagi.
“Karena nenek
tadi sudah lebih tua, tidak ada yang menemani terus tidak mau meminta-minta, walau sudah tua
dia masih mau bekerja mencari nafkah walaupun mungkin untungnya cuma sedikit,
“jawab De khansa dengan serius.
“Nah itu maksud
Mamah, saat kita memberi membuat orang malas, akan membuat mereka semakin tidak
mau berusaha, mereka akan lebih senang meminta dibandingkan bekerja keras
mencari nafkah. Tadi Dede dengar kan percakapan pengemis di lampu mereh?,
“tanyaku.
“Iya Mah,
hebatnya, mereka cuma dua jam sudah mendapatkan uang sampai 169 ribu, kalau
gaji Mamah sama pengemis besar siapa?, “Tanya anakku sambil tertawa.
“Penghasilan
Mamah sama pengemis yang besar pengemis, tapi
kan Mamah tidak menjual muka Mamah dengan meminta-minta, itukan
memalukan dan menurut hadistnya juga tangan di atas lebih baik di banding
tangan di bawah, “jawabku panjang lebar.
“Coba nenek tadi,
kalau ingin mendapatkan uang sampai seratus ribu saja, misalnya, dia untung dua ribu dari setiap bungkus
basonya, berarti dia harus menjual baso sampai 50 bungkus. Menjual 50 bungkus
itu bisa jadi dari pagi hingga sore atau mungkin baru dua hari bisa menjualnya,
itupun harus keliling-keliling berjalan kaki, “ujarku menjelaskan.
“Iya yah Mah,
berarti kita saat memberi harus melihat-lihat, apakah orang yang diberi pantas
untuk kita bagi atau tidak, agar mereka tidak terbiasa mengemis, “kata Khansa
yang mulai mengerti maksud kata-kataku.
Aku tersenyum
sambil menganggukkan kepalaku.
Sejak saat itu
anakku kadang tanpa disuruh lagi sering memberi orang-orang yang dia anggap
memang lebih membutuhkan dibandingkan orang yang masih muda, sehat dan kuat.
Terutama nenek itu yang hampir setiap hari melewati rumah kami. Setiap beliau
lewat, aku tak pernah repot-repot lagi membungkus nasi buat nenek baso. Anakku
biasanya sudah sigap memasukkan makanannya, sementara aku lebih senang ngobrol
nemani nenek itu ngopi dan istirahat di pelataran rumahku.
Inilah hidup,
tak selamanya memberi itu akan bermanfaat buat orang lain. Karena mungkin saja
dengan memberi, membuat orang yang sebenarnya masih sanggup bekerja menjadi
malas dan tidak mau berusaha. Karena Allah swt mengajarkan kepada kita untuk
berusaha dalam mempertahankan hidup, bukan hanya meminta saja.
Seperti inilah
aku dalam mengajari anak-anakku, bukan hanya teori saja, akan tetapi dengan
praktik dan alasan yang kuat agar mereka tahu siapa dan bagaimana cara kita
membantu dan menyayangi serta peduli pada sesama.
Sabtu, 12 Maret 2022
2. Kasih Sayang Guru Terhadap Anak Didiknya
Pagi ini langit begitu cerah, Seperti biasa, setelah menyiapkan keperluan anak bungsuku, Khansa, aku langsung menyiapkan perlengkapanku. Aktivitas pagi yang selalu aku lakukan secara terus menerus, dan kadang-kadang membuatku jemu, jika rasa lelah menyergapku.
Aku di rumah bersama Khansa karena suamiku bekerja di luar kota dan kedua anakku kuliah di luar kota juga, sehingga segala sesuatunya dikerjakan sendiri. melelahkan memang, tapi mau bagaimana lagi, semua memiliki tugas masing-masing.
Kuantar Khansa ke sekolahnya, lalu langsung berangkat ke sekolahku yang jaraknya kurang lebih 30 Km. Sepanjang jalan yang kulalui, kiri kanannya terdapat hamparan sawah yang hijau ... indah sekali. Inilah kampungku dengan panorama yang menyejukkan hati dan membuat betah siapa saja yang mendiaminya. Pemandangan seperti ini merupakan obat lelahku dalam menikmati alur kehidupan takdirku.
Sesampai di sekolah, aku langsung setor muka ke kantor ruang guru dan lanjut masuk ke kelas. Hari ini adalah jadwal kelas dua belas. Ada materi yang ingin aku sampaikan, agar aku bisa tahu kondisi murid-muridku terutama kelas 12 jurusan IPS B yang kebetulan aku sebagai wali kelasnya.
Kelas 12 B adalah kelas yang luar biasa solid. Dengan KM yang kadang-kadang agak nyeleneh dan luar biasa. Tapi kekompakan mereka membuat aku terkagum-kagum, apalagi jika kegiatannya makan-makan. Waah ... luar biasa. Mereka gakakan menolaknya. ha...ha....
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuhu, "sapaku saat membuka pintu
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuhu, selamat pagi bu, "jawab anak-anak di kelas.
"Pagi, Baik sebelum pembelajaran dimulai, silakan KM pimpin doa dulu, agar kegiatan ini berjalan dengan lancar dan mendapat keridhoan Illahi robby, "ucapku.
"Siap Bu, mari teman-teman kita mulai berdoa, "kata KM
Setelah selesai berdoa, seperti biasa, aku mengabsen mereka satu persatu. Setelah itu mengingatkan mereka materi sebelumnya. Dan untuk pertemuan kali ini materinya tentang teks autobiografi.
Setiap anak diminta menuliskan autobiografi dibukunya masing-masing, hal-hal yang paling mengesankan dalam hidupnya, prestasinya dan keluarganya. Setelah selesai, kemudian dipanggil satu demi satu ke depan untuk membacakannya.
Macam-macam kisah mereka, ada yang menyebalkan, ada yang menyedihkan, ada yang memprihatinkan dan ada pula yang lucu. luar biasa. Kami semua kadang tertawa, kadang sedih, kadang kesal, semua rasa berkecamuk sesuai dengan cerita yang mereka kisahkan.
Hingga akhirnya giliran Husna yang bercerita. Dia menceritakan bagaimana bahagia hidupnya, karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya. Diapun berterimakasih pada Allah, keluarganya, teman-temannya dan kepada aku yang selalu pulang bersamanya. Karena aku melewati jalur rumahnya, kadang aku suka mengajaknya sekalian naik motor.
Diakhir ceritanya dia meminta maaf jika selama ini banyak kesalahan dan kekhilafan. Dan kamipun menyambutnya dengan bahagia.
Seperti biasa saat pulang sekolah aku ajak Husna naik motorku.
"Husna, ayo ikut Ibu, "ajakku.
"Iya bu, maaf yah bu merepotkan terus, "katanya. Sepanjang jalan kami ngerumpi banyak hal. Hingga tak terasa, sudah sampai di depan gang menuju rumahnya.
Sebelum turun dia berkata, "Ibu nanti hari sabtu kita botram yah di rumah Husna, "ajaknya.
"Inshaallah, semoga tidak ada halangan, "jawabku sambil tersenyum.
"Hati-hati ibu di jalannya, "kata Husna.
"Makasih sayang, kamu juga jaga diri baik-baik yah, "ucapku.
Sabtupun tiba, hari ini aku ke sekolah membawa Khansa karena kalau sabtu dia libur sekolah. Aku ada jadwal di kelas 10. Setelah pembelajaran selesai, aku mengajak beberapa guru serta teman-teman sekelas Husna. Kami naik motor ke rumah Husna. Sesampai di sana ternyata sudah disiapkan segala sesuatunya sama Ibunya.
Kemudian kami berpencar, ada yang memancing dan ada pula yang mengambil lalab di kebun orangtua Husna. Pokoknya hari ini benar-benar menjajah kolam dan kebun orangtua Husna. Akupun ikut menangkap ikan. asyik sekali. Tak sengaja aku melihat buah nangka matang. Aku teriak, "Husna, ... Husna, ... ada nangka mateng, ibu mau dong, "pintaku sambil tertawa.
"Iya bu, tenang. Nanti suruh Solihin naik pohonnya bu, "jawab Husna.
"Solihin ambil nangka, " teriak Husna pada Solihin, teman sekelasnya.
Setelah semua siap dan ikanpun sudah digoreng, kamipun makan bersama. Enak sekali, aku sampai nambah ha...ha ... ha ...
Saat hendak pulang aku minta bibit buah naga, dan Husna memotongkannya 3 ruas. Saat mau pulang, pohon itu hampir ketinggalan, akan tetapi Husna menyusul aku yang sudah mau naik motor.
"Ibu, Ibu,... ini pohon naganya ketinggalan, "teriak Husna sambil berlari mengejarku dan menyerahkan pohon naga serta ikan dan nangka yang telah disiapkan orangtuanya.
Hari ini kenyang sekali, banyak cerita dan tawa yang kami lepaskan saat di sawah tadi. Luar biasa, baik sekali orangtua Husna menerimaku dan guru-guru lainnya serta teman-teman Husna.
Tak pernah kusangka, jika itu adalah kenangan terakhir melihat Husna berlari, tertawa dan bercanda, sebelum Hari Rabu minggu selanjutnya tiba.
Saat itu aku sedang berada di sekolah satunya lagi. Kebetulan hari itu aku mengenakan pakaian olahraga lengkap, karena hari ini jadwal guru-guru senam. Setelah senam, kulihat gawaiku, ada panggilan hingga 10x panggilan dari kepala sekolahku. Ada apa gerangan, sampai-sampai kepala sekolahku memanggil 10x. Kutelepon ulang. Dan apa yang kudengar, membuat badanku, lemas sekali.
Husna kecelakaan, ada mobil yang mengangkut kayu dan kayunya jatuh menimpa pelipisnya. Saat itu Husna dan pamannya naik motor di belakang mobil kayu itu. Saat kayu mulai jatuh, pamannya sempat menangkisnya dangan tangan kanannya, hingga pamannya mengalami cedera patah tulang kanan. Namun sayang, kayu itu terus melesat dan menimpa pelipis Husna, hingga Husna terjengkang dan kepalanya terbentur aspal. Innalillahi wa innailaihi rojiun. Tak terasa air mataku menetes. Kusegera menjemput anakku kesekolahnya, dan mohon ijin, lalu ke RSUD Garut untuk melihat kondisi Husna.
Sesampai di sana, ada bapak Husna, kepala sekolah, beberapa guru dan teman Husna.
"Apakah Husna muntah, "tanyaku kepada yang ada di ruangan.
"Iya, cukup banyak, "kata kepala sekolah.
Badanku lemas, berarti dia geger otak. Itulah yang aku tahu dan aku baca, jika seseorang terbentur kepalanya sampai muntah, berarti berbahaya dan geger otak.
"Lalu bagaimana kata dokter, "tanyaku lagi.
"RSUD Garut tidak sanggup menanganinya, karena kurangnya peralatan di sini "jawab Bapak Husna.
"Yaudah, ayo Pak, kita tak usah buang-buang waktu, langsung ke Bandung, "kataku.
Kutitip anakku pada salah satu muridku di situ. Dan aku langsung menuju ruangan dokter mohon penjelasan petunjuk dan bantuan agar disegerakan.
"Ijin dok, mohon informasinya, sebenarnya kondisi anak saya bagaimana, "tanyaku.
"Maaf bu, karena peralatan di RSUD tidak memungkinkan sebaiknya dibawa ke Bandung, akan tetapi terus terang saja, jika kondisi pasien sangat kritis dan butuh penanganan cepat, jikalau sampai terjadi sesuatu dijalan, yah kami juga mohon maaf, sekarang kita berdoa saja, semoga masih ada harapan, "kata dokter.
"Baik dok, mohon bantuan secepatnya untuk surat-surat dan ambulannya, "ucapku.sambil berpamitan.
Dan alhamdulillah, ambulanpun telah siap. Pasien dimasukkan ke ambulan ditemani satu suster dan bapaknya Husna. Aku dan anakku masuk mobil Avanza bersama guru-guru lain yang ikut serta sebanyak 7 orang.
Sepanjang jalan, Husna menggunakan alat bantu kehidung mulut dan kateter. Tadi dokter sempat bilang, ini hanya untuk menghilangkan rasa penasaran, karena beliau tahu, jika kecil kemungkinan bisa selamat.
Sampailah kami ke Bandung. Aku titipkan anakku di guru lain, karena aku yang membawa Husna ke ruang IGD. Orangtuanya tak kuat melihat anaknya seperti itu. Terpaksa aku yang menungguinya di dalam ruangan dan mengurus surat-surat lainnya. Aku tak pernah berpikir dia adalah anak orang lain, dan aku hanya sebagai wali kelasnya saja. Yang aku pikir hanya kasih sayangku pada murid-muridku sudah seperti ke anakku sendiri.
Saat magrib tiba, dokter memanggilku dan menceritakan jalan terbaiknya. Aku tidak bisa menyetujuinya begitu saja, karena ada keluarganya yang lebih berhak. Setelah perbincangan itu, akupun keluar IGD dan melaksanakan sholat maghrib sekaligus isya, karena lokasi mesjid yang cukup jauh. Setelah sholat aku kembali lagi ke depan ruang IGD, di sana keluarga Husna sudah berkumpul bersama guru-guru sambil mengobrol. Kemudian aku ceritakan hal terbaik yang bisa diambil demi kebaikan husna.
Orangtua Husna hanya diam saja. Banyak luka yang beliau pendam. Namun tak terungkapkan. Ternyata Husna geger otak, ada pendarahan diotaknya dan harus dibuka tengkorak kepalanya.
Orangtua Husna akhirnya bicara setelah menelepon semua saudara-saudaranya, jika Husna takakan dibuka tengkorak kepalanya. Mereka pasrah. Jika memang Husna takbisa ditolong, mungkin itu yang terbaik.
Aku kembali menuju ruang IGD dan menghadap dokter, kemudia aku ceritakan keputusan keluarganya Husna. Dokterpun pasrah. Aku takbisa berkata apa-apa selain berdoa dan terus berusaha untuk memberi semangat mereke agar bisa tabah. Namun walaupun demikian, dokter meminta agar Husna dirawat dulu dan dilihat perkembangannya dalam beberapa hari ke depan.
Setelah keputusan itu, kami para guru pulang, sedangkan orangtua Husna kami tinggal bersama beberapa sanak saudaranya yang telah datang dan menemaninya.
Perjalanan kami pulang, penuh dengan kesedihan. Karena kami tahu jika Husna memiliki kesempatan tipis untuk bertahan. Alhamdulillah kamipun bisa sampai rumah dengan selamat pukul 02.00 WIB dinihari.
Beberapa hari kemudian, kami mendengar kabar, jika Husna dibawa pulang karena orangtua Husna merasa tidak ada perubahan saat Husna dirawat di RS Bandung. Aku sangat menyesal sebenarnya. Namun akupun takbisa berbuat apa-apa karena memang operasi itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, dan resiko keberhasilannyapun fifty fifty. Kalaupun berhasil, maka Husna bisa normal kembali dan kalaupun tidak, maka nyawa taruhannya.
Benar saja apa yang dokter katakan. 3 hari setelah Husna dibawa pulang, Husna menghembuskan nafas terakhirnya. Untungnya aku sempat menengoknya, saat Husna di rumah.
Itulah kenangan terakhirku bersama, anak didikku Husna. tak kusangka, ajakannya makan-makan bersama di rumahnya adalah pertemuan terakhir kali, dan permohonan maafnya dipembelajaranku itu adalah permohonan terakhirnya sebelum meninggalkan kami. Selamat jalan Husna, semoga kamu tenang di surganya, Amin yra. Dan pohon buah naga, hingga kini tumbuh subur dan berbuah lebat di depan rumahku, dan sudah kusebar kesemua teman yang berkunjung ke rumahku.
Jumat, 11 Maret 2022
AISEI SHARING SESSION KNOW MORE ABOUT EDUCATION SYSTEM IN INDIA
- Ancient India : sistem pendidikan India di awal
- Gurukul system yaitu sistem pembelajaran dimana peserta didik datang ke rumah gurunya, kemudian dididik semua ilmu hingga pintar. Peserta didik sebelumnya diseleksi, sesuai keputusan gurunya diterima atau tidaknya. Semua peserta didik menurut apapun yang diperintahkan gurunya. mereka belajar di alam terbuka, di bawah pohon dan belajar tentang semua hal yang berkaitan dengan alam dan keilmuan. Semua peserta didik tinggal bersama guru, dan mereka membantu semua pekerjaan gurunya. Setelah dirasa mapan, mereka baru dianggap lulus. Ini adalah sistem pendidikan India jaman dulu. Para pelajar itu akan membayar sekali selama pendidikan sebagai ucapan terimakasih kepada guru, yang disebut Guru Daksina.
Minggu, 06 Maret 2022
1. Kasih Sayang Orangtua Terhadap Anak
Takkan
Kubiarkan Kau Terluka
Hari ini cuaca panas sekali.
Sampai-sampai jemuran di depan rumah Ibu Anipun kering semua. Padahal
belum lama Ibu Ani menjemurnya. Ibu Ani angkatin pakaian satu demi satu,
kemudian dibawanya ke kamar anaknya, Aisyah. Karena di kamar Aisyah biasanya
Ibu Ani menyetrika. Kamar Aisyah memiliki pentilasi yang besar, sehingga saat
Ibu Ani menyetrika, bisa dibuka jendela lebar-lebar agar angin bisa masuk dan
udara tidak terlalu panas.
Tak sengaja Ibu Ani melirik meja
belajar anaknya. Tak biasanya buku diary Aisyah tak dibereskan, selama ini kan
dia simpan ditempat tersembunyi. Ibu Ani penasaran. Karena selama ini tak
pernah dia tahu keluh kesah anaknya. Aisyah adalah gadis periang. Tak
pernah sekalipun dia ceritakan kesulitannya. Aisyah memang pintar di sekolah
dan pandai bergaul pula. Namun aku tahu di lubuk hatinya ada luka yang begitu
dalam. Sejak bapaknya meninggalkan keluarga ini, dia tak pernah bercerita
tentang kesulitannya. Uang jajan sekolahpun tak pernah dia minta, sedikasihnya
saja olehnya.
Ibu Ani membuka buku itu, dan
membaca satu demi satu curahan hati anaknya, Aisyah. Tak terasa air mata Ibu
Ani meleleh membasahi pipi. Ibu Ani sudah menyangka tentang hal ini. Namun,
selagi Aisyah takmau bercerita,Ibu Ani tak mau menanyakannya. Takut menambah luka
hati anaknya. Di halaman terakhir tertanggal 30 November 2021, ada keinginan
Aisyah untuk ikut kursus komputer mengisi liburan semesterannya. Namun dia tak
berani mengatakan pada ibunya. Mungkin karena biayanya cukup besar.
Ibu Ani metutup buku itu, dan
merapikan kembali seperti semula, agar Aisyah tak curiga. Lalu menyetrika
pakaian kering itu dengan segera, agar bisa keluar dari kamar Aisyah sebelum
anaknya pulang sekolah. Ibu Ani menengok jam di dinding, menunjukkan pukul
13.00 WIB. Sebentar lagi Aisyah pulang. Biasanya dia sampai rumah pukul 14.00
WIB jika tidak ada kegiatan ekschool di sekolahnya atau di Kabupaten.
Waktu sudah pukul 15.00 WIB Aisyah
belum pulang juga. Ibu Ani mulai khawatir. HPnyapun tak aktif. "Kemana
kamu Aisyah? kok gak ngabarin Ibu Nak?, "gumam Ibu Ani dalam hati.
Adik Aisyah, Maulana sudah terbangun dari tidurnya. Dia sudah terjadwal untuk
tidur siang, dan nanti ba'da ashar dia akan berangkat mengaji hingga magrib.
Ibu Ani siapkan makan untuk Maulana.
Namun sebelumnya, maulana disuruh mandi dulu agar segar saat belajar ngaji di
madrasahnya. Ibu Ani mengecek perlengkapan ngaji di tas ngaji Maulana, mulai
alat tulis, buku dan Al-Qur'an. Setelah semuanya lengkap, Ibu Ani mengambilkan
baju koko di lemari dan menyiapkan makan sore untuk anaknya.
Maulana lahap sekali makannya. Ibu Anipun bahagia melihatnya karena
anak-anak takada yang rewel dan manja.
"Maulana berangkat dulu bu,
Assalamualaikum, "ucapnya sambil mencium tangan Ibu Ani
"Waalaikumsalam
warohmatullahiwabarokatuhu, hati-hati di jalannya, belajar yang benar,
" jawab Ibu Ani.
Ibu Ani langsung ke dapur dan
menyiapkan adonan es lilin serta comro untuk besok pagi dijual. Inilah
pekerjaan Ibu Ani kini, setelah ditinggalkan suaminya yang pergi dengan
wanita pilihannya. Dia tidak mau menceraikan Ibu Ani, akan tetapi tidak juga
menafkahi hidupnya. Status Ibu Ani digantung, karena janda bukan bersuamipun
tidak. "Terserahlah, biar dia yang mempertanggungjawabkannya di hadapan
Illahi Robby, "gumam ibu Ani dalam hati.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00
WIB, kulihat dari kejauhan anakku berjalan dengan senyum tetap mengembang
sambil menyapa orang di sepanjang jalan yang dilewatinya. Begitulah dia,
sehingga banyak orang yang menyayanginya.
"Assalamualaikum, Ibu,
"ucap Aisyah dengan nyaring.
"Waalaikumsalam warohmatullahi
wabarokatuhu, kenceng-kenceng amat ngucap salamnya, emangnya ibu udah tuli
apa?, "Tanya Ibu sambil bercanda.
Aisyah mencium tangan Ibu, sambil
tertawa.
"Bukan begitu Ibu, Aisyah lagi
seneng banget. Maaf yah tadi gak ngabarin. Baterai HP nya low bath, terus Aish harus rapat di Kwarcab. Aisyah nanti malam
berangkat ke Bandung bersama Sukimto, karena harus menghadiri kegiatan Musda
Jabar yang akan dilaksanakan selama 10 hari."
Ibu Ani bingung sendiri , sambil langsung diam, dia berpikir, mau berapa dia memberinya bekal nanti. Karena di saku cuma ada uang Rp 20.000,-, cukup
untuk apa? sementara Aisyah di sana 10
hari.
"Ibu gakusah pusing-pusing,
tenang aja. Semua biaya ditanggung dari sana. Dan ini, Aish ada uang Rp
500.000,- untuk uang jajan di kasih sama Pak Bupati Kuningan, "kata Aisyah
yang tahu jika ibunya sedih karena pasti tidak punya uang untuk bekalnya.
"Alhamdulillah, iya Aish, ibu
bingung gakpunya uang untuk kamu jajan di sana, "kata Ibu.
"Ibu, Aish ambil Rp 100.000,-
aja. sisanya simpanin yah. Aish ingin kursus komputer, "kata Aish
lagi.
"Nanti kalau kamu kurang bekal gimana,
kan 10 hari Ish?, "tanya ibu.
"Bu, di sana itu makanan
melimpah, walaupun kegiatan pramuka menunya mewah, ada snack, minuman dan
lain-lain. Jadi untuk apa Aish bawa uang
banyak-banyak, "kata Aish lagi.
"Aish minta buat ongkos aja,
takut kurang, "ucapnya menambahkan.
Ibu Ani bersyukur memiliki anak yang
luar biasa.” Seandainya Aisyah rapat di
Bandung, berarti uang jajan harian Aish bisa aku tabung. Aku harus usahakan
bisa memenuhi kebutuhan Aish kursus komputer, "gumam Ibu Ani dalam hati.
"Aish makan dulu,
"perintah Ibu
"udah kenyang bu, kan tadi
makan segala dikasih dari sana, "jawab Aish sambil membereskan pakaiannya
ke koper serta perlengkapan lainnya. Dia sudah terbiasa kegiatan seperti ini
sehingga Ibu Ani tak perlu membantunya menyiapkan keperluannya lagi.
"Kamu berangkat pukul berapa
sama sukimto,"Tanya Ibu. Sukimto adalah temannya di pramuka, walaupun beda
sekolah akan tetapi persahabatan mereka sudah terjalin sejak SMP.
Malampun tiba, sukimto datang ke
rumah menjemput Aish menggunakan mobil travel yang sudah dipesankan oleh pihak
kabupaten. Mereka tinggal berangkat saja, sehingga Ibu Ani tidak merasa
khawatir.
Selama Aish pergi, Ibu terus bersemangat membuat es lilin yang laku
banget karena hari sangat panas. Ibu membuat
berbagai rasa, mulai kacang hijau, nangka, susu, manga, coklat dan stroberi. Takada rasa lelah di hatinya.
Alhamdulillah selama 10 hari Ibu Ani bisa mengumpulkan uang sekitar Rp 2 jtan.
Lumayanlah bisa untuk bayaran jika Aish kursus komputer.
Hari ulang tahunku tak pernah kuingat. Terlalu banyak
problematika kehidupan yang aku alami, sehingga aku lupa kapan tanggal bahagia
dan kapan tanggal menyedihkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Aku
masih terjaga karena Aish sudah bilang jika dia akan pulang hari ini. Kusiapkan
makan malam alakadarnya saja, walau hanya tempe oreg basah yang menggunakan
kecap dan kerupuk, Aisyah pasti tetap tersenyum.
Tak lama setelah itu, ada mobil
berhenti di depan rumahku. Yah, … Aisyah telah sampai rumah. Aku Bahagia
sekali.
"Assalamualaikum Bu, "ucap
Aish.
"Waalaikumsalam warohmatullohi
wabarokatuhu, "jawabku.
"Ibu belum tidur? kok masih
membungkusin es sih bu, bukannya istirahat, nanti Ibu sakit lagi, "ucap
Aish sedikit mengomel.
“Tenang saja, Cuma gitu-gitu doing kok,
“jawab Ibu
“Barakallah Fii Umrik yah Ibu, sehat
selalu, bahagia selalu dan tetap menjadi Ibu yang baik untuk aku dan maulana, “kata
Aisyah
“Aisyah tak tahu, jika kesibukanku
inilah yang membuatku melupakan semua kesedihanku dan luka hatiku yang telah
dikhianati oleh bapaknya. Seandainya tidak banyak yang aku kerjakan, mungkin
aku akan kepikiran terus dan sakit, gumam Ibu.
"Bu, ini ada uang Rp 600.000,-,
yang Rp 100,000,- uang bekal kemarin dan yang Rp 500.000,- uang pemberian dari
provinsi, tuh kan Aish juga bilang apa, pasti uangnya utuh. Karena makanan di
sana itu berlimpah bu. Kecuali kalau kita mau beli-beli asesoris, nah baru
butuh uang, "kata Aish lagi.
"Iya ..., iya ..., rejeki anak
soleh. Uangnya mau buat apa?, "tanya Ibu pura-pura tak tahu.
"Aish ingin kursus komputer bu,
boleh yah?, "tanyanya.
"Boleh, tapi kegiatanmu
bagaimana?, "tanya Ibu
"Aish akan mengatur waktu
sebaik mungkin. Tapi Aish pasti pulang sore, gakpapa yah bu gakbisa membantu
pekerjaan Ibu?,"tanya Aish.
"Gakpapa, kamu bawa bekal untuk
makan siang biar gak kelaparan nantinya, "kata Ibu.
"Ok bu, Aish mau
bersih-bersih dulu bu, terus sholat, baru tidur, Ibu istirahat udah malam,
"kata Aish.
"Sebentar, Ibu masukin es dulu
ke frezer, "jawabku sambil memasuk-masukkan es ke frezer untuk dijual
besok pagi.
Pagipun tiba, Aish dan Maulana
bangun pagi-pagi sekali. Maulana langsung ke kakaknya merengek.
"Kakak bawa oleh-oleh apa,
"tanya Maulana polos.
"Ada, banyak, "kata Aish.
Aish mengeluarkan plastik hitam, ada
susu, permen dan kue-kue.
"Kamu beli Ish, "Tanya Ibu
"Tidak Bu, setiap pagi, siang
dan sore selalu ada susu atau teh kotak, nah Aish ambil susu, sehari dapat 3,
jadi ada 30 susu. Lalu ada permen juga, tapi sama Aish gak dimakan, Aish
kumpulin, ada snack kering juga, Aish kumpulin, jadinya kan ada oleh-oleh buat
adik kakak tersayang, "kata Aish sambil memeluk adiknya yang kegirangan
karena mendapat oleh-oleh yang banyak.
"Ibu ke kamar yah?, “ucap Ibu
sambil pamitan dan pergi tidur, karena kepalanya berat sekali. Pagi harinya saat
mereka sedang sarapan pagi, tiba-tiba Ibu
mengeluarkan dompetnya. Dan segepok uang diserahkan kepada Aisyah.
“Nak, ini ada sedikit uang buat kamu
membeli laptop agar kamu bisa belajar komputernya tidak tanggung-tanggung,
"kata Ibu sambil terbatuk-batuk. Selama ini ibu sering tidur malam karena
permintaan es lilin dan comro sangat banyak, sehingga dia kurang tidur.
Baginya kebahagiaan anaknya lebih
utama dari kesehatannya. Dia tak mau anaknya merasakan kepedihan yang dia
rasakan. Dia ingin anaknya bisa hidup lebih baik lagi, tidak sepertinya yang
hanya bisa membuat makanan alakadarnya saja. Bagi Ibu rasa lelah yang dia
rasakan, takada artinya dibandingkan rasa sakit hati atas pengkhianatan yang
suaminya lakukan. Biarlah cerita luka ini hanya menjadi onggokan sampah di
hatinya. Dia ingin anak-anaknya sekolah tinggi dan bahagia.
Aisyah
senang sekali, karena hari ini sudah bisa membayar uang kursus computer dan membeli
laptop yang baru. Begitupun Ibu, walaupun harus lelah membanting tulang. Namun
saat melihat anaknya bahagia, diapun bahagia.






