Pengikut

Kamis, 09 Juni 2022

Lomba Menulis Satu Guru

 




MENULIS ITU MENGASYIKAN

s.id/kanal satuguru

 

Rencana Tuhan Takada yang Tahu

 

Menulis itu mengasyikkan.

Itu yang diungkapkan oleh mereka yang sudah cinta menulis dan terbiasa berasyik masyuk dengan tulisan serta mengetahui manfaat menulis

Menulis itu mengasyikkan?

Benarkah?

Itu yang menjadi pertanyaan sekelompok orang yang merasa jika menulis itu merupakan pekerjaan yang membebani. Karena mereka sebagian besar merasa bingung tentang apa yang harus mereka tulis di awal tulisannya.

Menulis adalah aktivitas yang asyik jika sudah mengerti caranya. Tapi menakutkan bagi yang belum biasa. Apalagi bagi anak sekolahan, mahasiswa bahkan guru sekalipun kadang menulis itu menjadi beban tersendiri.

Bagiku menulis adalah obat dikala sedih, senang, galau dan merana,  writing is healing. Karena melalui tulisan aku bisa mengungkapkan semua cerita hidupku. Dan karena tulisan aku bisa meninggalkan jejak masa laluku yang mungkin bagiku biasa saja akan tetapi bagi orang lain luar biasa.

Aku akan buktikan jika menulis itu mengasyikkan, karena saking asyiknya aku bisa menyelesaikan naskahku hanya dengan sekali duduk saja. Kuawali kata-kata awal dengan latar suasana dan waktu.

Kubuka lembaran lama, saat aku terpuruk dalam duka dan nestafa. Ini merupakan langkah awal aku memutuskan menjadi seorang guru.

Saat itu, anakku, bidadari kecilku yang baru berusia 18 hari, tiba-tiba batuk. Anakku yang ketiga ini lahir normal dengan berat badan 3,3kg dan panjang badan 52cm. Dia berkulit putih, dengan mata sipit dan muka bulat, persis seperti nenek mertuaku. Selama kehamilannya,  aku bisa melaksanakan semua aktivitasku tanpa gangguan, baik itu kegiatan di kantor suamiku, ibadahku bahkan puasakupun full 1 bulan.

Bidadari kecilku belum sempat di vaksin 7 hari karena bidannya sedang sibuk kuliah di Tasikmalaya. Sementara daerah kami saat itu masih jarang tenaga medis selain satu bidan desa dan tenaga kesehatan di kantor suami. Aku terpaksa menunggunya. Karena aku pikir ke kota Garut lumayan jauh. Saat tenaga kesehatan ke rumah,  tepatnya hari kamis mereka bilang batuk biasa saja. Sehingga aku tidak khawatir.

Hari Kamis 5 April  2007, kompi suamiku harus berjaga di batalyon. Namun, malam itu mati lampu. Udara di ksatriaan 303 cukup dingin, apalagi jika kami tidur tanpa lampu penghangat ruangan. Karena mati lampu, takada lampu penghangat ruangan selain lilin. Kuselimuti anakku dengan selimut dua lapis. Dia diam saja, seperti tertidur nyenyak. Tapi aku heran, dia tidak meminta asi. Padahal biasanya dia cepat lapar. Diluar suara burung malam bersahutan, menambah seramnya malam ini, apalagi ini malam jumat. Horror banget rasanya.

Anak-anakku Gita, Sutan dan si kecil Dede Faiqa tertidur pulas. Kantukpun menyerangku, dan tak terasa, mataku mulai tertutup. Tidur dengan nyenyak.

Pagipun tiba. Aku heran, anakku yang kecil tak bersuara, kakinya sudah lemas saat suamiku pulang. Aku minta suamiku memanggil orang kesehatan dan MakYayah, paraji yang biasa membantu melahirkan. Saat MakYayah datang, beliau kaget. Dan meminta segera dibawa ke rumah sakit. Saat anakku kugendong, tiba-tiba badannya melintir seperti pakaian yang diperas mau dijemur,  dan berwarna biru. Aku berteriak histeris, karena takut terjadi sesuatu pada anakku.

Ambulanpun tiba. Kami berangkat ke rumahsakit Guntur yang jaraknya -/+ 45km. Sesampai di rumahsakit, Dede Faiqa segera ditangani. Dan saat siang tiba, dokter bilang jika masa kritisnya sudah lewat. Aku sedikit lega. Akupun segera mandi, karena daripagi belum mandi. Setelah mandi, dokter bilang Defaiqa bisa dipindahkan keruangan bayi. Sesampai di sana, DeFaiqa kembali melintir badannya, biru seluruh badannya. Aku berlari terbirit-birit menuju ruang UGD, tak kuhiraukan sakit bekas melahirkanku. Suamiku sedang membeli perlengkapan ke supermarket.

DeFaiqa kembali dibawa keruang bayi, disiapkan alat pemacu jantung, kemudian disuntik antibiotic. Kasian sekali, anakku yang gemoy harus sudah mendapat suntikkan dan bantuan pemicu jantung. Namun Allah telah menuliskan takdirnya. Gadis kecilku dalam dekapanku melepaskan ruhnya. Kulihat ada warna biru dibalik kulitnya yang putih, berjalan mulai dari kaki terus menuju ke atas, dan…anakku, … bidadariku,…gadis kecilku,…pergi untuk selamanya. Aku hanya diam, sementara suamiku terus mengaji sambil meneteskan airmata.

Hanya 20 hari aku bisa menikmati kebahagian bersama gadis kecilku yang kini telah terbaring dalam pangkuan illahi robby di tanggal 6 April 2007, sehari sebelum ulangtahun bapaknya. Kepedihanku telah mengakibatkan mentalku sakit. Jiwaku sakit. Ragaku sakit. Sebulan aku tidak bisa berbicara. Dan didiagnosis terkena leukimia. Selama tiga bulan, aku mengkonsumsi obat leukimia sehari  33 butir, 11 pagi, 11 siang dan 11 malam. Dan dua minggu sekali aku harus kontrol ke Rs Dustira Bandung.

Hingga suatu hari datanglah temanku dan mengajak kuliah, agar aku tidak bersedih terus. Awalnya aku ragu. Karena kegiatan suami yang begitu padat, kondisiku yang sakit dan anak-anakku yang butuh perhatian. Belum lagi ijin dari suamiku, pasti sulit. Karena dia pasti khawatirkan kondisiku. Aku masih ingat, saat itu bulan Juni 2007, aku mulai masuk kuliah. Tak pernah kupikir jurusan yang ingin kuambil. Aku hanya mengikuti temanku,  Ibu Lilis Misgiyono, ternyata dia kuliah jurusan Bahasa Indonesia. Aku berusaha mengikuti kegiatan perkuliahan dengan serius. Walaupun suamiku sering melarangku setiap akan berangkat kuliah. Bukan karena tidak mau aku maju, akan tetapi suamiku takut aku dijauhi teman-teman atau kecapean karena kuliah, sehingga sakitku semakin parah.

Bulan Oktober 2007  aku ditawari untuk mengajar di salah satu MTs di Cigedug, Mts Daruttaqwa namanya. Aku terima saja padahal saat itu sekolah tersebut baru berdiri. Dan guru-gurunya kadang diberi honor kadang tidak, karena sekolah ini, sebagian siswanya dari golongan kurang mampu sehingga kami mengajar benar-benar ikhlas beramal. Waktu terus berlalu, kesibukanku telah membuatku lebih bisa menguasai diri dan mengikhlaskan kepergian anakku. Kujalani perkuliahan dari tahun 2007 hingga 2010. Aku bisa menyelesaikan kuliah dengan cepat, walaupun awalnya tertinggal. Dan di tahun 2010 Desember, aku bisa daftar untuk mengikuti penataran PPG. Dan Alhamdulillah tahun 2011, aku bisa ikut PPG, tepatnya bulan September 2011. Namun saat itu aku baru memiliki bayi,  yang berusia 3 bulan. Dan dengan terpaksa, PPG kujalani dengan membawa bayi kecilku dan pengasuhnya. Alhamdulillah 2 minggu PPG dijalani dengan lancar.

Namun, masalah timbul, saat yang lain cair sertifikasinya, punyaku tidak,  hingga 3 tahun lamanya. Berulang kali kutanya ke Depag, tapi jawabannya sabar dan sabar saja. Hingga akhirnya aku terpaksa berangkat sendiri ke Jakarta untuk mengurusnya. Dan hanya seminggu setelah itu sertifikasiku cair, hanya gara-gara NUPTK kurang satu angka saja. Aku bersyukur bisa menikmatinya, taklupa kuberbagi pada teman-teman di sekolah dan saudara=saudaraku.

Ternyata, kepergian anakku, menjadi perubahan jalan hidupku, yang awalnya tak pernah terbersit sedikitpun untuk bisa menjadi guru karena kegiatan kantor suamiku yang padat, ternyata Allah tunjukkan jalan lain untukku berbagi ilmu dan pengetahuan. Alhamdulillah terimakasih Ya Allah, terimakasih Ibu, bapak, ibu mertuaku (almarhumah}, suamiku sayang, anak-anakku, adik-adikku dan semua yang telah mendukungku dan menyemangatiku dari keterpurukan hingga bangkit kembali.

 

Selayang Pandang

 

Lilis Ernawati,  Lahir di Kuningan 3 Desember 1976. Pendidikan TK, SD,SMP dan SMEA di kota Kuningan.Kuliah S1 di STKIP Garut jurusan PBSI lulus 2010 dan  2018 melanjutkan kembali S2 di IPI Garut, lulus 2020 jurusan PBSI. Pertama kali mengajar di MTs Daarut Taqwa Cigedug Garut, lalu pindah ke MA Miftahul Anwar dan dosen di STAIDA Garut. Domisili di Garut dan sedang menggeluti hobi menulis dengan bergabung di grup menulis KPPJB Jabar, PGRI AISEI dan AGBSI. Buku sudah 10 buku antologi dihasilkan dan 2 buku solo dalam proses.

    Lomba yang pernah diikuti adalah Juara dua ngeblog cerpen “Rumahku Istanaku” dan Juara 1 ngeblog bersama AISEI cerpen “Kasih Sayang Guru Terhadap Anaknya”,  juara Harapan di TBM Kinanthi cerpen “Panggil Dia Ibu” serta juara harapan di lomba menulis blog  “Penamrbams.” Dan sekarang aktif menjadi moderator di kelas online yang diadakan oleh PGRI di bawah naungan Bapak Wijayakusuma.        Email. Ernawatililis433@gmail.com,

blog https://guruuningabersamabulieze.blogspot.com

http://lilisernawati083124.gurusiana.id/

WA. 089695353202.

LOMBA NGEBLOG

PERJUANGAN MENGGAPAI PENGAKUAN









 

 

 

 

 



Kunjungan ke Situs Ciburuy, pembelajaran Bahasa Indonesia

Ini adalah sekelumit kisah yang kualami di MAS Miftahul Anwar Bayongbong Garut berkaitan dengan Peran Guru dalam Merdeka Belajar.  Sekolah MAS Miftahul Anwar adalah sekolah yang terletak di pinggiran Garut tepatnya di Desa Lebak Lengsir Jl Raya Cigedug Km 1 Bayongbong Garut.



Dengan bermodalkan kenekadan dan keprihatinan terhadap pendidikan masyarakat Bayongbong, khususnya masyarakat Lebak lengsir, didirikanlah sekolah dan pesantren di bawah naungan Yayasan Miftahul Anwar. Yayasan ini pertama didirikan oleh Bapak H. Burhanuddin kemudian dilanjutkan oleh Bapak Aan dan sekarang pemegang tonggak utamanya dipegang oleh Bapak H. Tantan Khoerul Anwar.

Sebagai seorang pimpinan, Bapak Tantan Khoerul Anwar adalah sosok yang sederhana, murah senyum dan segala sesuatunya selalu dipikirkan dengan matang. Berdasarkan rasa keprihatinannya pada  sekolah di bawah Yayasan Miftahul Anwar ini, yang kurang mendapat perhatian dan pengakuan dari  pemangku kekuasaan, MAS Miftahul Anwar lebih menonjolkan kemampuan peserta didiknya dibidang Hafidz Quran. Nilai jual ini yang membuat MAS Miftahul Anwar sedikit demi sedikit mulai dikenal masyarakat luas. Sehingga semakin tahun, semakin banyak siswa yang mau bersekolah di Yayasan Miftahul Anwar. Namun, dengan banyaknya siswa, muncullah masalah baru, MAS Miftahul Anwar, kekurangan ruang. Dengan jumlah siswa yang hampir 300 orang, kami hanya memiliki 6  ruang saja. padahal semuanya ada 9 rombel. MAS Miftahul Anwar tidak memiliki ruang perpustakaan, ruang osis, laboratorium, ruang kesehatan, kamar mandi siswa dan guru, lab komputer, koperasi, pokoknya semuanya terbatas. MAS Miftahul Anwar  belum pernah dapat dana rehab dari pemerintah, padahal kami kekurangan ruang. Sementara para pemangku jabatan berlomba mendirikan yayasan dengan tujuan agar dana rehab bisa mereka dapatkan. Inilah kenyataan Indonesia. Siapa yang berkuasa, dia yang lebih kenyang dan lebih banyak fasilitas. Padahal belum tentu juga kucuran dana rehab pada mereka itu akan barokah hasilnya. Karena hak semua orang mereka gunakan sendiri. Miris rasanya jika mengingat dan melihat keserakahan semacam itu. Namun takada yang bisa aku lakukan. Kalaupun aku ngobrol dengan Pak H. Tantan, Beliau hanya senyum, ada  kesedihan yang tergambar dibibirnya. Karena tidak bisa berbuat banyak. Ujung-ujungnya beliau katakan bahwa, mari kita buktikan dengan prestasi anak didik kita.

 


Beliau benar-benar menerapkan ajaran Ki Hajar Dewantoro yaitu   yang memiliki 3 dasar yaitu Triloka pendidikan yang berbunyi  . 

Ing ngarso suntulodo, Ing Madya MangunKarso, Tut wuri handayani, 


Artinya jika kita posisi di depan, maka harus mejadi contoh kepada anak buah .  Sebagai Public figure  Berarti kita  harus jadi baik, harus jadi teladan. Apapun kelebihan  yang kita  miliki saat bersama dengan teman-teman, kita harus menjadi  Ing ngarso,  sungtulodo. Artinya jika kita dilihat dan dicontoh orang harus menjadi teladan yang baik.

Dan jika kita sedang berada di tengah teman-teman maka kita harus Mangun karso, harus banyak kreatifitas. Bikin inisiatif-inisiatif, lahirkan hal-hal yang baru yang  produktif. itu namanya Ing Madyo MangunKarso.

Dan yang terakhir jika kita berada di belakang peserta didik berarti kita harus   Tut Wuri handayani, yang artinya   para pendidik khususnya, harus  mengikuti anak didiknya menuntunnya, menguatkannya, memberdayakannya dan mendukungnya menjadi manusia yang mandiri. 


 


Praktik seni budaya, membatik



Melukis


 


Menyalurkan bakat musik



Praktik ngajar

 

Jadi sebagai seorang pendidik jangan sampai mendiktenya, memarahinya dan

menjadikannya seperti kita. Melainkan kita hanya membimbingnya saja. Sebagai contoh, sebagai manusia sudah takdirnya bisa berjalan, kita hanya mengajarinya, setelah itu biarlah mereka berusaha untuk bisa berdiri, berjalan dan berlari.

Berkaitan dengan merdeka belajar, MAS Miftahul Anwar, mulai membuat kelas-kelas sesuai dengan hoby masing-masing. Ada kelas IPA, Biologi, Matematika, Geografi, Sastra. Masing-masing siswa mendalami ilmu itu sesuai dengan bakat dan minatnya.Guru membimbing siswa secara intensif dan hasilnya alhamdulillah. 

MAS Miftahul Anwar mulai menunjukkan taringnya, mulai menjadi juara tingkat kabupaten untuk Geografi, juara sains hingga tingkat provinsi, hafal Al-Quran hingga 5 juz, 10 juz, 15 juz, 20 juz, bahkan hafal 1 Al Quranpun ada. 


Alumni MAS Miftahul Anwarpun bisa masuk perguruan negeri dan mendapatkan 

 

 

beasiswa. Dan Tahun ini ada 3 orang yang masuk ITB, akan tetapi  peserta didik MAS Miftahul Anwar merasa kebingunan, bagaimana mengantisipasi untuk kehidupan sehari-sehari jika beasiswa tidak langsung cair.

Dan ujung-ujungnya, siswa MA Miftahul Anwar mendapatkan bantuan dari DEPAG pusat berupa laptop dan uang pendidikan masing-masing 12.5 jt rupiah. 

 


Tugas guru sebagai penuntun telah dilaksanakan oleh kepala sekolah dan guru-guru MAS Miftahul Anwar, semuanya demi kemajuan generasi penerus. Walaupun dengan honor yang mungkin hanya cukup sekali makan para pemangku kuasa, akan tetapi bagi kami semua yang di bawah uang sebanyak itu bisalebih barokah. Semoga dimasa yang akan datang ada perbaikan dan pengakuan yang lebih dibandingkan dengan sekolah negeri. 

 



Peserta lomba olympiade Biologi



Peserta lomba olympiade campuran

 

Karena   tantangan pendidikan  saat ini  sangat kuat dan hebat. Di satu sisi kita sudah berusaha menerapkan aturan pemerintah sesuai dengan Tupoksi. Namun di sisi lain dengan kondisi saat ini, Kita harus benar-benar ekstra hati-hati  ke anak-anak.

Saya adalah guru di salah satu sekolah swasta di sana kami tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka, walaupun ada kekhawatiran, namun apa daya. Kemampuan  dan kesadaran masyarakat masih kurang. sehingga jika siswa pembelajaran dengan cara daring, maka tidak semua anak bisa mengikutinya. Selain itu, dengan adanya gawai, anak-anak sangat rentan dengan situs-situs porno. Hari itu sempat mendapat bantuan kuota, akan tetapi hanya bisa digunakan untuk permainan saja. 

Sepertinya pemerintah memberikannya dengan memaksa gerai-gerai memberikan ke sekolah-sekolah. Dan gerai-gerai, berprinsip yang penting sudah memberi, walau bukan kuota belajar, gak mengapa. 

 Dari sini saja peran pemerintah sudah tidak sinkron sementara kemampuan dan keterbatasan masyarakat untuk kuota sangat kecil.

 

 

Selayang Pandang

 

Lilis Ernawati,  Lahir di Kuningan 3 Desember 1976. Pendidikan TK, SD,SMP dan SMEA di kota Kuningan.Kuliah S1 di STKIP Garut jurusan PBSI lulus 2010 dan  2018 melanjutkan kembali S2 di IPI Garut, lulus 2020 jurusan PBSI. Pertama kali mengajar di MTs Daarut Taqwa Cigedug Garut, lalu pindah ke MA Miftahul Anwar dan dosen di STAIDA Garut. Domisili di Garut dan sedang menggeluti hobi menulis dengan bergabung di grup menulis KPPJB Jabar, PGRI AISEI dan AGBSI. Buku sudah 10 buku antologi dihasilkan dan 2 buku solo dalam proses.

    Lomba yang pernah diikuti adalah Juara dua ngeblog cerpen “Rumahku Istanaku” dan Juara 1 ngeblog bersama AISEI cerpen “Kasih Sayang Guru Terhadap Anaknya”,  juara Harapan di TBM Kinanthi cerpen “Panggil Dia Ibu” serta juara harapan di lomba menulis blog  “Penamrbams.” Dan sekarang aktif menjadi moderator di kelas online yang diadakan oleh PGRI di bawah naungan Bapak Wijayakusuma.        Email. Ernawatililis433@gmail.com,

blog https://guruuningabersamabulieze.blogspot.com, http://lilisernawati083124.gurusiana.id/

WA. 089695353202.

 


Kamis, 02 Juni 2022

PEJUANG YANG TERLUPAKAN

 


Pagi ini, seperti biasa kususuri jalanan pasar sambil belanja kebutuhan dapur. Kulirik kanan dan kiri, siapa tahu ada sasaran untuk kuwawancarai melengkapi buku soloku. Buku solo yang sengaja aku buat dengan cara mewawancarai mereka-mereka yang renta namun masih memiliki semangat juang untuk mencari nafkah. Tidak dengan meminta-minta, akan tetapi dengan bercucuran air raga.

Tak sengaja mataku tertuju pada sesosok tua yang berjalan tegap. Namun wajahnya tak bisa membohongiku, jika beliau ini sudah banyak makan asam garam kehidupan. Mungkin karena beliau senang berolahraga, atau pola makannya yang sehat sehingga badannya masih tegap.

Benar saja, saat kudekati, beliau langsung tersenyum. Beliau merasa senang sekali masih ada yang mau menyapanya. Saat kutanya usianya, wah tak disangka, beliau sudah berusia 82 tahun. Usia yang tidak muda lagi, tapi masih kuat membawa beban setiap hari.


Pak Solih, itulah namanya. Nama yang diberikan oranguanya dengan penuh doa dan harapan. Semoga menjadi orang yang solih dalam agama, yang solih dalam bergaul dengan sesama.

Pak Solih sebenarnya asli dari daerah pakidulan (selatan) Garut tepatnya di daerah

Rabu, 01 Juni 2022

Sepenggal Kisah Sepiring Pepaya

Sepenggal Kisah  Sepiring Pepaya

oleh Lilis Ernawati



Sepiring  pepaya tanpa dosa tiba-tiba menjadi santapan kakak dikala dahaga. Tanpa ampun kakak melahapnya saat panas mendera. Tak bisa kupercaya sepiring pepaya yang luar biasa merahnya dalam sekejap mata hilang dari pandanganku.

"mamaaaaaaah,... pepaya dimakan kakak, ... mamaaaaaaaaah, " teriakku.

Kumenangis meraung-raung, kesal luar biasa. Namun aku tak berdaya karena kakak langsung pergi begitu saja tanpa dosa. Sebutir pepaya yang di ambil dari kebun oma, dengan susah payah kukupas dan kupisahkan dari biji-bijinya. Namun kini telah hilang dari pandangan mata.

Aku hanya bisa menelan air ludah saja, inilah nasib seorang adik. Selalu kalah sama kakaknya. Andaipun harus melawan, aku tak berani. Karena kakak lebih galak dariku.

Mamah datang menghampiriku, dia langsung memelukku agar aku merasa tenang. Kupeluk mamah dengan erat  sambil melaporkan kejadian yang baru saja dilakukan oleh kakak. Mamah tersenyum sambil berkata, "Gakusah nangis sayang karena masih ada pepaya yang lebih matang lagi di belakang, "bujuk Mamah kepadaku.

Aku berlari ke belakang, sambil menghapus air mataku yang terurai. Terlihat sebutir pepaya yang lebih matang dari yang tadi aku kupas dan bersihkan. Aku senang sekali. Mulutku terbuka lebar sambil tertawa bahagia.

"Mamah, pepayanya besar dan merah yah, boleh gak buat aku semua?, "tanyaku. Mamah  hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya saja.



Kuambil pisau dan kukupas pepaya dengan hati-hati. Karena sayang jika daging pepaya yang merah terbuang percuma. Kubuang biji pepaya tadi ke dalam plastik yang ada biji pepaya sebelumnya. Namun saat biji tersebut akan dibuang ke tempat sampah, mamah tiba-tiba berteriak, "Jangan dibuang bijinya dek, itu bermanfaat lho buat menghitamkan rambut."

"Masa sih mah?, "tanyaku.

"Iya, sekarang kita jemurin dulu sampe kering, "kata ibu sambil mengambil biji pepaya dan dijemurnya menggunakan tampah yang terbuat dari bambu.

Setelah menjemur biji pepaya, aku kembali menghampiri pepaya yang telah dipotong-potong dan melahapnya dengan riang gembira, sambil bercanda dengan ibu.

Sorepun menjelang, kuangkat biji pepaya yang sudah terlihat keliput dan mengering.


Biji pepaya itu kemudian ditumbuk oleh ibu hingga halus, setelah itu diberi sedikit minyak kletik (minyak kelapa asli) yang biasa dibuat sendiri oleh ibu dari kelapa tua yang diparut  kemudian diambil santannya dan dimasak hingga keluar minyaknya.

Setelah ramuan biji pepaya jadi, kemudian dioleskan pada rambut serta alisku, katanya biar bagus warnanya. Aku menurut saja, karena ibupun menggunakannya, pasti ibu tidak bohong, itu pasti resep tradisional yang diajarkan oleh nenekku pada ibu.





Selasa, 31 Mei 2022

PERAN GURU DALAM MERDEKA BELAJAR

 


PERAN GURU DALAM MERDEKA BELAJAR

MELALUI PEMBENTUKAN SISWA BERKARAKTER SALIH, ALIM, AMIL


oleh Lilis Ernawati, M.Pd
MA Miftahul Anwar Bayongbong Garut


Peran guru dalam merdeka belajar menjadi salah satu program Mas Nadiem saat ini. Pembelajaran yang awalnya lebih banyak peran guru, kini dibalik. Siswa disuruh lebih berperan dibandingkan guru.
Berdasarkan hal tersebut, sekilas kita tengok dulu pengertian guru menurut  UU No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, pengertian guru adalah tenaga pendidik profesional yang memiliki tugas utama untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini melalui jalur formal pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Berdasarkan undang-undang tersebut,  guru adalah seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan, dan melatih muridnya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkannya tersebut.

Dalam hal ini, guru tidak hanya mengajarkan pendidikan formal, tapi juga pedidikan lainnya dan bisa menjadi sosok yang diteladani oleh para muridnya. Dari penjelasan tersebut, maka kita dapat memahami bahwa peran guru sangat penting dalam proses menciptakan generasi penerus yang berkualitas, baik secara intelektual maupun akhlaknya. 

 

 

 

Photo ini merupakan kegiatan mukhoyam  di sekolah kami, MAS Miftahul Anwar Bayongbong. Mukhoyam  atau kemah bakti  yang dilaksanakan di outdoor dengan tujuan untuk melatih fisik dan mental serta menumbuhkan semangat bela agama dan bangsa. Namun,   di sekolah kami lebih memfokuskan pada kegiatan hafalan Al-Quran. 

Dalam kegiatannya, guru-guru hanya membimbing, siswa diberikan kebebasan cara menghafal sesuai dengan keinginan mereka. Target hafalan adalah untuk kelas 10 juz 30, kelas 11 juz 29 dan kelas 12 bebas. Sehingga saat mereka keluar dari MAS Miftahul Anwar, minimal mereka sudah memiliki hafalan sebanyak 3 juz. Namun dalam kenyataannya banyak siswa yang hafalannya melejit hingga 6 juz, 10 juz, 20 juz bahkan ada yang sampai 30 juz. Ini merupakan pencapaian luar biasa.

Tempat yang kami gunakan untuk kegiatan mukhoyam ini adalah di sebuah villa yang tidak jauh dari sekolah kami. Kegiatannya berlangsung selama tiga hari. Hal ini kami lakukan untuk membentuk siswa-siswi yang berakhlakul karimah, yang berilmu, yang soleh dan memiliki kemampuan dalam bermasyarakat dan berwirausaha.

Ternyata saat saya mendengar kegiatan webinar pada   Kamis, 10 Februari 2022 Pukul 19.30  Wib dengan moderator Mr Bams dan narasumber  Bapak Dr Fahruddin Faiz, S.Ag, M.Ag dan  Ir Budi Rahardjo, M.Sc. Ph,D dengan Judul   Filosofi Pendidikan  Ahmad Dahlan Dalam Persfektif Peradaban Digital  di dalamnya mengajarkan hal yang sama. 


https://guruuningabersamabulieze.blogspot.com/2022/02/filosofi-pendidikan-ahmad-dahlan-dalam.html




Ada pesan moral yang utama dalam webinar ini


Kyai Ahmad Dahlan nama aslinya Muhamad Darwis, putra Katif di keraton Yogya pendiri Muhamaddiyah dan sebagai pahlawan nasional di bidang pendidikan. mempunyai  visi pendidikan  berikut ini.



Secara umum visi pendidikan  beliau  yaitu kyai, kemajuan, nyambut gawe.  Kalau Muhamaddiyah konteksnya saja namun isinya dari beliau. Keyword gagasan-gagasannya tentang pendidikan versi Ahmad Dahlan itu ada 3 yaitu 
  1.  kyai yang soleh hubungannya dengan karakter,
  2.  kemajuan hubungannya dengan alim/ilmu  berhubungan dengan profesionalitas keilmuannya dan 
  3. amil adalah pekerja, bagaimana ilmu  bisa kita terapkan membawa  kontribusi positif kemaslahatan  dalam kehidupan sehari-hari. 

Visi  pendidikan Kyai Ahmad Dahlan, mengidealkan manusia secara karakter baik, secara keilmuan profesional  dan secara karya produktif, bermanfaat bagi masyarakat.

Hal inipun menjadi tujuan pendidikan di MAS Miftahul Anwar, karena sekolah kami membentuk siswa siswi yang kyai/soleh dalam karakter, profesional dan bisa berkontribusi kepada masyarakat. Hal ini kami buktikan dengan kegiatan yang dilaksanakan di sekolah kami.
  1. dalam membentuk karakter, kami  berusaha menciptakan siswa-siswi yang soleh dengan mempelajari ilmu agama 
  2. berhubungan dengan ilmu, kami bisa mmbuktikan jika siswa siswi kami bisa menjadi juara tingkat kabupaten, provinsi, nasional dan beberapa siswa kami bisa masuk ke perguruan tinggi ITB, UNPAD,UIN IPI,UPI dll, walaupun sekolah kami swasta,  berada di pelosok dan sarana serta prasarana kamipun sangat terbatas akan tetapi semangat juang, siswa siswi kami luar biasa
  3. Siswa dan siswi kami belajar untuk bisa bermasyarakat mengamalkan ilmunya baik ilmu agama, maupun ilmu pendidikan lainnya.
Berikut adalah photo kegiatan yang sekolah kami laksanakan dalam mewujudkan belajar merdeka namun tidak lepas dari aturan dasar agama yang telah diterapkan oleh para ahli pendidikan sejak dulu seperti Kyai H. Ahmad Dahlan


kegiatan P3M kelas 11 menjadi pengisi acara pengajian di masjid-masjid sekitar tempat tinggal siswa. siswa berbagi tugas menjadi penceramah, pembaca ayat suci Al-Quran, pembawa doa, solawatan dan MC


Siswa belajar mengkafani mayat saat ujian praktik kelas 12


Siswa mampu menjadi pelajar yang berprestasi masuk PTN favorit

Siswa mampu melukis dengan baik menggunakan kanvas dan cat air


Siswa mampu membuat lampu tidur yang bisa diperjual belikan menggunakan media sendok plastik dan cup gelas plastik


Siswa mampu berperan sebagai tenaga pendidik untuk adik-adik kelasnya di tingkat SD

itulah kegiatan yang dilaksanakan di sekolah kami. Kami berusaha memfasilitasi siswa dalam mengembangkan bakatnya sesuai dengan kemampuan dan hobynya, sebagai perwujudan sekolah merdeka. Merdeka belajar mendukung banyak inovasi dalam dunia pendidikan, terutama kemajuan berbagai lembaga pendidikan termasuk sekolah ataupun madrasah, dengan membentuk pula kompetensi guru. 

Guru MAS Miftahul Anwar dalam mengajar tahu akan kebutuhan murid-muridnya sesuai lingkungan dan budaya siswa tersebut. 

Mengingat Indonesia memiliki banyak suku, adat istiadat dan budaya, tata Krama dan etika pada suatu daerah tentunya berbeda. Justru perbedaan yang ada membuat kita saling kenal mengenal, dan menjadi bangsa makmur dengan menghargai perbedaan yang ada, gotong royong yang sudah menjadi warisan terpuji leluhur secara turun-temurun. Nilai pancasila dan yang tertuang dalam Bhinneka Tunggal Ika dari kitab kakawin Sutasoma wajib menjadi nilai yang dipegang bersama oleh seluruh masyarakat Indonesia termasuk para pelajar kami di MAS Miftahul Anwar. 

Hal ini berhubungan dengan fungsi dan peran guru dibawah ini :

1. Mengajar Peserta Didik

Seorang guru bertanggungjawab untuk mengajarkan suatu ilmu pengetahuan kepada para murid. Dalam hal ini, fokus utama kegiatan mengajar adalah dalam hal intelektual sehingga para murid mengetahui tentang materi dari suatu disiplin ilmu.

 

2.  Mendidik Para Murid

Mendidik murid merupakan hal yang berbeda dengan mengajarkan suatu ilmu pengetahuan. Dalam hal ini, kegiatan mendidik adalah bertujuan untuk mengubah tingkah laku murid menjadi lebih baik.

Proses mendidik murid merupakan hal yang lebih sulit untuk dilakukan ketimbang mengajarkan suatu ilmu pengetahuan. Selain itu, seorang guru harus dapat menjadi teladan yang baik bagi murid-muridnya sehingga para murid dapat memiliki karakter yang baik sesuai norma dan nilai yang berlaku di masyarakat.

 

3.  Melatih Peserta Didik

Seorang guru juga memiliki tugas untuk melatih para muridnya agar memiliki keterampilan dan kecakapan dasar. Bila di sekolah umum para guru melatih murid tentang keterampilan dan kecakapan dasar, maka di sekolah kejuruan para guru memberikan keterampilan dan kecakapan lanjutan.

 

4.  Membimbing dan Mengarahkan

Para peserta didik mungkin saja mengalami kebingungan atau keraguan dalam proses belajar-mengajar. Seorang guru bertanggungjawab untuk membimbing dan mengarahkan anak didiknya agar tetap berada pada jalur yang tepat, dalam hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan.

 

5.  Memberikan Dorongan Pada Murid

Poin terakhir dari tugas seorang guru adalah untuk memberikan dorongan kepada para muridnya agar berusaha keras untuk lebih maju. Bentuk dorongan yang diberikan seorang guru kepada muridnya bisa dengan berbagai cara, misalnya memberikan hadiah.

 

Peran Guru dalam Pendidikan

 

Guru memiliki peran penting dalam pendidikan

Setelah memahami apa saja fungsi seorang guru, maka kita akan mengerti apa saja peran guru bagi para muridnya. Adapun peran guru adalah sebagai berikut;

 

  1. Pengajar, yaitu orang yang mengajarkan suatu ilmu pengetahuan kepada para anak didiknya.
  2. Pendidik, yaitu orang yang mendidikan muridnya agar memiliki tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
  3. Pembimbing, yaitu orang yang mengarahkan muridnya agar tetap berada pada jalur yang tepat sesuai tujuan pendidikan.
  4. Motivator, yaitu orang yang memberikan motivasi dan semangat kepada muridnya dalam belajar.
  5. Teladan, yaitu orang yang memberikan contoh dan teladan yang baik kepada murid-muridnya.
  6. Administrator, orang yang mencatat perkembangan para muridnya.
  7. Evaluator, orang yang melakukan evaluasi terhadap proses belajar anak didiknya.
  8. Inspirator, orang yang menginspirasi para muridnya sehingga memiliki suatu tujuan di masa depan, dll
Demikian sekilas kegiatan di sekolah kami, MAS Miftahul Anwar berkaitan dengan peran guru dalam mewujudkan merdeka belajar kepada para siswa siswinya.  

 

Daftar Pustaka :


Literasi : https://www.maxmanroe.com/vid/umum/pengertian-guru.html


web|url=https://journal.untar.ac.id/index.php/baktimas/article/download/2903/1779&ved=2ahUKEwir5Lz55f_2AhWlRWwGHUmuCngQFnoECAMQAQ&usg=AOvVaw13y2_zYW-Pbh5e_M5QpDJ4


web|url=https://ditsmp.kemdikbud.go.id/menerima-perbedaan-dan-menghargai-keragaman-melalui-toleransi/


fiorentia viviane lesmana