Pengikut

Senin, 13 Desember 2021

 

Hikayat Si Bahlul (Bagian – 3)


IslamIndonesia.id – Hikayat Si Bahlul (Bagian – 3)

 

Saudagar dan Penjual Minyak Wangi

Setelah waktu zuhur sinar matahari sangat terik di atas langit Baghdad. Kebanyakan orang berdiam diri di rumah mereka pada waktu-waktu seperti ini karena suhu panas yang tak tertahankan. Oleh karena itu, sudut-sudut kota menjadi tenang dan sunyi.

Biasanya tidak lama setelah suhu panas berakhir, jalan-jalan yang sepi itu akan dipenuhi oleh lalu lalang manusia dan hiruk pikuk aktivitas jual beli. Namun kali ini, di waktu yang sepi dan terik ini terdengar langkah kaki menjejak bumi seribu satu malam dengan derai air mata dan putus asa. Walau cuaca begitu panas, dia menangis di salah satu gang sempit di kota Baghdad.

Munculnya suara kesedihan dan rintihan dari seorang miskin yang melintasi sudut kota yang sangat panas adalah hal yang jarang terjadi. Dia berhenti di pojok jalan sambil menumpahkan segala dukanya dan menyandarkan kepalanya di tembok yang rapuh. Tak lupa ia pun membawa sapu tangannya untuk menghapus derasnya air mata.

“Apakah gerangan yang membuatmu sedih, kawan?” demikian pertanyaan yang menggelayuti pikiran Si Bahlul.

Hampir semua penduduk Baghdad pernah mendengar sosok Si Bahlul. Dia seorang ‘alim, ahli ibadah, seorang beriman, dan tidak cinta dunia. Dia telah berjanji mewakafkan dirinya untuk menolong kaum tertindas dan membela mereka meskipun dengan kegilaannya yang tidak diakui orang banyak.

Tingkah lakunya selalu saja menggelitik akal, namun hanya sedikit manusia yang memahami rahasia di balik perilakunya itu.

Nah, orang yang menangis tersedu-sedu ini sama sekali tidak mengenal sosok si Bahlul bahkan belum pernah mendengarnya. Di kota Baghdad, hanya Si Bahlul saja yang berjalan di tengah teriknya matahari. Maka berjumpalah kedua orang ini dan terjadi percakapan di antara mereka.

Aku mohon kepadamu tuan, usah kau tanya hal yang menimpaku. Menceritakannya hanyalah menambah deritaku! Hanya kepada Allah saja aku mengeluh duka lara.” tukas sang pemuda.

Si Bahlul merangkul sang pemuda seraya berkata, “Benar bahwa Allah semata tempat mengadu seluruh hamba, namun boleh jadi Allah jua yang melepaskan belenggu kesusahan dengan perantara diriku.

Sang pemuda penuh kesusahan menghela nafas seraya berkata, “Baiklah tuan. Aku ceritakan kepadamu…. Aku datang ke Baghdad membawa harta dalam jumlah besar yang telah aku kumpulkan sepanjang hidupku sebagai modal untuk berdagang. Dengan begitu, aku berharap memperoleh keuntungan yang berlipat ganda. Karena seringnya aku berkeliling mencari-cari barang-barang yang aku ingin beli, maka aku putuskan untuk menyimpannya di dalam tembikar. Kemudian aku putuskan menitipkannya kepada penjual minyak wangi di pasar. Aku melakukannya untuk menghindari pencuri dan kehilangan.

Sang pemuda terdiam sejenak dan Si Bahlul mulai mengerti dan menatapnya penuh rasa penasaran. Sang pemuda melanjutkan kisahnya, “Demikian tuan, lalu aku membawa tembikar berisi hartaku dan menuju kios penjual minyak wangi yang menyiratkan wajah takwa dan jujur. Aku tidak mempercayai orang selainnya yang amanah menjaga hartaku… namun… sungguh aku menyesalinya!”

Kalimat itu mencekik sang pemuda dan mulai menghempaskan tangisnya seperti semula. Si Bahlul tanpa perlu mendengar kisah selanjutnya, ia telah memahami akhir cerita. Bahwa sang penjual minyak wangi mengingkari titipan saudagar malang tatkala ia memintanya kembali.

Si Bahlul berpikir sejenak dan menemukan jalan keluar sebelum mengerlipkan matanya. Ia pun berkata, “Simpanlah air matamu tuan, alhamdulillah aku telah mendapatkan cara memperoleh kembali seluruh hartamu secara utuh. Percayalah kepadaku dan jangan bersedih.

Kemudian Si Bahlul menanyakan alamat penjual minyak wangi yang dititipkan harta saudagar malang itu. Mereka sepakat untuk berangkat ke sana keesokan paginya sebelum matahari meninggi. Mereka juga sepakat pergi sendiri-sendiri seolah-olah tidak pernah berjumpa sebelumnya.

Sang saudagar bertanya, “Ketika aku melihatmu apa yang harus aku katakan?

Si Bahlul menjawab, “Ketika engkau melihatku, jangan menyapaku sedikit pun. Engkau hanya meminta harta titipanmu kepada penjual minyak wangi, tidak lebih!

Sang saudagar mulai tenang hatinya, tidurnya pun nyenyak setelah diyakinkan hartanya akan kembali kepadanya.

Hari berikutnya, sebelum matahari meninggi, Si Bahlul mengenakan pakaian yang indah dan mahal. Ia mengubah tampilannya supaya tidak dikenali oleh pedagang minyak wangi. Kemudian ia pergi ke kedai sang penjual minyak wangi dengan tembikar di tangannya yang pada masa itu, umumnya untuk menyimpan pundi-pundi harta.

Si Bahlul mengucapkan salam kepada penjual minyak wangi dan berkata, “Sesungguhnya aku bertekad melakukan perjalanan jauh dengan izin Allah ke Khurasan.

Wajah penjual minyak wangi mulai sumringah mendengarkan Si Bahlul dan berharap ia melanjutkan pembicaraannya. Si Bahlul pun berkata, “Oleh karena itulah aku datang kepadamu mengingat kesulitan yang aku alami. Aku pernah mendengar keutamaanmu dan terpercaya menurut beberapa orang. Semoga Allah menjadikanmu sebagai penolongku.

Penjual minyak wangi pun senang bukan kepalang mendengarnya. Namun begitu dia merasa Si Bahlul masih belum yakin untuk menitipkan amanat kepadanya. Maka dia mencoba meyakinkan Si Bahlul, “Aku akan membantu anda tuan atas segala hal yang anda inginkan. Namun anda tidak perlu risau dan berpanjang kata, mengingat pekerjaanku menumpuk. Kiriman sedang dalam perjalanan ke sini.

Penjual minyak wangi mengatakannya sambil menata botol-botol di rak kedainya. Sementara Si Bahlul menggenggam erat tembikar yang mahal dan dipenuhi perhiasan dalam benaknya.

Bahlul berkata, “Dengar wahai orang saleh. Di dalam tembikarku ini perhiasan senilai tiga puluh dinar emas. Jumlah itu sama saja dengan harta karun sebagaimana anda memakluminya.

Si Bahlul mengelabui perasaan penjual minyak wangi karena ia tahu keserakahannya atas harta. Lalu ia melanjutkan, “Ketika aku mendengar sifat terpercaya anda mengemban amanat, dan yang terbaik menurutku adalah menitipkan perhiasan ini kepadamu karena khawatir tercuri atau hilang dalam perjalananku menuju Khurasan. Bagaimana menurutmu?

Alangkah senangnya sang penjual minyak wangi mendengar ucapan Si Bahlul. Tetapi ia berhasil menutupi rasa senangnya di hadapan Si Bahlul. Dia segera mengatakan, “Sungguh engkau akan membebaniku dengan menjaga amanah dalam jumlah sangat besar. Namun biarlah. Aku akan memikulnya semata karena kecintaanku demi meraih pahala dari Allah swt.

Saat itu tibalah saudagar malang ke kedai penjual minyak wangi. Ketika ia masuk, Si Bahlul sedang mengeluarkan isi tembikarnya beberapa perhiasan di atas meja di hadapan keduanya. Tentu saja semuanya merupakan perhiasan palsu yang terbuat dari kaca yang murah!

Sungguh dilematis keadaan yang dihadapi oleh penjual minyak wangi. Yang tersulit adalah menutupi kesenangannya memperoleh harta titipan seperti ini. Namun bersamaan dengan itu, tanpa sempat memeriksa keaslian perhiasan itu, ia harus mengalihkan perhatiannya kepada saudagar yang menyapanya, “Aku datang hendak memintamu mengembalikan amanah yang pernah aku titipkan kepadamu.

Tentu saja sang penjual minyak wangi tidak dapat mengingkari titipan saudagar itu. Seandainya ia lakukan hal itu, maka ia akan mengalami kerugian karena tidak memperoleh titipan saudagar lain berupa tembikar berisi perhiasan dalam jumlah besar dan mahal. Maka ia memutuskan untuk mengorbankan titipan sebelumnya dan mengambil titipan yang berjumlah setara dengan tiga puluh dinar emas – pikirnya.

Sang penjual minyak wangi segera mengutus pelayannya untuk mengantar titipan saudagar yang sebelumnya ia ingkari.

Sementara Si Bahlul tetap berbincang-bincang di kedai sehingga pelayan mengembalikan titipan saudagar yang keluar dari kedai dengan riang gembira. Setelah itu Si Bahlul menyerahkan tembikarnya kepada penjual minyak wangi dan berterima kasih kepadanya karena mau menjaga amanahnya. Lalu keluar dari kedai!

Apa gerangan yang terjadi atas penjual minyak wangi? Dia sabar menunggu pelayannya berlalu dan mengeluarkan isi tembikar Si Bahlul berharap perhiasan-perhiasan mahal dan menghitungnya sendirian.

Alangkah malangnya!!

Ia mendapatkan tembikar itu penuh dengan kaca yang disepuh, kerikil berwarna-warni, dan perhiasan-perhiasan palsu!

Ia pun tersadar dan mengingat-ingat paras Si Bahlul dan menerka-nerka dimana pernah bertemu dengannya sebelumnya. Dia mirip dengan orang yang dikenal dengan baik oleh warga Baghdad.

Ya. Ya. Dia adalah Bahlul!” gumamnya. Dialah orang gila yang tidak ada orang melebihi kepandaiannya.

Namun sayang sekali penjual minyak wangi tidak dapat mengulang peristiwa itu

Hikayat Bahlul 2

 PAKAIAN TERINDAH


Dalam satu zaman ada dua sosok yang sama-sama terpandang.

Harun Al-Rasyid.. Seorang raja yang memiliki kemuliaan dan kekayaan berlimpah, tersiar luas kekuatan, kekuasaan dan hartanya di muka bumi.

Seorang lagi adalah Musa Al-Kazhim, silsilah ketujuh Nabi Muhammad saw. Dia seorang mukmin yang tidak cinta dunia, senantiasa melaksanakan salat dan puasa sepanjang hidupnya. Dia tidak pergi haji melainkan dengan berjalan kaki. Pemilik rumah sederhana yang didalamnya ia duduk dan tidur bersama mushaf di tangannya.

Banyak sekali hak-hak kaum muslimin yang ditunaikan kepadanya, namun tidak ada yang sampai kepadanya melainkan ia tunaikan kembali kepada orang-orang fakir dan lemah.

Jalan hidup dan keteguhan Musa Al-Kazhim terkenal di kalangan kaum muslimin. Tatkala berlimpah rezeki, dia pun menyegerakannya untuk dibagikan kepada orang-orang fakir sehingga tersiar sebuah ungkapan, “Sungguh aneh bagi orang-orang yang mengetahui keteguhan Musa namun masih mengeluhkan sedikitnya harta lagi merasa fakir.”

Para pecinta Musa Al-Kazhim tidak pernah menikmati karunia yang diperolehnya sendirian. Bahkan membaginya kepada orang-orang yang menebarkan kebencian atasnya. Lalu tidak membalas perlakuan buruk mereka.

Ini merupakan pekerti kenabian yang menyebabkan pecinta Keluarga Nabi Muhammad saw semakin bertambah hari demi hari. Para pengikut Musa Al-Kazhim tidak berpisah darinya untuk mereguk cawan pengetahuan suci Muhammadi dan keutamaan para Nabi yang tinggi.

Demikian mata-mata Harun Al-Rasyid menceritakan gambaran keagungan Al-Kazhim yang membuat geram hati tuan mereka. Sehingga dia mencari cara yang memungkinkan manusia menghapus nama Musa Al-Kazhim dari ingatan mereka bahkan membunuhnya karena kedengkian dan takut kehilangan kerajaannya. Ia tidak mampu selain memenjarakan Musa Al-Kazhim berharap menjauhkan pengaruhnya dari kaum muslimin dan menutup majelisnya.

Sungguh jauh dari harapannya! Penjara atas Musa Al-Kazhim justru menjadikan pengikutnya kian bertambah. Hal ini disebabkan mereka mengenal kehidupan beragamanya, kesabarannya, ketabahannya dalam menghadapi penindasan dan jiwa penolongnya atas kaum miskin dan lemah.

Mari kembali ke istana Harun Al-Rasyid yang dipenuhi dengan biduanita, budak-budak, dengan tarian, nyanyian dan minuman. Ya, istana-istana Harun penuh dengan pesta berbagai macam senda gurau untuk melupakan kesedihan dan meringankan rasa susah tidur mereka.

Tiba-tiba suatu hari datang salah satu mata-mata membawa kabar pahit di telinganya seraya berkata, “Wahai tuanku, kerabatmu Abu Wahab, yang dijuluki Bahlul seringkali bersama Musa Al-Kazhim. Bahkan ia menjadi pendukung setianya. Dia berbicara kepadanya dengan bahasa pengagum berat.”

Harun memukul kepalanya setelah pembawa berita menutup kalimatnya dan mengertukkan gerahamnya karena marah. Ia pun berteriak, “Sungguh pandir saudaraku itu! Celakalah ia seandainya kabar itu benar!”

Kemudian Harun memanggil para pengawal kerajaan, “Datangkan Si Bahlul kepadaku sekarang juga! Dalam keadaan hidup atau pun mati!”

Prajurit berlari serempak sehingga saling bertabrakan satu sama lain. Sesungguhnya kemarahan Harun adalah hal biasa. Hanyalah orang-orang yang hidup di istana yang mengetahuinya. Yang diketahuinya hanyalah kekuasaan dan yang dipedulikan olehnya hanyalah pemerintahan.

Sungguh malang Si Bahlul tatkala digiring oleh prajurit istana bagaikan pelaku kejahatan berat tanpa diberi kesempatan untuk tersenyum sesaat atau meringankan belenggunya seujung jari pun.

Si Bahlul berdiri tegap di hadapan raja sambil mendengarkan hentakan suaranya, “Benarkah engkau adalah pengagum dan pengikut Musa bin Ja’far? Benarkah engkau menolong musuhku? Engkau mengkhianatiku dan malah mencintainya? Jawablah yang sesungguhnya! Jika tidak…”

Si Bahlul menganggap wajah Harun sedang mengeluarkan kilat dan petir. Paras wajah Si Bahlul tidak berubah sedikit pun seolah-olah tidak acuh dengan perintahnya!

Harun menunggu jawaban darinya, namun tidak sepatah kata pun meluncur dari lidahnya. Sang raja kian bertambah marah dan lepas kendali. Ia merasa perlu kekuatan besar agar tidak menjadi gila.

Akhirnya ia berhasil mengendalikan kemarahannya dan berkata, “Kau kira bisa memperdayaku dengan berpura-pura gila di hadapanku? Tidak, wahai saudaraku! Siksaku amat pedih atas tindakanmu dan keluar dari aturanku.”

Si Bahlul pun mulai bicara dan bertanya dengan tenang, “Apakah hukuman yang akan aku peroleh wahai Amirul Mukminin andai aku benar-benar penolong Musa Al-Kazhim?”

Harun berteriak hingga menggetarkan dinding istana ketika Bahlul menimpalinya dengan tidak acuh kepadanya. Dia memanggil para prajurit untuk memberi pelajaran kepada salah satu budak yang membangkang perintahnya. Mereka pun bergegas sambil menanti aba-aba untuk menghukum seorang pembangkang dengan hukuman setimpal atas kejahatannya.

Harun tercenung memikirkan dampak atas hukuman yang dijatuhkannya.

Benar bahwa yang dilakukan Si Bahlul adalah dosa yang tak terampuni. Namun pada saat yang sama perlu direnungi akibat yang akan terjadi, jika dia berlebihan dalam menghukum Si Bahlul, maka ia akan mendapatkan kritik yang cukup besar. Pertama, tentu saja dari pihak keluarga dan kerabatnya, karena Si Bahlul merupakan kerabatnya sendiri. Kedua, orang-orang akan menggunjing dirinya dan mencelanya, “Sesungguhnya tuan kita, Harun, hanya mampu menyiksa orang-orang gila.”

Akhirnya ia memutuskan, “Aku perintahkan kalian melepaskan pakaian Si Bahlul. Kemudian kalian menggantinya dengan segala yang disandang di punggung kuda.”

Harun diam sejenak menunggu mereka melaksanakan perintahnya sedikit demi sedikit. Kemudian berkata, “Aku ingin kalian membungkam mulutnya. Jangan lupa memakaikan tali kekang di mulutnya. Lalu araklah ia mengelilingi sudut-sudut kota, setiap jalan dan gang. Aku ingin setiap penduduk Baghdad melihatnya agar menjadi pelajaran. Kemudian kembali lagi ke istana!”

Setelah Khalifah selesai berbicara, para prajurit segera melaksanakan segala titahnya. Mereka menggiring Bahlul yang memakai pakaian aneh itu agar menjadi olok-olok manusia. Kemudian mereka mengelilingi jalan-jalan dan gang-gang kota Baghdad sehingga orang-orang tertawa, kaget dan sebagian mereka mencelanya.

Setelah berjam-jam Si Bahlul diarak keliling kota Baghdad, kembalilah ia ke istana dan berdiri di hadapan Harun dengan tegap menengadahkan kepalanya seperti biasa berlagak bodoh di hadapan Harun.

Tiba-tiba datanglah seorang menteri yang tidak hadir saat hukuman dijatuhkan atas Bahlul. Dia terperanjat menyaksikan penampilan Si Bahlul sementara Harun dalam keadaan marah dan emosional. Dia bertanya-tanya, “Wahai Bahlul, apakah yang telah engkau perbuat sehingga Khalifah menghukummu sedemikian rupa?”

Si Bahlul tak bergeming dan tetap tenang tak acuh dengan yang didengarnya. Harun bangkit dari kursi wasirnya dan menunjuk Bahlul dengan jarinya yang dihiasi dengan cincin-cincin bernilai tinggi seraya berkata, “Tidakkah engkau dengar pertanyaan sang Menteri? Jelaskan kepadanya yang telah engkau perbuat.”

Raut wajah Si Bahlul tidak berubah sedikit pun. Ia tetap tenang dan penuh percaya diri berkata kepada Menteri, “Sesungguhnya Amirul mukminin mengundangku untuk bertanya sesuatu. Lalu aku menjawabnya dengan sebenar-benarnya. Beliau kagum atas jawabanku dengan serta merta menyematkan pakaiannya yang agung dan indah sebagaimana engkau lihat dan menghadiahkannya untukku.”

Dalam waktu sekejap Bahlul menyulap suasana penuh amarah dan emosional menjadi ruangan penuh gelak tawa. Dalam sekejap pula menyulap keadaan Harun larut dalam tawa sebagaimana hadirin. Sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengejek Bahlul lagi dan mengganti penghinaan menjadi kepahlawanan.

Pada kenyataannya, ia berhasil menelan kepahitan tanpa disadari oleh siapa pun.

Harun merasa tidak cukup dengan hal itu, dia takut malam itu menjadi bahan ejekan dan penghinaan rakyat terhadapnya. Sehingga ia memerintahkan mereka melepaskan kembali pakaian Si Bahlul dan menggantinya dengan pakaian kerajaan terbaik sebelum meninggalkan istana.

Penjahit khusus membuatkan untuknya sebagaimana perintah Harun. Namun sikap Bahlul di luar dugaan.

Bahlul menolak hadiah Harun, “Aku berhati-hati untuk menerima hadiahmu wahai Amirul Mukminin. Aku tidak membutuhkan pakaian sepertimu.”

Bahlul mengatakannya kemudian mengenakan pakaian lusuhnya dan bergegas meninggalkan istana di saat hadirin tercengang.

Hikayat Bahlul 1

 Madrasah Si Bahlul


Seseorang berjalan di salah satu jalan di sebuah negeri bernama Baghdad (Ibukota Irak sekarang). Ia mengenakan pakaian lusuh. Tangannya menggelayuti sebuah tongkat sebagai penopang jalannya.

Rasa sakit mengiris hatinya, kesedihan menyelimuti kemarahannya, ia terekam di pelupuk matanya yang dibasahi air mata. Pertanyaan besar menggelayuti pikirannya, “Apa yang mungkin ia lakukan untuk menyelamatkan kaum muslimin dari penindasan dan kezaliman sang Khalifah yang merupakan kerabatnya sendiri, Harun Al-Rasyid beserta pendukungnya?”

Dia memahami alasan gurunya, Musa Al-Kazhim, yang menasihatinya agar berlaku seperti orang gila. Tujuannya adalah menjaga dirinya dari kejahatan Harun. Dia seorang yang senantiasa mendengarkan dan mematuhi nasihat gurunya. Dia tetap berusaha menyembunyikan cita-cita agung di dalam lubuk hatinya untuk menjadi martir di jalan agama Muhammad saw dan menegakkan panji-panji Islam.

Namun demikian dia kembali tersenyum riang saat mengingat ajaran Keluarga Nabi Muhammad Saw. Di antaranya ialah mengatakan kebenaran di hadapan seorang pemimpin yang lalim di hadapan Allah SWT bernilai sama dengan berjuang mengangkat senjata.

Suatu kali Si Bahlul dengan heran memperhatikan sejumlah pemuda dari berbagai penjuru menuju ke sebuah tempat yang sama. Dia menyadari bahwa di salah satu daerah di Baghdad, tinggal seorang guru besar yang sangat terkenal. Rumahnya menjadi salah satu madrasah bagi para pecinta ilmu di Baghdad kala itu.

Si Bahlul sendiri tidak pernah berguru kepadanya. Hanya saja terlintas dalam benak Si Bahlul untuk menghadiri majelis ilmunya. Dia senang untuk mendengar dan memperhatikan pelajaran dalam majelis itu. Dia menyadari bahwa murid-murid sang guru semakin bertambah karena mengetahuinya sebagai seorang ulama yang paling mendalam ilmunya di Baghdad saat ini. Jadi, inilah kesempatan emas bagi Bahlul untuk belajar kepadanya.

Perlahan Si Bahlul melangkah bersama para murid-murid lainnya ke tengah-tengah majelis sang guru yang berwibawa lagi wicaksana. Melihat Si Bahlul hadir, murid-murid lainnya memberikan ruang untuknya, namun dia memilih untuk duduk di pintu keluar majelis. Murid-murid tertegun memperhatikan sang guru dengan seksama dan sungguh-sungguh.

Sang guru tidak menyadari kehadiran Si Bahlul seraya berkata, “Ketahuilah, mayoritas kaum muslimin meyakini bahwa Iblis akan disiksa dengan api neraka pada hari kiamat, namun aku menolaknya.”

Sang guru membaca kebingungan para muridnya yang tergambar pada wajah mereka. Salah satu murid yang cerdas segera bertanya kepada sang guru sambil berdiri, “Mengapa demikian wahai Guru?”   Sang guru terdiam sejenak dengan pertanyaan yang di luar dugaannya.

Namun dia segera menjawabnya untuk menyingkirkan kegundahan mereka, “Bukankah kalian tahu bahwa Iblis tercipta dari api? Kalian yakin bahwa neraka hanyalah berupa api yang membara. Jadi, bagaimana bisa api membakar sejenisnya?”   Kemudian sang guru kembali menatap wajah muridnya satu persatu sambil menerawang emosi mereka. Si Bahlul pun di antara mereka. Dia tidak bergeming tanpa menampakkan raut keraguan sedikit pun.

Sang guru menjadi tenang hatinya karena tidak ada yang berbicara sepatah kata. Dia pun melanjutkan pelajarannya seperti sedia kala. Dia berkata, “Persoalan lain yang aku tidak setuju adalah keyakinan sebagian besar kaum muslimin bahwa Allah tidak mungkin dilihat secara kasat mata. Bagaimana mungkin sesuatu yang berwujud namun tidak dapat dilihat?”   Sang guru kembali menatap wajah muridnya satu persatu dan semuanya yakin bahwa hal itu adalah persoalan yang aneh dan di luar kemampuan mereka dan mereka terpesona dengan kepandaian sang guru.

Tiba saatnya sang guru menyampaikan pendapatnya kembali seraya berkata, “Wahai manusia, mereka berkata bahwa Allah swt pencipta segala sesuatu, namun mereka meyakini bahwa manusia adalah pelaku yang memiliki ikhtiar dalam perbuatannya. Hal ini berarti adanya keterpaksaan sekaligus ikhtiar dan tentu saja mustahil dalam logika.”

Para murid semakin tercenung atas hal yang disampaikan oleh sang guru.

Semua terdiam selain satu di antaranya seraya bertanya, “Bagaimana pendapat anda wahai Guru?”

Sang guru pun memperbaiki sorbannya seraya berkata, “Pendapatku bertentangan dengan hal itu. Semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Allah swt dan manusia tidak memiliki ikhtiar atas perbuatannya.”

Tidak lama kemudian, tanpa diduga siapa pun, terjadilah sesuatu. Batu! Ya. Sebuah batu melayang dari arah hadirin dan menimpa kepala sang guru. Batu itu tepat mengenai di sorban sang guru dan mengucurkan darah segar dari kepalanya. Majelis pun gaduh dengan pencarian sumber batu itu. Si Bahlul!

Mengapa Si Bahlul melakukan hal itu terhadap seorang terpandang di kota Baghdad? Murid-murid riuh dan menunjuk marah ke arah Si Bahlul. Dia pun tenang menghadapi mereka sadar mereka tidak akan membalasnya karena dia salah satu kerabat Khalifah Harun Al-Rasyid.

Sang guru menekan kepalanya dengan tangannya untuk menghentikan pendarahan, gusar dan membentak Si Bahlul, “Aku akan mengadukanmu kepada Khalifah!”   Si Bahlul menjawab dengan tenang, “Aku ikut denganmu!”

Sang guru menatap tajam kepada Si Bahlul sambil berkata, “Bersaksilah atas peristiwa ini di hadapan Khalifah wahai murid-muridku!”

Dua orang ini pun berjalan menuju Khalifah. Sang guru berjalan tergesa-gesa sambil memegang kepalanya dan murid-muridnya di sekelilingnya. Sementara Si Bahlul berjalan dengan tenang dan wibawa seolah tidak menghiraukan peristiwa yang telah terjadi.

Tentu saja sang guru lebih dahulu tiba di hadapan Khalifah sehingga lebih leluasa menceritakan peristiwa yang terjadi kepadanya. Sang Khalifah pun tertegun mendengarkannya seolah tak percaya atas peristiwa itu mengingat kedudukan sang guru yang terpandang di kota Baghdad dan menjadi panutan banyak orang di sana.   Sang Khalifah pun berang atas perlakuan kerabatnya itu. Dia memerintahkan prajurit istana untuk menghadirkan Si Bahlul ke hadapannya.

Para prajurit  berlari seirama mencari Si Bahlul. Mereka pun menemuinya sedang berjalan sendiri menuju istana sang Khalifah.   Si Bahlul masuk ke dalam majelis sang Khalifah tanpa mengiraukan olok-olok hadirin. Khalifah Harun menghardiknya, “Wahai Bahlul, benarkah engkau yang telah melontar kepala tokoh agung ini dengan batu?”

Si Bahlul merapikan jubahnya sebagaimana yang biasa dilakukan oleh pejabat seraya berkata, “Tidak.. Aku tidak melakukannya!”   Sang Guru lepas kendali dan berteriak, “Apa?? Apa yang engkau katakan?” Sungguh engkau telah menzalimi diriku! Engkau tahu para hadirin menyaksikannya dengan mata kepala mereka!”

Si Bahlul dengan penuh ketenangan menjawabnya, “Engkau menuduhku telah berbuat zalim wahai guru? Karena itu, mohon katakan kepadaku kezaliman apakah yang aku lakukan atasmu?”

Sang Guru menjawab, “Engkau telah melontar kepalaku dengan batu! Rasa sakit yang aku alami tidak tertahankan.”

Tidak cukup sampai di situ. Sang Guru menoleh ke hadapan murid-muridnya seraya bertanya, “Bukankah kalian menyaksikannya? Tidakkah kalian melihat Si Bahlul melontar kepalaku dengan batu?” Si Bahlul menatap Sang Guru dan bertanya, “Engkau merasakan sakit? Dimanakah sakit itu? Mohon perlihatkan kepadaku!”

Sang Guru membentaknya, “Apakah rasa sakit dapat dilihat supaya aku dapat memperlihatkannya kepadamu?”

Si Bahlul tersenyum dan merasa rencananya berhasil. Dia berkata, “Hahaha… Rasa sakit tidak berwujud kalau begitu. Engkau telah berdusta atas yang anda katakan. Sesungguhnya engkau berkata dalam majelismu bahwa sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh sesuatu berarti tidak berwujud.”

Si Bahlul menoleh ke arah murid-murid sang Guru, “Wahai tuan-tuan, sesungguhnya batu tidak mungkin menimpa kepala guru kalian! Manusia berasal dari tanah, dan batu pun berasal dari tanah. Demi Allah, mana mungkin tanah menyakiti tanah?”

Sang Guru tersadar dengan pernyataan Si Bahlul tersebut.

Si Bahlul yang dituduh gila telah membungkam diskusi tentang persoalan aqidah.

Sambil menyingkirkan debu dari jubahnya Si Bahlul berkata kepada sang Khalifah, “Sang guru meyakini bahwa manusia tidaklah memiliki pilihan atas perbuatannya. Jadi, tidak seorang pun dapat menyalahkanku atas perbuatanku terhadapnya karena menurut pendapatnya aku tidak memiliki ikhtiar atas tindakanku.”

Harun pun terperanjat dan seolah membuat darah Sang Guru membeku. Sementara para muridnya berkumpul di satu titik sambil memandangi guru mereka dengan penuh keraguan dan tidak lagi mempercayainya.

Si Bahlul keluar dari majelis tersebut meninggalkan Sang Guru yang penuh rasa sesal dan bersalah di hadapan Khalifah. Dia tidak mengetahui bahwa dia telah menuliskan kisahnya dalam lembaran sejarah dengan tinta darahnya

Minggu, 12 Desember 2021

Benarkah Bahlul artinya tukang bohong? siapa Bahlul itu?

 "BAHLUL"



"Bahlul" adalah kata yang biasa kita gunakan untuk mensifati orang yang bodoh, tapi tahukah dari mana asal kata itu..?


Dikisahkan, sesungguhnya BAHLUL seorang yang dikenal sebagai orang gila di zaman Raja Harun Al-Rasyid (Dinasti Abbasiyah).


Pada suatu hari Harun Al-Rasyid lewat di pekuburan, dilihatnya Bahlul sedang duduk disana.


Berkata Harun Al-Rasyid kepadanya :


"Wahai Bahlul, kapankah kamu akan berakal/sembuh dari gila.. ?"


Mendengar itu Bahlul beranjak dari tempatnya dan naik keatas pohon, lalu dia memanggil Harun Al-Rasyid dengan sekuat suaranya dari atas pohon,


" Wahai Harun yang gila, kapankah engkau akan sadar....? ",


Maka Harun Al-Rasyid menghampiri pohon dengan menunggangi kudanya dan berkata : "Siapa yang gila, aku atau engkau yg selalu duduk dikuburan...?"


Bahlul berkata :


"Aku berakal dan engkau yang gila",


Harun : "Bagaimana itu bisa...?",


Bahlul : "Karena aku tau bahwa istanamu akan hancur dan kuburan ini akan tetap ada, maka aku memakmurkan kubur sebelum istana, dan engkau memakmurkan istanamu dan menghancurkan kuburmu, sampai- sampai engkau takut untuk dipindahkan dari istanamu ke kuburanmu, padahal engkau tahu bahwa kamu pasti masuk dalam kubur, maka katakan wahai Harun siapa yang gila di antara kita...?".


Bergetarlah hati Harun, lalu menangis dengan tangisan yang sampai membasahi jenggotnya, lalu Harun berkata : "Demi ALLAH engkau yang benar, Tambahkan nasehatmu untukku wahai Bahlul".


Bahlul : "Cukup bagimu Al-Qur'an maka jadikanlah pedoman".


Harun : "Apa engkau memiliki permintaan wahai Bahlul....? Aku akan penuhi".


Bahlul : "Iya aku punya 3 permintaan, jika engkau penuhi aku akan berterima kasih padamu".


Harun : "mintalah..."


Bahlul : 1. "Tambahkan umurku".


Harun : "Aku tak mampu",


Bahlul: 2. "Jaga aku dari Malaikat maut".


Harun : "Aku tak mampu",


Bahlul: 3. "Masukkan aku kedalam surga dan jauhkan aku dari api Neraka".


Harun : "Aku tak mampu".


Bahlul : "Ketahuilah bahwa engkau dimiliki (seorang hamba) dan bukan pemilik (Tuhan), maka aku tidak perlu padamu".


*Kisah ini dikutip dari kitab yang berjudul عقلاء ﺍﻟﻤﺠﺎﻧﻴﻦ "Orang-orang Gila Yang Berakal"


Tetapi kita menggunakan perkataan BAHLUL untuk mengatakan seseorang itu bodoh sedangkan ia adalah merupakan nama Ulama yang hebat.

Jadi berhati-hatilah dalam menggunakan kata. Jangan hanya meniru saja, tapi entah artinya apa , tak tahu. Bersambung ke Hikayat Bahlul 1


Jangan Lalaikan Panggilan Illahi

Assalamualaikum Wr.wb. Selamat Pagi.

Besok siang pukul 12.20 Wib  aku harus berangkat ke Makasar. Namun, karena kotaku jauh dari bandara, maka aku harus berangkat dari kota Garut tercintaku pukul 03.00 Wib. Padahal sebentar lagi subuh, tapi aku cukup dilema jika berangkat setelah subuh takut ketinggalan pesawat. Makanya aku berangkat sebelum subuh dan melaksanakan sholat subuh di bus. Namun, ketika di bus kita melaksanakan sholat, rasanya kurang afdhal. Tapi aku melaksanakan juga. ada ketakutan, wudhuku sebelum berangkat  sudah batal, sholatku tidak jelas bahkan khusupun agak sulit dilakukan. 

Perjalanan di hari Senin, cukup melelahkan. karena banyak para pekerja yang pulang kampung saat week end, malam ini berangkat kembali ke kota tujuan mereka bekerja. Sehingga, bus penuh, jalanan juga padat dan macet. 

Perjalananku menuju  ke Bandara Soekarno Hatta memakan waktu sekitar 8 jam jika lancar. Kini sudah pukul 9.30 Wib dan aku baru sampai Pasar Rebo. Ada gemuruh di hati,  ketakutan  ketinggalan pesawat, akan tetapi aku berusaha untuk sabar, Kucari taksi tapi tak ada yang menepi. akhirnya aku putuskan  naik damri jurusan Bandara soekarno Hatta. 

Dengan tergopoh-gopoh aku angkat tas dan kutarik koperku. Kutengok jalanan berulangkali, sambil berdoa dalam hati, semoga lancar dan selamat sampai tujuan. Duuh... ternyata jalanan arah bandarapun macet. Wajahku pucat pasi dan jantungku berdegup kencang. Bagaimana jika aku terlambat pesawat? Padahal aku bawa uang cuma Rp 3jt, itupun untuk bekalku di sana karena aku membawa anak bungsuku kemana-mana. Terbayang kan, jika 2 tiket angus?  hampir Rp 3 jt juga uangku melayang, dan jika uang buat bekal harus dibelikan tiket yang baru. Bagaimana buat bekalku nanti?

Dalam hati aku terus berdoa, berharap adanya keajaiban. Tiba-tiba, kondektur mendekatiku dan bertanya, "Ibu naik pesawat pukul berapa, jalanan macet takut tidak cukup waktu sampai di sana?,"tanyanya. 

Kubuka tiket pesawatku dan kulihat jika pukul 12.20 Wib, pesawat berangkat. Kondektur dan sopir menyarankan agar aku naik ojek saja, daripada menunggu macet jalanan dan tiket pesawat angus. Wajahku semakin pucat, dalam hati aku bingung, bagaimana aku membawa barang-barang sebanyak ini naik ojek, belum lagi anakku.

Tanpa berpikir panjang lagi aku menganggukkan kepalaku, dan sopir menepikan busnya dekat pangkalan ojek. 

Aku langsung bilang ke tukang ojek, jika aku diburu waktu harus cepat ke bandara. Satu orang ojek menyanggupinya dengan ongkos Rp 250 rb. Aku bingung dan tercengang mendengar tawaran ojek tadi. aku tawar, hingga akhirnya dia mau dengan harga Rp 150 rb, tapi aku mengajukan syarat agar dibawakan tas dan koperku sampai ke dalam. Karena takada pilihan lagi, daripada aku harus rugi Rp 3jtan, mendingan aku keluar uang Rp 150 rb untuk abang ojeknya. 

Perjalanan dengan ojek cukup cepat, karena bisa menerobos ke pinggiran kemacetan. Dengan waktu kurang lebih 20 menit, kami sampai ke Bandara Soekarno Hatta. Untungnya anakku tidak rewel, di usia yang masih balita, dia mengikutiku jalan tanpa lelah. Sepertinya dia tahu jika aku saat ini sedang tergesa-gesa dan gundah. Makanya dia tidak berani bermanja-manja. Sesuai perjanjian, uang aku berikan saat barang sudah diantarkan sampai ke troli di dalam bandara. Sesampai di dalam waktu sudah menunjukkan sekitar  pukul 12.00 Wib, karena tanpa kulihat jam di handphonekupun aku tahu, sebab alarm  adzan berkumandang.   Sesampainya di dalam,  barang langsung aku naikkan ke troli  dan kubayar tukang ojek tadi. Tanpa pikir panjang ketika sampai  depan tempat registrasi tiket,  aku langsung serahkan tiketku. pramugari bilang sudah tidak bisa. Aku rayu dia, dan mohon ada pertimbangan, toh pesawat belum tinggal landas, masih ada waktu 20 menit lagi. Namun,  semua penumpang sudah masuk pesawat, tinggal aku dan anakku. Aku berdoa semoga masih bisa ikut terbang  pesawat itu. Tak lama kemudian Pramugari mengumumkan jika pesawat jurusan Jakarta-Makasar delay 1 jam. Tanpa sadar, kuteriak alhamdulillah dan segera kuturunkan tas dan koper di troli itu. 

Namun, kejutan datang lagi, petugas troli meminta bayaran Rp 100 rb, dengan alasan barangnya banyak dan aku minta buru-buru, emosiku memuncak. Aku seperti dimanfaatkan dalam kondisiku yang sedang serba terburu-buru. Kubayar Rp 50 rb, sambil terus menggerutu. Petugas troli pergi dengan kesal, karena harapannya mendapatkan Rp 100 rb, hilang. Ta dan koper langsung aku serahkan ke bagian barang.

Aku setengah berlari menuju pintu pesawat jurusan Makasar, gadis kecilkupun ikut berlari. Beratnya tas gendong tak aku hiraukan. Kebahagiaanku telah melupakan segala kesulitan dan panggilan alarm handphoneku.  Sesampai pesawat, aku segera duduk dan mengunci seat belt ku dan anakku. Aku tak tahu seperti apa wajahku saat itu, yang kurasa wajahku panas, badanku panas dan lemas sekali. Aku ambil air mineral di tasku dan ku minum, kemudian aku beri minum anakku juga. Perutku mulai berbunyi, karena tadi tidak sempat sarapan dan makan siang. Namun, aku selalu bekal nasi di kotak nasi untuk anakku. kusuapin dia, dan dia makan dengan lahap sekali. Mungkin karena lapar, akupun sampai tertawa melihatnya. kelelahankupun hilang seketika, karena kelucuan gadis kecilku. Tak lama kemudian pramugari membawakan kami makanan dan minuman. Setelah kusuapin anakku, bergegas aku makan agar bertenaga kembali. setelah selesai makan, aku baru tersadar jika aku belum sholat dhuhur.

Duuh Gusti, ...maafkan hambamu ini. Hamba lebih takut tertinggal pesawat di bandingkan tertinggal panggilanmu. Aku menyesal sekali. Dalam hati aku bergumam, semoga sesampainya ke Makasar aku bisa langsung sholat dhuhur di jamak  sekalian ashar.

Pukul 13.20 pesawat lepas landas. tak lupa kubacakan doa  "Bismillahi majreha  wa mursaha, inna rabbi laghafufur rahim" yang artinya dengan menyebut  nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya, sesungguhnya Tuhanku benar-benar maha pengampun dan maha penyayang (Q.s Nuh:41).

Tak lama setelah pesawat tinggal landas, anakku tertidur. Mungkin karena kelelahan dan kekenyangan.  Begitupun aku, matakupun mulai sepet, mulutku mulai menguap berulang kali, dan akupun tertidur.

Aku terbangun saat alarm handphoneku berbunyi. Ternyata ashar telah tiba.  Kulihat keluar jendela, hanya hamparan lautan yang biru dan hutan yang hijau terhampar kecil-kecil. Duuh, aku belum sholat. Pesawat diperkirakan pukul 16.00 Wita sampai Makasar, perjalananku dari Bandara Sultan Hasanuddin ke Mess Kodam XIV Hasanuddin sekitar satu jam. Ya Allah, bagaimana aku melaksanakan sholatku.

Akhirnya aku sampai juga di Bandara Hasanuddin, aku segera menuju ke pengambilan barang, setelah itu menuju ke pintu luar. Rupanya suamiku telah menunggu di sana. Dengan terburu-buru aku ajak suamiku segera ke mobil. Dan kamipun menuju ke mess Kodam XIV Hasanuddin.  Benar saja, sesampai di rumah, waktu telah menunjukan pukul 16.45 Wita. Aku langsung ke kamar mandi kemudian mandi dan ganti baju setelah itu sholat dhuhur dan ashar. 

Ada rasa bersalah  kepada Allah Swt berkecamuk dalam dadaku. Karena, setelah Allah berikan beribu kenikmatan, dan Allah juga kabulkan doa-doaku, aku masih melalaikannya. Dimana bukti cintaku padamu Ya Allah, di saat engkau begitu sayang pada hambamu, ternyata hambamu masih melalaikanmu jua.

Setelah sholat, kami langsung makan sambil bercerita. Terutama anakku yang terlihat sangat antusias untuk menceritakan kisahnya selama perjalanan tadi. Suamiku sedikit marah, karena aku berangkat terlalu mepet waktu, padahal sudah tahu jika hari senin kemana-mana pasti macet.

Kubuka handphoneku yang sedari tadi tak aku hiraukan. Banyak pesan masuk diantaranya pesan di grup semangat subuh.  Kubuka dan kubaca perlahan.....

Jangan Lalaikan Panggilan Illahi  

kiriman Bapak Agus Eko

Beberapa bulan yang lalu saat saya sedang berada di tempat kerja, tiba-tiba datang seorang tamu yang kebetulan mencari salah satu staf di tempat saya kerja. Sebagai tuan rumah yang baik tentunya saya mempersilahkan tamu tersebut untuk masuk ruangan saya sembari menunggu kawan yang dicarinya.
Selang beberapa saat teman yang dicari tamu tersebut datang dan kemudian mereka berjabat tangan. Sembari mengerjakan tugas kantor yang menumpuk saya menangkap arah pembicaraan mereka. Ternyata mereka adalah Guru dan Murid. Si murid begitu antusias untuk berbagi pengalaman dengan gurunya yang sekarang ada di depannya. Sebut saja si guru adalah pak Amir dan si murid adalah si Anwar. Selang beberapa saat berbicara si anwar memohon ijin untuk melakukan sholat dhuzur. Kebetulan saat itu memang sudah masuk waktu sholat dhuzur.
Usai sholat, kemudian si Anwar masuk kembali ke ruangan Pak Amir. Pak Amir kemudian bertanya mengenai pekerjaan yang dilakukan si Anwar. Anwar menjawab “Alhamdulillah Pak, hasil usaha saya cukuplah untuk memberikan nafkah kepada istri dan anak saya”. Iseng saja saya bertanya, “memang apa mas kerjanya?”. Dia menjawab “hanya usaha warnet”. Pertanyaan kemudian saya lanjutkan, “memang ga rugi mas usaha warnet di saat seperti ini?”. Dia menjawab “Alhamdulillah, rejeki sudah ada yang atur kok”. Dia menyebutkan bahwa omset warnetnya perhari tidak pernah kurang dari 100 ribu.
Jawaban yang sedikit aneh di benak saya. Bagaimana mungkin di saat banyak usaha warnet yang ada dia bisa sampai dapat omzet sampe 100 ribu?. Obrolan berhenti disini.
Saat saya memandang wajahnya, tampak bekas sebuah luka di keningnya. Kemudian saya coba bertanya mengenai luka yang ada di keningnya. Dia menjawab akibat kecelakaan yang dialaminya. Ceritanya begini.
Siang itu dia dari Surabaya hendak ke Malang karena ada suatu urusan. Sampai di daerah pandaan – Pasuruan, dia mendengar suara adzan dzuhur sudah berkumandang. Sempat dia mengucapkan kalimat “sebentar ah, nanggung, nanti sekalian sholat dzuhur di Malang. Mumpung jalanan sepi dan tidak macet”. Selang beberap menit kemudian dia mengalami kecelakaan. Mobil yang dikendarainya menabrak sepeda motor yang tiba-tiba berhenti di depannya. Akhir cerita akhirnya dia berurusan dengan pihak berwenang apalagi si korban meninggal dunia. Sempat dia mendekam di tahanan gara-gara kasus kecelakaan tadi.
Akhir cerita, untuk menyelesaikan permasalahan kecelakaan tadi dia menghabiskan dana tidak kurang dari 90 juta. Selain untuk menyantuni keluarga si korban kecelakaan, uang tersebut juga digunakan untuk menebus kendaraan yang ditahan sebagai barang bukti. Coba anda bayangkan seberapa banyak uang tersebut. Namun si anwar sangat bersyukur karena dia hanya kehilangan 90 juta.
Mendengar penuturannya saya hanya bisa menghela nafas panjang. Kemudian anwar melanjutkan ceritanya. Ternyata dia melakukan satu kesalahan fatal dan pada akhirnya dia mengalami kecelakaan tersebut. Gara-gara dia menunda waktu sholat dzuhur di perjalanan. Lalu saya bertanya, memang salah ya menunda waktu sholat apalagi sedang dalam perjalanan?
Anwar menjawab “Mas... jika anda memanggil anak anda satu kali kemudian anak anda datang, apakah anda senang atau marah?”. Saya menjawab “senang”. Lalu dia bertanya kembali “kalo anda memanggil anak anda tetapi si anak bilang, sebentar yah, masing sibuk neh, bagaimana perasaan anda?”. Saya jawab lagi “ya kesel mas, masak anak dipanggil bapaknya malah ngasih tempo waktu”.
Kemudian si Anwar kembali bertanya kepada saya “Jika Allah SWT yang memanggil anda, untuk segera menunaikan sholat, melalui kumandang suara adzan dan anda tidak segera datang, kira-kira Allah SWT bagaimana ya mas?”
Saya tidak sanggup menjawab pertanyaan tersebut, karena faktanya selama saya bekerja, meskipun terdengar suara adzan, saya selalu tidak sholat tepat waktu”. Lalu saya bertanya kepada anda para pembaca “Jika Allah SWT yang memanggil anda, untuk segera menunaikan sholat, melalui kumandang suara adzan dan anda tidak segera datang, kira-kira Allah SWT bagaimana ya?” 

Ya, Allah..postingannya makcleb banget...aku terasa ditampar disiang bolong...semoga ini menjadi cambuk bagiku ke depannya agar bisa selalu melaksanakan sholat tepat waktu. aamiin 

 

Korban Teknologi Digital

Buah karya Lilis Ernawati

 

Denting jam berbunyi takada yang peduli

Jari-jari mungil terus berayun memainkan iramanya

Panggilan Illahi seakan tak berarti

Semua terlupakan oleh satu teknologi

Gawai,…handphone, internet, kuota,tiktok

Whatsapp,telegram, instagram, youtube

Hanya itu,…..itu…dan itu…saja yang terngiang di telinganya

Lupa makan, lupa mandi..lupa belajar,lupa sholat

Lupa segalanya..

Lupa,….

Lupa,…

Lupa,….

Dan akhirnya perlu penanganan jiwa,….karena lupa

Hendak kemana generasi muda kita akan dibawa

Hendak kemana masa depan bangsa kita akan diserta

Moral anak bangsa sedang dikoyak-koyak oleh kemajuan zaman

Nasehat orangtua sudah tidak mempan disampaikan…

Menangis bukan satu penyelesaian…

Mengikut arus zaman bukan suatu harapan

Namun kita orangtua saat ini

Seakan dalam masa perjuangan

Berjuang menyelamatkan jiwa-jiwa yang terkoyak oleh gawai

Berjuang mengembalikan moral-moral kehidupan dan kemanusiaan

Tadahkan tangan kembalikan pada sang penguasa alam

Yang mampu membolak balikkan harapan dan kenyataan

                                                                                                                                                     

                                                                                                  Garut, 13 November 2021
















Sabtu, 11 Desember 2021

Merawat Cinta Bersama Pasangan Sampai Ke Sorga-Nya

 Kamis, 9 Desember 2021

Judul  : Merawat cinta bersama pasangan sampai ke sorga-Nya

Moderator    :  Riri Sulaiman

Narasumber  : Dr Aisyah Dahlan, CHt.CM.NLP


Bismillahirohmanirohim

Assalamualaikum Wr.Wb.

Siang ini aku duduk sendiri, iseng kubuka photo-photo kenanganku bersama suami. tak terasa sudah mau 24 tahun kami bersama.  Tak pernah sedikitpun terbias dalam benakku suatu saat akan bersuamikan seorang anggota TNI. Kupandangi photo-photo kenangan itu, selalu ada doa dan harapan agar kami bisa selalu sehat, bahagia dan bersama hingga jannah-Nya. aamiin yra. semoga Allah mengabulkan doa-doaku. 

Kubuka kembali siaran ulang ceramah Doktor Aisyah yang isinya makcleb banget, dan dapat dijadikan sebagai pembelajaran baik bagi suami maupun istri agar bisa saling mengerti.


Sengaja kutulis ceramah Dr.Aisyah di blogku, agar sewaktu-waktu  saat aku bahagia, tersinggung ataupun marah, kubaca tulisan ini,  aku bisa sadar lagi, jika aku menikah dan hidup bersama, bukan dengan orang yang sejenis, segender, sehoby, ataupun secita-cita. Namun, kami dua makhluk yang berbeda yang disatukan oleh cinta dan kasih sayang yang tulus semata-mata karena Allah Swt dan Takdir yang telah tergariskan.

Karena andai cinta yang  kita berikan pada makhluk yang sejenis, maka akan cepat menimbulkan kebosanan walaupun mungkin cepat akur lagi. Karena dengan perbedaan itulah, kita merasakan adanya getaran rasa yang sulit dimengerti, gejolak cinta dan panasnya api asmara yang membuat darah kita terasa mendidih serta rindunya kalbu untuk bertemu melepas rindu. Seperti yang telah Allah katakan dalam surat Ar-Rum ayat 21 

Sebelum saya membahas panjang lebar tentang resume ceramah Ibu Aisyah ini, saya sampaikan dulu arti dari cinta, agar kita bisa memahami kemana arah tujuan pembicaraan kita. 

Cinta adalah pikiran dan perasaan, yang memperhatikan, menyukai, menyayangi secara mendalam dan penuh kasih sayang sehingga mau melakukan apa saja untuk orang yang dicintainya. Namun, dalam hal ini yang kita lakukan tentu saja kebaikan di jalan Allah.

Rasa cinta  adalah perasaan yang bisa dirasakan oleh semua orang  mulai dari bayi, anak-anak, remaja hingga dewasa bahkan lanjut usia. Seperti yang Allah katakan dalam salah satu ayatnya yang menjelaskan jika manusia itu menyukai keindahan dan kesenangan.



Manusia memiliki otak besar dan otak kecil yang di dalamnya terdapat berbagai macam masalah kehidupan. 



Setelah diteliti ternyata di dalam otak terdapat hormon yang penuh kasih sayang dan cinta yang letaknya persis di tengah otak. hormon itu bernama :

1. Hormon Dopamine yaitu hormon perpaduan semuanya sehingga memiliki banyak sifat

2. Hormon Oxitocin ialah hormon yang penuh cinta

3. Hormon endorphins yaitu hormon yang membuat nyaman dan memiliki morphin alami

4. Hormon serotonin ialah hormon yang mencakup segala hal yang sedang dialami



Cinta itu seperti tanaman yang perlu adanya perawatan, perlu dipupuk dan disiangi jika banyak rumput yang mengganggu pertumbuhannya. 

 Lalu bagaimana cara merawat cinta?

Cinta akan semakin terasa dan tumbuh dengan baik di hati kita jika terus dipupuk dengan kebersamaan, dengan sentuhan, dengan ungkapan dan dengan kejutan-kejutan yang mungkin bisa membuat kita deg-degan karena adanya kebahagiaan, ketegangan, kesalahpahaman ataupun perbedaan. Dari sini cinta akan diuji dan  jika lulus maka akan tumbuh semakin dalam.



Diakui atau tidak, biasanya sepasang suami istri, setelah mengalami masa-masa ketegangan karena perbedaan pendapat/kesalahpahaman ,  suka merasa  lebih rindu, bahkan menjadi semakin romantis. Hal ini terjadi karena dalam tubuh kita terdapat sifat binatang mamalia dan reftilia yang membawa emosi positif dan negatif.

Allah Swt, dalam kitabnya telah memberikan tips-tips dalam merawat cinta  pasangan yang dicontohkan Nabi Muhammad Saw, dan telah diujikan oleh para ahli zaman sekarang. Tips tersebut antara lain :

1. tidak mencari siapa yang jadi pemenang. 

Saat terjadi salah paham, jangan sekali-sekali mencari siapa yang menang dan yang kalah, karena dua-duanya akan merugi jika itu yang terjadi. namun selesaikan masalah dengan hati dingin dan sama-sama mengalah.

2. Mengubah Posisi

Rosulullah Saw bersabda," apabila kalian marah, dan  dia dalam posisi berdiri hendaklah dia duduk, dengan itu  marahnya  akan reda. (H.R. Ahmad dan Abu Daud
maksud sabda Nabi Muhammad Saw tersebut adalah, jika kita sedang marah-marah dalam posisi berdiri, hendaknya segera duduk dan ucapkan istigfar. karena ternyata, saat posisi badan kita lebih dekat ke bumi, gaya gravitasi ketenangannyapun semakin dekat. lalu perbanyak istigfar. Namun,  jika masih tetap emosi, maka rebahkanlah dan terus beristigfar. Jangan sekali-sekali ingin menyelesaikan masalah saat kita emosi, sebab  masalah bukannya akan selesai, yang ada malah semakin membara emosinya. Istigfar merupakan salah satu cara manusia dalam menyelesaikan masalahnya, baik itu masalah kesalahpahaman, masalah rejekinya, maupun masalah keilmuannya. Dengan semakin banyak kita beristigfar, semakin mudah pula Allah memberikan jalan. Hal inipun telah diteliti oleh ilmuwan saat ini dan hasilnya, apa yang Allah katakan dalam Al-Quran ternyata benar menurut penelitian  ilmuwan yang bernama Lisa Early McLoad yang mengatakan bahwa jika kita sedang marah/emosi, maka tidurkanlah agar saat terbangun pikiran kita menjadi tenang.



Namun kadang yang namanya manusia tidak sabaran, sehingga sering mengeluh dan suudzhon kepada Allah dan mengatakan,"sudah istigfar banyak-banyak, lama dan capek, masalahnya tidak selesai juga." keluhan seperti ini, merupakan keluhan ketidakpercayaan kita sebagai makhluk kepada Sang pencipta. Rasulullah Saw pun pernah bersabda bahwa :

Padahal mungkin Allah tidak segera menyelesaikan masalahnya memiliki tujuan yang lebih baik lagi.  Maka alangkah lebih baiknya jika kita sudah banyak istigfar, namun belum terpenuhi hajat kita, kita ucapkan, "alhamdulillah saya sudah bisa beristigfar lebih sering lagi, walaupun hajat saya belum terpenuhi, masih kesal dan emosi, namun hati saya lebih tenang, karena yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk saya." Seperti sabda Nabi Muhammad Saw yang dikisahkan oleh HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Hakim dan Baihaqi.


3. Tenanglah dan berikan sentuhan/kontak fisik

Sentuhan/kontak fisik merupakan salah satu cara meredam kemarahan, karena saat kita bersentuhan, akan ada kenyamanan  dan ketenangan. Saat kita kontak fisik, hormon akan keluar pelan-pelan melalui pembuluh darah masuk jantung, jantung memompa darah ke seluruh tubuh dan saat tubuh merasa nyaman, barulah bereaksi. Hal ini berlaku baik bagi suami ataupun istri.
makanya bagi seorang suami, jika istri sedang marah meledak-ledak atau menangis karena kesal, segeralah peluk, memang awalnya biasanya akan menolak, akan tetapi lama kelamaan, saat rasa nyaman mulai datang, maka istri akan tenang. Saat itu, tak usah ditanyakan lagi permasalahannya, anggap semuanya sudah selesai. Hal ini akan membuat semua kekesalan dan emosi menjadi hilang. makanya baik suami maupun istri saat gundah gulana, sangat memerlukan sentuhan fisik untuk menenangkannya. Seperti yang dikatakan oleh seorang ilmuwan terapis pernikahan dan keluarga bernama Melody Brooke bahwa ada kalanya memaksakan untuk mendiskusikan masalah yang memicu terjadinya konflik tidaklah membantu


Saat kontak fisik/bersentuhan, kelenjar pituitery yang berisi hormon cinta dan kasih sayang, menyebar melalui pembuluh darah, sehingga terasa rileks , nyaman dan tenang. 
apa sih yang terjadi saat sepasang suami istri berpelukan? 


Saat sepasang suami istri berpelukan maka yang terjadi adalah sistem syaraf mulai bekerja seperti listrik namun bekerjanya menggunakan indra penglihatan, pendengaran, penciuman,  perabaan dan perasaan. Saat  indra penglihatan melihat pasangan memberikan kejutan dan kebahagiaan atau kesedihan, maka syaraf langsung bereaksi, begitupun saat indra yang lainnya berfungsi, maka akan terjadi reaksi. Karena biasanya laki-laki mengeluarkan hormon testosteron sedangkan perempuan estrogen testosteron, maka jangan kaget jika laki-laki sulit sekali tersenyum dibanding  perempuan yang lebih ekspresif, atau laki-laki lebih suka akan barang kesayangannya dibanding melihat istrinya yang sudah cantik berdandan. Oleh karena itu sebagai seorang istri, jika hendak bertemu suami, biasakan baca basmallah, senyum yang manis, tahan agak lama, karena suami biasanya akan loading dulu untuk bisa bereaksi membalas senyum sang istri, mungkin bisa terjeda beberapa menit untuk mendapatkan reaksi senyum suami. 
Tubuh manusia ini seperti untaian kabel listrik yang memerlukan aliran listrik. aliran listrik akan masuk jika telah di charge dengan baik. Jadi saat baterai penuh maka tubuh menjadi tenang. bagaimana caranya agar menjadi tenang? buatlah qolbunya/hatinya  menjadi nyaman agar detak jantungpun berasa normal, seperti motto di bawah ini, bahwa "saya mencintai suami /istri saya semata-mata karena Allah" oleh karena itu segala sesuatunya akan terasa ikhlas.

Berbeda halnya dengan gambar di bawah ini, yang menggambarkan kekesalan, kemarahan, ketakutan dan kesedihan, maka yang terjadi adalah kelenjar Adrenal mengeluarkan hormon stres  (adrenakin, oksitosin dan norefinefrin) yang letaknya berada di atas ginjal.


4. Berempati

Sebagai pasangan yang baik, sudah sepatutnyalah kita ikut merasakan apa yang pasangan kita rasakan karena dalam Al-Baqoroh ayat 187 dijelaskan "Mereka para istri adalah pakaian bagi kalian para suami, juga kalian pakaian bagi mereka."Oleh karena itu sudah sewajarnya jika sebagai pasangan yang baik jangan suka mengumbar kekurangan dan kejelekan pasangan kita.

Teori Baterai Cinta

Apa sih baterai cinta? baterai cinta adalah sesuatu yang dapat menguatkan cinta. ada berapa baterai cinta itu? ada lima. apa fungsinya? fungsinya untuk tetap menjaga kesinambungan rasa cinta


Cinta itu seperti baterai, jika lama tidak di charge, maka akan lemah dan kemudian lowbat, oleh karena itu sudah seharusnya baterai cinta itu di charge.  Bisa terlihat jika baterai cinta sudah lemah, pasti cemberut, gampang marah, uring-uringan. Oleh karena itu usahakan kalau tidak tiap hari yah...minimal seminggu tiga kali, agar pasangan tidak uring-uringan, marah-marah atau cemberut.Selain itu baterai jika kelamaan tak dicharge bisa terjadinya penyimpangan dalam kehidupan. Biasanya saat seperti ini batang otak yang mengandung hormon reftil sedang tegang, oleh karena itu banyakin istigfar, banyakin menyebut nama Allah, karena saat kita istigfar, tanpa sadar, kita sebenarnya sedang mengeluarkan karbondioksida secara perlahan dan menghirup oksigen baru untuk mengganti ruang kosong diotak, yang awalnya dipenuhi dengan amarah, maka perlahan akan pudar dan semakin banyak menyebut nama Allah, semakin penuh kasih sayang diotak kita, maka saat itu batang otak mulai mengendur dan sifat mamalia menguasai otak.




Oleh karena itu sebagai seorang muslim dibiasakan ucapan bismillah saat akan mengawali semua hal, agar sebelum melaksanakannya hormon kasih sayang akan segera hadir. kalau kalimat cinta  ke sistem saraf cepat sekitar 320 km/jam tapi kalau hormon ke pembuluh darah lambat, karena kalau cepat akan langsung pingsan.

Bahasa kasih sayang adalah cara mengungkapkan kasih sayang. Itu bisa dilakukan dengan 

1. kata-kata pendukung, misalnya aku mencintai kamu, aku menyayangi kamu dll. saat hal itu dilakukan, maka otak kita akan semakin dipenuhi rasa cinta

2. waktu bersama, walaupun sudah menikah, usahakan selalu ada waktu untuk bersama, bercanda, sekedar ngopi bareng atau ngebakso bareng, atau makan bareng, hal ini akan semakin menguatkan cinta di hati kita

3. sentuhan fisik, ini wajib banget. karena dengan sentuhan fisik, walau sekedar belaian rambut atau ciuman kening, itu dapat mempererat rasa cinta. apalagi jika hingga di charge setiap hari atau minimal seminggu tiga kali, bisa semakin mempererat kasih dan sayang

4. pelayanan, sudah sewajarnya sebagai sepasang yang mencintai, saling melayani dan memenuhi kebutuhannya, walaupun sekedar menyiapkan segelas air putih atau sepiring nasi, itu sudah membuat hormon kasih sayang dan cinta meningkat

5. menerima hadiah, kejutan-kejutan kecil seperti hadiah lucu atau buah tangan bisa juga menjadi jalan meningkatkan rasa cinta. jadi takada ruginya jika memberikan kejutan hadiah di ulangtahunnya atau di hari pernikahannya.


itu baterai-baterai cinta yang dapat di charge sesuai dengan keinginanya. tapi setiap orang memiliki keinginan yang berbeda-beda.  Seperti yang tergambar dalam Ar-Rum ayat 22 yang berbunyi:


kadang tidak semua pasangan suka dengan pelayanan, atau ada pasangan yang tidak pernah memberikan hadiah. Seperti halnya saya lebih suka dengan sentuhan fisik, karena dengan sentuhan fisik, lebih terasa kasih sayang dan cintanya sehingga baterai cintanya cepat penuh. bagaimana dengan anda? 





Senin, 06 Desember 2021

7 Strategi Promosi Buku Biar Jadi Best Seller

7 STRATEGI PROMOSI BUKU BIAR JADI BEST SELLER


Grup                    :     Pelatihan Belajar PGRI

Resume                :    28

Gelombang          :    21

Tema                     :    Teknik Promosi Buku

Judul                     :  7 Cara Promosi Buku Biar Jadi Best Seller

Moderator            :  Dail Ma'ruf

Narasumber        :    Akbar Zainudin



Senin, 6 Desember 2021

Ini adalah hari pertama saya menulis di blog. atas bimbingan Om Jay dan Om Brian saya beranikan diri untuk menulis. selain untuk menyalurkan hobby, saya berharap dengan menulis  bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki, walau belum seberapa. Namun saya yakin, jika  kita mau berbagi pasti berguna buat rekan-rekan. Dengan berbagi  ilmu kita  akan menjadi lebih bermanfaat dibandingkan jika kita  pendam.

Ditemani oleh dinginnya kota dodol, dan secangkir susu coklat,  disela-sela istirahatku dari semua aktivitas rumah tangga dan rutinitasku ke sekolah, aku beranikan membuat resume  materi yang disampaikan oleh Bapak Akbar Zaenudin tentang "7 Strategi Pemasaran Buku".

diawali dengan salam dan sapaan sahabat manjada wa jada dari Bapak Akbar Zaenudin, yang mengisi acara kamis menulis. Pak Akbar Zaenudin pada kesempatan ini membahas tentang  Strategi Pemasaran Buku

Ini menarik,  karena jadi penulis ternyata tidak hanya dituntut menulis tetapi diharapkan bisa membantu proses pemasaran agar bukunya laku. karena kalau tidak laku,  sayang, udah capek-capek menulis,  kurang manfaatnya. karena dengan laku lebih banyak orang mendapatkan manfaat dari buku itu lebih banyak pula. Oleh karena itu kita harus  yakin  dengan menjual buku, apa yang mereka dapatkan lebih banyak manfaatnya dibanding dengan apa yang mereka  keluarkan. Jadi jangan ragu berjualan buku. yakinlah

Bapak Akbar Zaenudin memperkenalkan buku yang berjudul UKTUB  panduan   lengkap menulis buku dalam 180 hari. Dalam  buku  ini terdapat panduan menulis dari A sampai Z. dan ada pula 150an alamat penerbit yang bisa dikirimi naskah, anggota IKAPI.  Bapak Akbar  Zaenudin akan membahas salah satu Bab dalam buku berjudul UKTUB yaitu tentang  proses pemasaran buku. 

STRATEGI PEMASARAN BUKU

Strategi pemasaran buku terdiri dari empat hal, yang biasa disebut sebagai 4P, yaitu 

1. Product (Strategi Produk)

2. Price (Strategi Harga)

3. Place of Distribution ( strategi Distribusi)

4. Promotion ( strategi Promosi)

Pertama untuk strategi  produk, dilihat  produknya seperti apa, bukunya seperti apa; kedua untuk strategi harganya, karena ini menentukan; ketiga strategi distribusinya, didistribusikan kemana saja dan  keempat strategi promosinya bagaimana.

1. Strategi produk

Seorang penulis, sebelum  menulis tentukan target audiens atau pembaca kita siapa, laki-laki, perempuan, anak-anak, dewasa, remaja ataukah orangtua. Karena strategi untuk tiap segmen berbeda-beda. misalnya strategi pembaca anak-anak  tentu saja berbeda dengan strategi untuk remaja, demikian juga untuk orang tua.  jadi sebelum kita menulis tentukan dulu buku kita untuk siapa dan dari segi life stylenya, kebutuhannya untuk apa,  misalnya untuk anak  berwarna, banyak ilustrasi gambar biar menarik, tulisannya gede-gede, lucu, bergambar imajinatif; untuk remaja berisi motivasi-motivasi, format bukunya lebih  funky, enak dilihat dan tidak standar, tidak resmi/formal covernya, bentuknya macam-macam. jadi disesuaikan dengan kebutuhan audien atau pembaca. oleh karena itu Pak Akbar Zainudin lebih suka membuat buku sesuai dengan target life stylenya misalnya Manjada Wa Jada untuk Penulis, Manjada wa Jada untuk Guru, Manjada Wajada untuk remaja dll. sebaiknya ini domainnya,  domain penerbit  penerbit yang paham, tahu segmennya untuk siapa, sehingga tahu tujuan audiennya, tapi kita sebagai penulis memberi masukan kepada penerbit tentang segmen yang diambil, kebutuhan mereka apa, dan perhalamannya seperti apa sehingga menimbulkan interaksi dengan pembaca


2. Strategi Harga. 

strategi harga adalah penentuan nilai buku di pasaran. Harga ada  jenis yaitu  harga umum dan harga premium. Harga umum itu harga wajar seperti harga buku lain-lainnya dengan  standart harga antara Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu,   tapi ada juga beberapa buku dijual premium itu harganya bisa hingga Rp 150 ribuan tapi laku, mengapa? karena menyesuaikan dengan kebutuhan pembaca. Karena  banyak orang yang membaca buku ingin memiliki buku dengan kualitas baik, bahkan ada yang sekedar gengsi karena bisa membeli buku yang mahal atau ingin buku yang dibelinya terlihat lux sehingga enak untuk dibacanya. Harga buku bisa dijual lebih mahal jika mempunyai nilai tambah dibandingkan dengan buku-buku yang lain. Misalnya hard cover, ditambah bonus-bonus (voucher seminar, workshop, dan lain-lain). Padahal sebuah buku yang penting kualitasnya baik, maka buku umumpun bisa   masuk ke harga premium.

3. Strategi Distribusi

Distribusi sebenarnya merupakan domainnya penerbit, kita hanya menerima saja. Distribusi  secara umum dibagi menjadi dua: distribusi tradisional dan distribusi non tradisional. Distribusi tradisional adalah melalui toko-toko buku, baik toko-toko buku jaringan nasional maupun toko buku lokal.Sedangkan distribusi non tradisional, di antaranya adalah: 

a. Melalui MLM (Multilevel Marketing) melalui agen-agen

b. Melalui Penjualan Langsung,  baik door to door maupun lewat online, fb, instagram dll

c. Melalui Marketplace/e-Commerce (Lazada, Bukalapak, Tokopedia, Shopee, dll).

4. Strategi Promosi

Promosi dilakukan bersama antara penerbit dan penulis, tujuannya agar saling mengenal, kemudian tertarik dan setelah itu mau membeli.  Beberapa program promosi yang bisa dilakukan diantaranya : 

a. Launching buku

Launching buku adalah program untuk meluncurkan buku baru. Bisa di aula, masjid, lembaga pendidikan, hotel, di mana saja. Yang mengadakan bisa penerbit maupun penulis. Yang membiayai launching buku siapa? Bisa penerbit, bisa penulis. Kita perlu meyakinkan penerbit kalau buku kita akan laku, karena itulah mereka perlu menyelenggarakan program launching buku. Kalau di Gramedia, di toko-toko buku mereka ada tempat untuk launching buku. Kita bisa memanfaatkan tempat ini. Jadi kita promosikan acaranya, tempatnya di toko buku Gramedia. 

b. Bedah Buku. 

Bedah buku adalah acara diskusi untuk membedah isi buku kita. Bedah buku ini bisa secara online maupun offline. Offline artinya kita menyelenggarakan bisa bekerjasama dengan berbagai lembaga. Lembaga pendidikan, perpustakaan, majlis taklim, masjid, dan sebagainya. Pokoknya, di semua tempat dan situasi yang memungkinkan, kita tawarkan bedah buku. Berapapun yang hadir, kita selenggarakan terus menerus. Apalagi sekarang ini eranya digital. Bukan berapa orang yang hadir yang penting, tetapi direkam lalu diupload di Medsos acara kita. InsyaAllah akan semakin membuat orang mengenal kita.Yang lebih mudah sekarang ini adalah bedah buku secara online. Kita undang orang-orang untuk ikut acara bedah buku bersama kita. Bisa di FB, IG, WA Grup, Zoom, dan sebagainya. 

c. melakukan seminar ataupun workshop sesuai dengan tema buku kita. 

Seminar atau workshop ini, pertama-tama bolehlah dilakukan gratis. Karena target kita adalah mengenalkan buku kepada para peserta. Lakukan secara kontinu, misalnya sebulan sekali. Kalau misalnya bisa offline, laksanakan di sekolah misalnya. Kalau tidak bisa offline, lakukan secara online. Bisa via WA, Zoom, FB, IG, dan sebagainya. 

d. Membangun komunitas. 

Komunitas yang kita bangun adalah komunitas yang kita sesuaikan dengan tema buku kita. Kalau buku kita temanya motivasi, maka kita tuliskan buku-buku tentang motivasi. Buku tentang guru, maka bangun komunitas guru. Buku tentang menulis, bangun komunitas menulis. Buku tentang Ice Breaking, bangun komunitas Ice Breaking. Buku tentang bahasa, bangun komunitas bahasa. Komunitas membuat kita lebih dekat dengan pembaca sehingga memudahkan kita untuk menawarkan mereka dalam membeli buku. Komunitas, ada komunitas guru, menulis, santri, remaja, bisnis, dan sebagainya. Semua komunitas itu ada bukunya. Kita bisa share materi-materi yang ada di buku secara berkala bisa melalui WA, telegram atau sesekali adakan seminar dan zoom, misalnya seminggu sekali, sehingga anggota komunitasi ini mendapatkan manfaat. 

e. membangun jaringan reseller. 

Reseller adalah orang-orang yang mau menjualkan buku kita dan mendapatkan buku dari hasil yang terjual. Kita berikan 20-30 % komisi dari harga jual. Misalnya harga jual buku kita Rp 100.000, kita kasih Rp 20rb s.d Rp 30rb, kita berikan materi-materi yang terkait buku kita, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk menjual.Sebagai contoh, Dewa Eka Prayoga, berhasil menjual 10.000 buku hanya dalam waktu 2 minggu melalui reseller ini. Tentu resellernya saja puluhan ribu, berbagai produk. Kalau kita sudah punya jaringan reseller, akan memudahkan kita menjual buku. 


f.  jualan di marketplace. 

Buka toko di marketplace (Lazada, Shopee, Bukalapak, Tokopedia, dan sebagainya). Membuka toko di marketplace akan meluaskan promosi dan distribusi kita.  Yang penting keberadaan kita dan buku kita ada. Itulah pentingnya ada di marketplace. Jadi kalau ada orang mencari judul buku kita, bisa ditemukan.

g. memanfaatkan media sosial (Medsos) untuk promosi buku. 

Manfaatkan sebaik-baiknya followers dan subscriber dengan memberikan informasi tentang buku. Setiap hari, kita buat status terkait tema buku yang kita tulis, sehingga orang semakin paham dengan buku yang kita tulis. Dan jangan setiap hari isinya jualan. Lebih banyak sharing-sharing, baru selling. Lebih banyak memberikan pengetahuan kepada para pembaca sehingga mereka merasa ada manfaat menjadi followers kita. Sharing-sharing apa saja, kalau perlu sesuai dengan kebutuhan mereka. Sehingga setiap hari, semakin lama akan semakin ada ikatan dengan pembaca. Kalau sudah begitu, akan memudahkan kita dalam proses memengaruhi pikiran orang dalam membeli buku.

Jadi, pada dasarnya kita ini memengaruhi orang agar mereka mau menjadikan buku sebagai kebutuhan utama. Dan memang, membaca akan banyak membuka wawasan, pengetahuan, dan pilihan dalam mengambil keputusan. Dengan bersama-sama membangun kebutuhan akan membaca, maka akan memudahkan kita dalam proses menjual buku.


fiorentia viviane lesmana